Kronologi Suami Istri Bunuh Bayi Kandung di Toilet Jaksel, Ngaku Terhimpit Ekonomi sampai Tunjukkan Gelagat Aneh

grid.id
6 jam lalu
Cover Berita

Grid.ID - Pasangan suami istri tega bunuh bayi di toilet Jaksel. Ngaku terhimpit ekonomi sampai tunjukkan gelagat aneh.

AR (22) dan JM (20), pasangan suami-istri tega membunuh anaknya perempuannya yang baru berusia berusia 20 bulan. AR yang merupakan ayah tiri dan JM ibu kandung korban itu melakukan aksi bejadnya di toilet umum pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Berikut kronologi suami istri bunuh bayi di toilet Jaksel. Keduanya mengaku terhimpit ekonomi sampai tunjukkan gelagat aneh.

AR (22) dan JM (20), pasangan suami istri, hingga tega menghilangkan nyawa anak perempuan mereka yang masih berusia 20 bulan.

AR yang berstatus sebagai ayah tiri korban bersama JM selaku ibu kandungnya diduga melakukan tindakan keji tersebut di toilet umum Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, pada Sabtu (31/10/2026). Korban diduga ditenggelamkan ke dalam sebuah wadah berisi air.

"Terkait anak tersebut, itu dibunuh oleh kedua orang tuanya, yaitu ibu kandungnya dan ayah tirinya," kata Kapolsek Kebayoran Lama Kompol Seala Syah Alam saat dihubungi, Minggu (1/11/2026), dikutip dari Tribunnews.com.

Usai menghabisi nyawa korban, keduanya memanfaatkan jasa transportasi daring dan turun di wilayah Palmerah. Selanjutnya, AR dan JM melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju kawasan Benhil untuk menguburkan jasad anak tersebut yang dibungkus menggunakan kantong plastik.

"Benhil, di kiri jalan itu ada lahan kosong. Nah, di situlah dua pelaku mengubur anaknya dengan menggunakan kantong kresek," ucapnya.

Adapun peristiwa ini dilaporkan kepada pihak kepolisian oleh pengelola toilet umum tersebut.

“Nah, setelah itu tidak selang berapa lama kami mendapatkan informasi, kami langsung melakukan penyelidikan terhadap kedua pelaku. Kami berhasil amankan pria dan wanita tersebut,” ucapnya.

Setelah ditangkap, kedua tersangka mengakui perbuatannya tersebut. Mereka yang mempunyai dua anak itu beralasan karena tak sanggup untuk membiayai karena terhimpit masalah ekonomi.

 Baca Juga: Kronologi Satu Keluarga Alami Gangguan Jiwa di Bandung, Berawal dari Terpuruk Usai Bangkrut

 

"Itu kejadiannya itu motif karena ekonomi, mereka tidak mampu,” tuturnya.

Saat ini, jenazah korban sedang menjalani autopsi di Rumah Sakit Polri Kramat Jati. Sementara itu, kakak korban yang berusia tiga tahun telah mendapat pendampingan dari pihak kecamatan untuk sementara dirawat di bawah penanganan Dinas Sosial.

“Dan untuk kakaknya yang berusia tiga tahun, sudah dibantu oleh pihak kecamatan. Saya sudah berkoordinasi dengan Pak Camat untuk sementara dirawat di Dinsos,” ujarnya.

Fendi mengungkapkan, sebelum peristiwa pembunuhan itu terjadi, dirinya masih sempat melihat pasangan tersebut bersama dua anak kecil yang menumpang bermalam di sekitar warung miliknya, tepat di depan Stasiun Kebayoran, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Selama dua malam, pasangan itu diketahui tinggal sementara di sebuah lapak usaha kuliner yang berada di Jalan Masjid Al Huda, Kebayoran Lama Utara, Kebayoran Lama. Mereka beralasan sedang mencari tempat kontrakan dengan harga terjangkau.

Fendi sama sekali tidak menyangka bahwa keberadaan pasangan tersebut di sekitar warungnya ternyata berkaitan dengan tragedi yang kemudian menghebohkan masyarakat. Pemilik Warung Madura itu menuturkan, keduanya sudah terlihat di lokasi sejak dua hari sebelum dugaan pembunuhan terhadap anak berusia 20 bulan tersebut terjadi.

