PBB Peringatkan Krisis Kemanusiaan di Yaman, Harga Pangan Melonjak Tajam

metrotvnews.com
5 jam lalu
Cover Berita

Sanaa: Kepala urusan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Tom Fletcher memperingatkan bahwa warga sipil Yaman menanggung dampak paling berat dari konflik yang semakin meningkat, dengan hampir 300.000 orang dilaporkan mengungsi sejak Agustus lalu.

"Warga sipil Yaman harus membayar harga yang sangat berat akibat konflik yang semakin meningkat ini," kata Fletcher melalui platform media sosial X yang dikutip Anadolu, Selasa, 3 November 2026.

Fletcher mengatakan sejumlah jalan ditutup dan persediaan kebutuhan pokok mulai menipis di Kota Taiz yang terkepung. Kota tersebut dihuni sekitar satu juta orang.

Produksi air di Taiz dilaporkan turun hingga separuh, sementara harga pangan melonjak sedikitnya 50 persen. Rumah sakit juga mulai kehabisan bahan bakar dan obat-obatan, menurut Fletcher.

Ia mengatakan telah berbicara dengan Menteri Luar Negeri Yaman Afrah Abdulaziz Al-Zouba mengenai krisis tersebut. Mitra-mitra kemanusiaan PBB telah menjangkau hampir 260.000 warga yang mengungsi, tetapi kebutuhan di lapangan terus melampaui kapasitas bantuan yang tersedia.

"Permintaan kami jelas. Buka jalan dan biarkan bantuan masuk. Warga sipil tidak boleh dijadikan sandera oleh pertempuran," ujar Fletcher. PBB Desak Pembebasan Staf yang Ditahan Houthi Fletcher juga menyampaikan kemarahan atas kematian Mohammad el Shami, staf Kantor Hak Asasi Manusia PBB di Yaman, saat berada dalam tahanan kelompok Houthi.

Ia mengatakan sebanyak 70 staf PBB dan puluhan pekerja kemanusiaan lainnya masih ditahan.

"Mereka bukan alat tawar-menawar. Bebaskan mereka," kata Fletcher.

El Shami bekerja untuk Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR). Ia ditahan secara sewenang-wenang oleh kelompok Houthi sejak 6 Juni 2024 dan menjadi staf PBB kedua yang meninggal dalam tahanan kelompok tersebut.

Sebelumnya, Ahmed Ba'alawi, staf nasional Program Pangan Dunia (WFP), juga meninggal saat berada dalam tahanan otoritas setempat di wilayah utara Yaman pada 11 Februari 2025. Ba'alawi telah ditahan secara sewenang-wenang sejak 23 Januari 2025.

Yaman dilanda konflik sejak 2014, ketika pasukan Houthi merebut ibu kota Sanaa. Peristiwa tersebut kemudian memicu intervensi militer koalisi pimpinan Arab Saudi pada Maret 2015 untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.

Konflik berkepanjangan itu memicu salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia, dengan jutaan orang bergantung pada bantuan kemanusiaan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Baca juga: Arab Saudi dan AS Bahas Kerja Sama Pertahanan di Tengah Serangan Houthi


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kapolres Sukoharjo Dicopot Buntut Penggeledahan Ponpes
• 21 jam lalukumparan.com
thumb
Polri Tetapkan 13 Tersangka TPPO Modus Perekrutan Tentara Bayaran Rusia
• 17 jam laluliputan6.com
thumb
Cipta Perdana (PART) Berencana Rights Issue Maksimal 1 Miliar Saham
• 7 jam laluidxchannel.com
thumb
DTIIF 2026 Resmi Ditutup, Danantara Indonesia Hasilkan Kemitraan Strategis untuk Industri Nasional
• 15 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Listyo Sigit Prabowo Sidak Koperasi Merah Putih Cakung, Pastikan Obat dan Barang Subsidi Tersedia
• 12 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.