Para investor memantau hasil pemilu sela di Amerika Serikat (AS), terutama dampak terhadap pasar.
IDXChannel - Para investor memantau hasil pemilu sela di Amerika Serikat (AS), terutama dampak terhadap pasar.
Dilansir dari CNA pada Selasa (3/11/2026), pemungutan suara akan digelar hari ini untuk memperebutkan sebagian kursi di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Senat, serta sejumlah kepala daerah dan pejabat lainnya.
Pemilu paruh waktu di AS biasanya tidak memicu gejolak besar di pasar. Namun, hasil pemilihan kali ini dapat berdampak besar terhadap sektor kecerdasan buatan (AI) dan tingkat utang pemerintah.
Sejak Donald Trump kembali ke Gedung Putih pada 2025 dengan kendali penuh Partai Republik atas Kongres, indeks S&P 500 telah naik sekitar 27 persen, didorong oleh belanja modal yang masif di bidang AI serta pertumbuhan laba yang kuat.
Akan tetapi, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) juga melonjak cukup tinggi, terutama setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran pada Februari yang memicu lonjakan harga energi, yang kini mulai merembet ke sektor-sektor lain dalam ekonomi AS.
Survei terbaru menunjukkan Partai Demokrat berpeluang merebut kendali atas DPR, sementara kubu yang akan mengontrol Senat masih belum dapat dipastikan.
Jika Partai Demokrat berhasil menguasai keduanya, investor mengantisipasi pengawasan yang lebih ketat terhadap sektor AI, yang berpotensi menekan pasar.
Jika Partai Demokrat memenangi DPR sementara Partai Republik tetap menguasai Senat, dampaknya terhadap kondisi fiskal AS akan signifikan. Para investor menilai bahwa Kongres yang terpecah meningkatkan risiko penutupan pemerintahan (government shutdown) serta ketegangan politik terkait batas utang.
Kondisi ini dapat menambah tekanan terhadap peringkat kredit pemerintah AS, di tengah kekhawatiran investor mengenai defisit yang besar dan meningkatnya biaya bunga.
Nilai tukar dolar AS juga berpotensi melemah jika pasar merasa perdebatan kebijakan akan menghambat pertumbuhan ekonomi.
Jika Partai Republik menyapu bersih kemenangan, para investor memperkirakan pemerintah dapat mengupayakan reformasi pajak lebih lanjut atau meningkatkan belanja pertahanan, yang akan memperburuk defisit anggaran yang memang sudah besar. Namun, risiko munculnya regulasi baru terkait AI akan rendah. (Wahyu Dwi Anggoro)





