Lonjakan harga cabai menjadi penyumbang lebih dari separuh inflasi pada bulan lalu. Menteri Perdagangan Budi Santoso menyebut, faktor cuaca menjadi biang kerok harga komoditas cabai melambung tinggi.
“Memang cabe rawit, kemudian cabe rawit keriting, cabe rawit merah sedikit mengalami kenaikan. Itu karena memang karena faktor cuaca,” kata Budi kepada wartawan di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Selasa (3/11).
Budi mengatakan, pemerintah telah mengambil langkah dengan mengirim cabai dari daerah yang surplus untuk mengatasi kenaikan harga cabai tersebut. Langkah ini dilakukan bekerja sama dengan kementerian/lembaga lainnya.
“Cabai kemarin kami kirim ke Halmaheraya, 7 ton dari Jawa Timur. Karena Jawa Timur surplus cabai. Jadi, kerja sama kami dengan Bapannas, kerja sama dengan BI dan pemerintah daerah,” kata dia.
Budi mengatakan, langkah serupa akan dilakukan dalam rangka ‘menambal’ komoditas lainnya. Salah satu yang dicontohkan adalah telur.
Menurut dia, pasokan telur sebenarnya surplus. Rerata harga telur secara nasional berada di kisaran Rp 26.400, berada di bawah harga acuan Rp 30 ribu per kg. "Ada daerah tertentu yang distribusinya itu agak susah, naik. Sehingga kami akan kirim ke daerah-daerah yang harganya lebih tinggi agar stabil. Kalau harga stabil, harga sesuai acuan, maka peternak juga bisa terus jalan,” kata Budi.
Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mencatat, inflasi sebesar 0,22% secara bulanan atau month-to-month (mtm) pada Oktober 2026. Inflasi pada bulan lalu terutama disumbang oleh kenaikan harga cabai merah yang memberikan andil mencapai 0,13%.
Deputi Bidang Statistik, Distribusi, dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi pendorong utama inflasi Oktober. Inflasi pada kelompok ini mencapai 0,51% dengan andil sebesar 0,15%.
“Komoditas yang dominan mendorong inflasi pada kelompok ini terutama, cabai merah dengan andil inflasi sebesar 0,13%. Berikutnya, cabai rawit dengan andil inflasi sebesar 0,05%, serta tomat dengan andil inflasi sebesar 0,04%,” kata Ateng dalam konferensi pers di kantor BPS, Jakarta, Senin (2/11).
Ateng menjelaskan, andil cabai merah setara sekitar 59% dari total inflasi bulanan pada Oktober 2026. Selain cabai merah, kenaikan harga cabai rawit dan tomat juga turut memberikan tekanan terhadap inflasi.
BPS juga mencatat, sejumlah komoditas hortikultura lainnya yang menyumbang inflasi, yakni sawi hijau, labu siam atau jipang, serta sawi putih. Masing-masing komoditas tersebut memberikan andil inflasi sebesar 0,01%.
Ateng menjelaskan, kenaikan harga sejumlah komoditas cabai terjadi di tengah penurunan produksi di beberapa daerah sentra. Produksi cabai merah tercatat turun di sejumlah wilayah, terutama Lombok Timur, Cianjur, dan Banyuwangi.
Sementara itu, produksi cabai rawit juga mengalami penurunan di beberapa daerah sentra, khususnya Jember, Sampang, dan Brebes.
BPS juga mencatat peningkatan produksi cabai merah di sejumlah daerah, antara lain Aceh Tengah, Kulon Progo, dan Kerinci. Adapun peningkatan produksi cabai rawit terjadi di Situbondo, Lombok Timur, dan Aceh Tengah.




