Elon Musk memprediksi uang tidak lagi menjadi hal penting bagi manusia pada 2036. Orang terkaya di dunia ini menilai perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan robot humanoid dapat menciptakan kelimpahan barang dan jasa, sehingga manusia tidak lagi harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Dalam wawancara dengan The Economist di Gigafactory Tesla, Texas, pada 23 Juli, Elon Musk membayangkan masa depan ketika pekerjaan menjadi pilihan, bukan lagi kebutuhan untuk mendapatkan penghasilan.
Menurut Elon Musk, AI akan mampu menangani berbagai pekerjaan intelektual, sedangkan robot humanoid mengerjakan tugas-tugas fisik. Kombinasi keduanya diperkirakan dapat meningkatkan produksi barang dan jasa secara signifikan.
Elon Musk bahkan memperkirakan kecerdasan AI dapat melampaui kecerdasan gabungan seluruh manusia dalam waktu sekitar lima tahun, sebagaimana dikutip dari TechTimes.
Ia mengibaratkan pekerjaan pada masa depan seperti berkebun. Seseorang tetap bisa memilih berkebun karena menyukai aktivitas tersebut, meskipun sebenarnya dapat membeli sayuran di pasar.
Dengan demikian, manusia nantinya bisa bekerja karena menginginkannya, bukan karena membutuhkan gaji untuk bertahan hidup.
Namun, perubahan itu menyisakan persoalan mengenai sumber pendapatan masyarakat jika pekerjaan manusia mulai digantikan AI dan robot.
Menanggapi pertanyaan Pemimpin Redaksi The Economist Zanny Minton Beddoes mengenai cara masyarakat memenuhi kebutuhan hidup jika kehilangan pekerjaan, Elon Musk mengusulkan pemerintah memberikan pendapatan kepada masyarakat. "Menurut saya, departemen keuangan sebaiknya langsung saja menerbitkan cek untuk masyarakat," katanya.
Ia membayangkan skema yang disebutnya sebagai universal high income atau pendapatan universal tinggi. Melalui skema ini, pemerintah memberikan uang kepada masyarakat, sehingga mereka tetap dapat memenuhi kebutuhan hidup meskipun tidak lagi memiliki pekerjaan konvensional.
Elon Musk mendasarkan gagasannya pada peningkatan produktivitas akibat penggunaan AI dan robot. Jika teknologi mampu meningkatkan produksi barang dan jasa secara drastis, ketersediaan produk diperkirakan semakin melimpah.
Menurut Elon Musk, pemerintah dapat menciptakan lebih banyak uang tanpa harus memicu inflasi apabila peningkatan produksi barang dan jasa berlangsung lebih cepat daripada pertumbuhan jumlah uang beredar.
Bos Tesla itu bahkan memperkirakan deflasi dapat menjadi persoalan ekonomi yang lebih besar pada masa depan, jika produksi tumbuh jauh lebih cepat daripada jumlah uang yang beredar.
Meski demikian, Elon Musk tidak menjelaskan secara terperinci bagaimana skema universal high income tersebut akan diterapkan. Ia juga tidak menyebutkan besaran bantuan, kriteria penerima, maupun jadwal implementasinya.
Usulan tersebut masih berupa gagasan Elon Musk, bukan kebijakan pemerintah yang telah ditetapkan.
AI Berpotensi Mengubah Banyak PekerjaanPrediksi Elon Musk mengenai masa depan tanpa kewajiban bekerja berbeda dengan sejumlah proyeksi mengenai dampak AI terhadap pasar tenaga kerja.
Studi gabungan Organisasi Perburuhan Internasional atau International Labour Organization (ILO) dan National Research Institute Polandia pada 2025 menemukan satu dari empat pekerjaan di dunia berpotensi terpapar AI generatif.
Namun, penelitian itu menyimpulkan bahwa perubahan pekerjaan lebih mungkin terjadi dibandingkan hilangnya seluruh pekerjaan akibat teknologi tersebut.
Sementara itu, laporan Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum (WEF) memperkirakan perkembangan teknologi dan perubahan ekonomi lainnya dapat menghilangkan 92 juta pekerjaan hingga 2030.
Di sisi lain, berbagai perubahan tersebut juga diproyeksikan menciptakan 170 juta pekerjaan baru. Dengan demikian, terdapat potensi penambahan bersih sebanyak 78 juta pekerjaan.
Proyeksi tersebut mencakup berbagai faktor perubahan ekonomi, tidak hanya dampak AI.
Meski demikian, munculnya pekerjaan baru tidak serta-merta menjamin pekerja yang kehilangan pekerjaan akibat otomatisasi dapat langsung mengisi posisi tersebut. Perbedaan keterampilan menjadi salah satu tantangan dalam proses peralihan tenaga kerja.
Siapa yang Menikmati Kekayaan dari AI dan Robot?Selain persoalan pekerjaan dan pendapatan, prediksi Elon Musk menyisakan pertanyaan mengenai siapa yang akan menguasai teknologi AI dan robot yang menghasilkan kelimpahan barang dan jasa.
Perusahaan yang mengendalikan sistem AI dan robot berpotensi memperoleh keuntungan finansial dari meningkatnya otomatisasi.
Namun, peningkatan produktivitas tidak otomatis menjamin keuntungan tersebut dapat dinikmati masyarakat secara merata. Distribusi kekayaan akan bergantung pada berbagai faktor, termasuk upah, harga barang, pajak, kepemilikan teknologi, dan kebijakan pemerintah.
Skema pendapatan universal yang diusulkan Musk dapat menjadi salah satu cara untuk membantu masyarakat yang kehilangan pekerjaan. Namun, ia belum memaparkan rancangan terperinci mengenai mekanisme penyaluran maupun sumber pendanaannya.
Elon Musk juga mengakui bahwa proses menuju masa depan tersebut tidak akan berlangsung mulus. Ia menggambarkan masa transisi menuju era AI dan robot sebagai a bumpy road atau perjalanan yang penuh tantangan.
Untuk saat ini, prediksi bahwa manusia tidak lagi perlu bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup masih sebatas perkiraan. AI dan robot mungkin dapat meningkatkan produktivitas secara drastis, tetapi persoalan mengenai sumber pendapatan dan pemerataan hasil otomatisasi masih menjadi tantangan yang belum terjawab.




