Pencarian dua orang yang tertimbun longsor di kawasan Eco Park Pelaga Glamping Retreat, Kabupaten Badung, Bali, diwarnai pelaksanaan upacara adat Hindu.
Kasat Samapta Polres Badung, AKP I Wayan Praptayasa, mengatakan upacara dilaksanakan atas permintaan pemilik Eco Park. Hal ini lantaran pihak keluarga tidak memiliki pemangku yang dapat memimpin pelaksanaan upacara.
"Saya juga seorang pemangku. Saya terketuk untuk menjalankan dan melaksanakan upacara ini karena rekan-rekan kami dari Basarnas dan relawan sudah banyak di sini," kata Praptayasa ketika ditemui di Eco Park Pelaga Glamping Retreat pada Selasa (3/11).
Praptayasa menjelaskan, upacara tersebut memiliki dua tujuan utama, yakni memohon keselamatan bagi seluruh orang yang berada di lokasi bencana serta memohon maaf kepada alam melalui pelaksanaan ritual keagamaan Hindu.
Menurutnya, dalam ajaran Hindu dikenal konsep sekala dan niskala, yakni segala sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan nyata maupun tidak nyata. Karena itu, selain melakukan upaya pencarian secara langsung, pihaknya juga melaksanakan pendekatan secara niskala melalui upacara adat.
"Yang tidak nyatanya ini kami lakukan secara agama Hindu. Kami memohon maaf kepada pemilik daripada alam ini karena kami meyakini ada yang tinggal di sini," ungkapnya.
Praptayasa mengatakan, melalui upacara tersebut, pihaknya memohon maaf kepada sosok yang memiliki tempat tersebut secara niskala. Hal itu dilakukan setelah melihat kondisi kawasan yang terdampak longsor.
Sosok pemilik kawasan menyampaikan kepada Praptayasa bahwa kondisi alam di lokasi tersebut telah mengalami kerusakan. Oleh karena itu, ritual dilakukan sebagai bentuk permohonan maaf dan penghormatan terhadap alam.
"Pemiliknya mengatakan bahwa alam ini, tempat ini sudah dirusak. Bukan berarti yang menguasai tempat ini marah, tetapi alam sendiri yang mengatakan begitu bahwa terjadilah bencana ini," ucap Praptayasa.
Lebih lanjut, Praptayasa menegaskan pelaksanaan upacara adat tidak menggantikan upaya pencarian secara langsung yang dilakukan tim SAR gabungan.
Menurutnya, kedua upaya tersebut diharapkan dapat berjalan beriringan untuk membantu menemukan dua orang yang masih dalam pencarian.
"Demikian pula kami akan berusaha di sini, di sekitar sini. Semoga kedua usaha ini bisa membuahkan hasil," kata Praptayasa.
Meski demikian, ia mengaku tidak dapat memastikan kapan kedua korban akan ditemukan. Praptayasa berharap alam dan Tuhan memberikan pertolongan sehingga upaya pencarian yang dilakukan dapat membuahkan hasil.
"Semoga saja alam bisa memberikan bantuan, pertolongan, demikian tentunya Tuhan dalam hal ini yang memiliki segalanya bisa memberikan jawaban untuk kita semua," pungkasnya.
Hingga siang ini, tim SAR gabungan masih melakukan pencarian terhadap dua orang yang hilang karena longsor di kawasan Eco Park Pelaga Glamping Retreat.
Dua orang yang hilang tersebut adalah seorang WNI bernama Bangkit Khoirul Mubarok (28) dan seorang WNA Jerman bernama Sacha Erich Schubert (56).
Sementara itu, sebanyak 21 orang selamat dari bencana longsor. Korban selamat terdiri dari 19 orang WNI dan 2 orang WN Ukraina yang telah dipindahkan ke lokasi yang lebih aman.
Pada hari terjadinya longsor, terjadi hujan sangat lebat dengan intensitas 121 mm/hari. Kondisi tanah yang labil karena hujan ditambah dengan topografi yang miring menyebabkan tanah longsor menimpa 4 tenda glamping. Satu di antara tenda glamping yang tertimpa longsor tersebut hanyut terbawa arus sungai.





