BBYB membukukan laba bersih setelah pajak atau profit after tax (PAT) sebesar Rp430,98 miliar hingga September 2026.
IDXChannel - PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) membukukan laba bersih setelah pajak atau profit after tax (PAT) sebesar Rp430,98 miliar hingga September 2026. Kinerja tersebut didukung oleh peningkatan pendapatan bunga bersih, perbaikan efisiensi operasional, serta terjaganya kualitas aset.
Dari sisi pendapatan, Bank Neo Commerce mencatatkan pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) sebesar Rp1,69 triliun hingga kuartal III-2026. NII perseroan menunjukkan tren peningkatan selama tiga kuartal pertama tahun ini.
Pada kuartal I-2026, NII tercatat sebesar Rp548,14 miliar. Angka tersebut meningkat menjadi Rp562,55 miliar pada kuartal II-2026 dan kembali naik menjadi Rp576,04 miliar pada kuartal III-2026.
Selain pendapatan bunga, pendapatan berbasis komisi atau fee based income juga meningkat 5,67 persen secara tahunan menjadi Rp90,55 miliar hingga September 2026, dibandingkan Rp85,69 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari sisi neraca, total aset Bank Neo Commerce tercatat sebesar Rp17,19 triliun per September 2026. Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp11,86 triliun.
Adapun dana murah atau Current Account Saving Account (CASA) meningkat 1,33 persen secara tahunan menjadi Rp3,92 triliun. Rasio CASA juga naik menjadi 33,05 persen dari sebelumnya 28,40 persen pada September 2025.
Sementara itu, total kredit yang disalurkan perseroan mencapai Rp6,73 triliun. Bank Neo Commerce menerapkan penyaluran kredit secara selektif dengan mempertimbangkan kualitas debitur, profil risiko, serta potensi imbal hasil.
Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama Bank Neo Commerce Adrian Soewardjo mengatakan, perseroan masih berfokus pada penguatan fundamental bisnis untuk menjaga profitabilitas dan kualitas pertumbuhan.
"Stabilnya raihan laba hingga akhir kuartal III 2026 ini merupakan pencapaian yang menggembirakan bagi BNC. Namun, bagi kami, hal yang lebih penting adalah bagaimana pencapaian tersebut didukung oleh kualitas fundamental bisnis yang semakin baik. Kami terus mempertahankan profitabilitas, meningkatkan efisiensi, menjaga kualitas aset, serta memastikan bahwa setiap langkah pengembangan bisnis dilakukan secara terukur dan dengan prinsip kehati-hatian," ujar Adrian dalam keterangan resmi, Selasa (3/11/2026).
Dari sisi efisiensi, rasio Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) membaik menjadi 81,77 persen pada September 2026, dibandingkan 82,81 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Rasio cost to income (CIR) juga mengalami perbaikan menjadi 31,45 persen dari sebelumnya 31,59 persen Adapun kualitas kredit perseroan tercermin dari rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross sebesar 2,78 persen, membaik dibandingkan 2,92 persen pada September 2025. Sementara NPL net tercatat sebesar 0,27 persen.
Dari sisi permodalan, rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) mencapai 53,40 persen pada September 2026, meningkat dibandingkan 46,73 persen pada periode yang sama tahun lalu.
Modal inti perseroan juga tumbuh 10,41 persen secara tahunan menjadi Rp4,35 triliun, dari sebelumnya Rp3,94 triliun pada September 2025. Sementara itu, margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) Bank Neo Commerce tercatat sebesar 14,30 persen pada September 2026.
Adrian mengatakan, perseroan akan tetap menjaga keseimbangan antara profitabilitas, efisiensi operasional, dan kualitas pertumbuhan bisnis. Menurut dia, pengembangan bisnis ke depan akan disertai penguatan permodalan, teknologi, sumber daya manusia, serta proses operasional untuk mendukung keberlanjutan usaha.
(Shifa Nurhaliza Putri)





