Jakarta, tvOnenews.com - Rusia dan Ukraina sama-sama melaporkan adanya serangan siber yang menyasar aplikasi seluler peringatan darurat milik masing-masing negara pada Senin (2/11/2026) pagi waktu setempat.
Kejadian ini menambah ketegangan hubungan kedua negara, terlebih setelah periode gencatan senjata terpanjang dalam konflik Rusia-Ukraina resmi berakhir.
Dilansir dari Anadolu, Selasa (3/11/2026), Kementerian Penanggulangan Darurat Rusia mengungkapkan bahwa aplikasi peringatan darurat mereka mengalami "serangan siber berskala besar".
Pelaku diduga memanfaatkan sistem tersebut untuk menyebarluaskan pemberitahuan palsu mengenai ancaman serangan drone dan berbagai potensi bahaya lainnya kepada masyarakat.
Sebelum laporan Rusia muncul, Ukraina juga mengumumkan adanya dugaan pembobolan terhadap sistem peringatan serangan udara.
Dikutip dari The Nation, peristiwa itu diketahui setelah aplikasi Air Alert menampilkan pemberitahuan keliru berupa pesan berbahasa Rusia mengenai ancaman radiasi yang sebenarnya tidak berdasar.
Padahal aplikasi tersebut menjadi salah satu sarana penting bagi masyarakat Ukraina untuk menerima informasi mengenai potensi serangan udara yang disebut berupa rudal Oreshnik maupun ancaman keamanan lainnya.
Menanggapi kejadian tersebut, Pusat Komunikasi Strategis Ukraina mengingatkan warganya supaya lebih berhati-hati dalam menerima informasi. Masyarakat diminta tidak membuka tautan mencurigakan dari pihak yang tidak dikenal serta menghindari penyebaran kabar yang belum dipastikan kebenarannya.
Serangan Siber Terjadi Usai Gencatan Senjata BerakhirInsiden peretasan ini berlangsung di tengah situasi konflik yang kembali memanas setelah gencatan senjata di wilayah Kherson, Ukraina bagian timur, berakhir pada Minggu (1/11/2026). Kesepakatan yang dimulai pada 27 Oktober tersebut menjadi periode penghentian pertempuran terpanjang antara kedua pihak.
Namun, Rusia sebelumnya menolak usulan Ukraina untuk memperpanjang masa gencatan senjata tersebut. Komisaris Parlemen Ukraina untuk Hak Asasi Manusia, Dmytro Lubinets mengatakan, "Gencatan senjata yang berlaku dari 27 Oktober hingga 1 November telah berakhir."
Ia menilai kesepakatan sementara itu merupakan bagian penting dari upaya kemanusiaan yang melibatkan Rusia dan Ukraina.
Sementara itu, Rusia belum secara terbuka menunjuk pihak tertentu sebagai pelaku serangan siber. Sebaliknya, Pusat Komunikasi Strategis Ukraina (SPRAVDI) menuding Moskow berada di balik peretasan aplikasi peringatan darurat milik negaranya.