Berdasarkan pengamatannya, pasangan itu datang bersama dua anak perempuan yang masih berusia balita. Mereka kemudian memilih untuk bermalam di sekitar warung sambil berusaha mencari tempat tinggal yang sesuai dengan kemampuan ekonomi mereka.

"Mau cari kontrakan seharga Rp 300 ribuan, sementara dia tidur di sini kalau malam," ujar Fendi, dikutip dari Wartakotalive.com.

Walaupun beberapa kali melihat keluarga tersebut, Fendi mengaku jarang berkomunikasi dengan mereka. Ia juga tidak mengetahui dengan jelas latar belakang maupun pekerjaan kedua orang tua anak itu.

Namun, situasi berbeda terjadi pada Sabtu (31/10/2026) malam, ketika peristiwa tersebut berlangsung. Fendi saat itu sedang tertidur di warung miliknya. Ia terbangun setelah mendengar keributan dari arah depan warung.

Ketika memeriksa keadaan di sekitar lokasi, Fendi melihat ayah tiri korban berlari sambil menggendong seorang anak. Pria tersebut terlihat kebingungan dan panik hingga sempat bertanya mengenai lokasi puskesmas terdekat.

 Baca Juga: Kronologi Nenek di Depok Bakar Cucu Kandung, Berawal dari Kesal Tak Dijemput dan Jalan Kaki

 

"Suaminya itu sambil gendong anaknya lari ke arah pasar, tanya puskesmas terdekat," ucap dia.

Di tengah situasi tersebut, Fendi juga sempat mendengar ibu korban melontarkan pertanyaan yang menggambarkan kepanikannya.

"Anak saya masih hidup enggak?" kata Fendi menirukan ucapan yang didengarnya saat itu.

Fendi mengaku tidak menyaksikan secara langsung kejadian yang mendahului dugaan tindak kekerasan terhadap anak tersebut. Ia baru mengetahui informasi mengenai dugaan penganiayaan yang dialami korban setelah membaca pemberitaan dan melihat video yang tersebar di media sosial.

Namun, kejadian pada malam itu ternyata bukan kali terakhir Fendi melihat keberadaan ayah tiri korban.

Pada Minggu (1/11/2026) sekitar pukul 07.00 WIB, pria tersebut kembali mendatangi lapak yang sebelumnya menjadi tempat mereka bermalam. Kali ini, kedatangannya bertujuan mencari pakaian milik mereka yang dikabarkan hilang.

Fendi kemudian sempat menanyakan keadaan anak tersebut. Pria itu menjawab bahwa anaknya telah berhasil diselamatkan dan tengah menjalani perawatan medis.

"Alhamdulillah, Bang, anak saya ketolong, selamat, lagi dirawat, katanya lagi dioksigen," ujar Fendi saat mengenang perkataan pria tersebut.

Meski demikian, penjelasan itu belum sepenuhnya membuat Fendi merasa yakin. Ia kemudian memberi tahu warga sekitar mengenai kedatangan pria tersebut.

Setelah mendapat informasi itu, sejumlah warga mendatangi pria tersebut untuk meminta penjelasan mengenai kondisi anaknya. Pria itu selanjutnya diamankan warga sebelum diserahkan kepada pengurus lingkungan dan pihak kepolisian.

Ketika warga melontarkan berbagai pertanyaan, Fendi memilih untuk kembali melanjutkan pekerjaannya di warung. Polisi kemudian tiba di lokasi pada siang hari. Fendi juga sempat menyaksikan proses rekonstruksi kasus tersebut, meskipun hanya pada bagian akhir lantaran sebelumnya ia kembali tertidur.

 Baca Juga: Kronologi Puluhan Warga Karawang Dievakuasi Akibat Bau Menyengat, Keluhkan Mata Perih hingga Sesak Napas

 

Kejadian itu meninggalkan kesedihan sekaligus keheranan bagi Fendi. Ia mengaku sulit memahami bagaimana dugaan kekerasan tersebut bisa menimpa seorang anak yang usianya masih sangat belia.

"Kalau melihatnya sadis, anaknya kecil banget, tega banget," ujarnya.

Bagi Fendi, kejadian tersebut merupakan pengalaman pertama menyaksikan kasus kriminal berat di lingkungan tempat tinggalnya. Ia berharap insiden serupa tidak kembali terjadi, terutama di kawasan yang menjadi tempat masyarakat menjalankan aktivitas sehari-hari.

Menurutnya, masyarakat harus lebih peduli dan waspada terhadap kondisi di sekitar tempat tinggal, termasuk memperhatikan orang-orang yang hanya menetap sementara di wilayah tersebut. Meski begitu, sikap waspada tetap harus diterapkan secara proporsional agar tidak memunculkan kecurigaan atau prasangka yang tidak berdasar terhadap orang lain.

Selanjutnya, Polisi membeberkan kondisi kehidupan Jumsah (19) dan suami sirinya, Alfian Rudiansyah (22), yang terlibat dalam kasus meninggalnya bayi perempuan berinisial SF di wilayah Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Korban yang berusia 1 tahun 20 bulan merupakan anak kandung Jumsah. Diketahui, Jumsah sehari-hari bekerja sebagai pengamen, sementara Alfian tidak mempunyai pekerjaan tetap.

"Untuk yang perempuan itu pengamen. Kalau untuk yang laki-laki itu tidak ada pekerjaan," kata Kapolsek Kebayoran Lama Kompol Seala Syah Alam di Mapolres Jakarta Selatan, Senin (2/11/2026), dikutip dari Kompas.com.

Seala menyampaikan bahwa berdasarkan keterangan Jumsah dan Alfian, keduanya telah melangsungkan pernikahan secara siri.

Di samping itu, pasangan tersebut juga tidak mempunyai tempat tinggal permanen. Mereka diketahui sering berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain atau menjalani kehidupan nomaden.

"(Pelaku) Bukan warga sana. Jadi mereka ini nomaden, pindah-pindah terus," kata Seala.

Pada pemeriksaan awal, Jumsah dan Alfian mengaku menguburkan jasad korban di wilayah Bendungan Hilir (Benhil), Jakarta Pusat. Mereka beralasan tidak mempunyai cukup uang untuk membayar biaya pemakaman maupun membeli lahan kuburan.

 Baca Juga: Kronologi Bocah 9 Tahun Tewas Berenang di Galian Proyek Cilincing, Korban Tak Bisa Berenang

 

Setelah itu, keduanya pergi ke Palmerah dengan menggunakan taksi daring. Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki hingga mencapai kawasan Benhil.

Di tempat tersebut, polisi menemukan jasad korban terkubur di tanah kosong yang ditumbuhi semak belukar. Tubuh korban dibungkus dengan plastik hitam dan dikuburkan pada kedalaman kurang dari 50 sentimeter.

Berdasarkan hasil penyelidikan, polisi menduga Alfian menjadi pihak yang menyebabkan korban meninggal dunia di toilet umum kawasan Kebayoran Lama.

"Jadi ember (bak mandi) itu untuk bunuh korbannya, ditenggelamkan beberapa kali," kata Seala.

Hingga kini, polisi masih mendalami motif di balik peristiwa tersebut. (*)

 

Artikel Asli


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Banjir Lahar Gunung Semeru Terjang Tempursari Lumajang, 3 Rumah Ambruk
• 20 jam lalurctiplus.com
thumb
Bahlil Ubah Aturan Izin Tambang, Pengusaha Daerah Kini Dapat Prioritas
• 5 jam lalutvonenews.com
thumb
Ekonomi Arab Saudi Menyusut 3,8 Persen meski Harga Minyak Dunia Melonjak
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
KPK Buka Peluang Hadirkan Ahmad Dhani di Sidang Bea Cukai
• 1 jam lalujpnn.com
thumb
Messi Belum Habis, FIFPRO Masukan Namanya dalam Daftar 26 Pemain Nominasi Tim Terbaik Dunia
• 12 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.