MALANG, KOMPAS — Masyarakat di sejumlah daerah di Jawa Timur agar mewaspadai potensi cuaca ekstrem dalam beberapa hari ke depan. Pihak Stasiun Meteorologi Kelas 1 Juanda di Sidoarjo mengingatkan akan potensi cuaca ekstrem di sebagian wilayah Jatim yang berlangsung 2-9 November 2026.
Dalam rilis media yang diunggah di Instagram resminya, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Stasiun Meteorologi Juanda, menyebut potensi cuaca ekstrem terjadi akibat gangguan atmosfer Madden Julian Oscillation (MJO), pola pertemuan angin, dan hangatnya perairan selat Madura, serta atmosfer lokal Jatim yang labil.
Menurut pihak BMKG sebagian besar wilayah Jatim telah memasuki peralihan musim dari kemarau menuju musim hujan. Dan gangguan gelombang atmosfer, pola pertemuan angin, suhu muka laut, mendukung pertemuan awan.
Setidaknya ada 21 daerah yang perlu meningkatkan kewaspadaan, seperti Lumajang, Malang, Pasuruan, Banyuwangi, Kediri, Jember, Trenggalek, Probolinggo, Blitar, dan Mojokerto. Wilayah bertopografi curam, pegunungan, dan sekitar tebing perlu lebih waspada.
Ditemui secara terpisah, Forecaster BMKG Stasiun Klimatologi Kelas 1 Jawa Timur, di Malang, Retno Wulandari, mengatakan pada 1-2 November hujan turun secara merata di Jatim bagian selatan. Bahkan, curah hujan di beberapa wilayah dalam kategori sangat lebat dan ekstrem, seperti Kabupaten Lumajang dan perbatasan Lumajang-Malang, Jember, Banyuwangi, dan Trenggalek.
“Untuk wilayah utara dan tengah Jatim juga hujan namun ringan. Sedangkan wilayah selatan deras sekali. Bahkan, ada yang curah hujan di atas 150 milimeter per hari. Ini sangat lebat, ekstrem. Sehingga potensi bencana hidrometeorologi besar,” ujarnya, Selasa (3/11/2026).
Menurut Retno, kondisi Jatim tengah memasuki periode peralihan dari kemarau ke hujan. Musim hujan sebagian besar wilayah diprediksi baru akan terjadi akhir November atau awal Desember. “Namun fenomena MJO dan gelombang Rossby juga ikut mempengaruhi kondisi cuaca di Jatim selatan dalam beberapa hari terakhir,” katanya.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hujan dengan intensitas tinggi, Minggu (1/11/2026) pukul 22.00 WIB hingga Senin pagi, memicu luapan sungai, tanggul jebol, tanah longsor, dan pohon tumbang. Dampak bencana tersebar pada delapan desa di tiga kecamatan, antara lain Desa Gondoruso di Pasirian; Rojopolo di Jatiroto; serta Purorejo, Tempursari, Bulurejo, Kaliuling, dan Pundungsari di Kecamatan Tempursari.
Berdasarkan pendataan sementara, ada sekitar 1.417 keluarga dan 1.417 unit rumah terdampak. Bencana juga berdampak pada akses jalan, jaringan listrik, serta lahan pertanian. Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang melakukan penanganan dan pendataan di sejumlah lokasi, termasuk pembukaan akses jalan yang terdampak longsor.
Pemantauan juga dilakukan terhadap wilayah terisolasi, rumah warga yang terancam kerusakan, debit sungai, jembatan limpas, serta kondisi tanggul untuk mengantisipasi potensi bencana susulan. Bantuan logistik darurat disiapkan bagi masyarakat terdampak.
Sedangkan di Kabupaten Malang, banjir melanda lima desa pada empat kecamatan, yakni Tirtomoyo dan Lebakharjo di Kecamatan Ampelgading, Bantur di Bantur, Kademangan di Pagelaran, dan Klepu di Sumbermanjing Wetan. Ada 43 keluarga terdampak. Sebanyak 43 unit rumah dan 2 warung tergenang, empat akses jalan, serta satu unit jembatan rusak.
Berdasarkan kondisi terkini, air telah surut dan akses jalan sudah dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat. Petugas masih melakukan pembersihan material banjir. Kebutuhan yang diperlukan dalam penanganan antara lain alat berat dan truk tangki.
Sementara itu, dalam siaran persnya, Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengimbau masyarakat untuk mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi.
“Selalu cek informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini secara berkala melalui kanal resmi BMKG, bersihkan saluran air, selokan, dan talang rumah agar aliran air tidak tersumbat dan menyebabkan genangan, pangkas dahan atau ranting pohon yang terlalu lebat, rapuh, atau berada dekat dengan kabel listrik dan bangunan, pahami jalur evakuasi dan siapkan tas siaga bencana yang berisi kebutuhan darurat untuk tiga hari,” katanya.
BNPB mengingatkan pemerintah daerah untuk melakukan 8 langkah kesiapsiagaan yakni pemetaan wilayah rawan; memastikan kesiapan sumber daya manusia, personel, peralatan dan logistik; mengoptimalkan dana darurat; memperkuat mekanisme sistem peringatan dini; meningkatkan sosialisai evakuasi mandiri termasuk pada kelompok rentan; serta normalisasi sungai serta pembersihan fasilitas pengendali banjir.
Di luar Jatim, BNPB mencatat ada sejumlah daerah yang dilanda bencana hidrometeorologi dalam beberapa hari terakhir. Salah satunya, tanah longsor di kawasan Glamping Pelaga Eco Park, Banjar Bukit Buluk Tihing, Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Bali, Minggu (1/11/2026).
Hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut memicu longsoran. Akibatnya, dua orang dinyatakan hilang. BPBD Kabupaten Badung bersama Tim SAR gabungan—melibatkan SAR Denpasar, BPBD Provinsi Bali, BPBD Kabupaten Badung, Damkar, Satpol PP, TNI/Polri, pemerintah kecamatan, dan aparat Desa Pelaga—melaksanakan operasi pencarian terhadap korban.
Cuaca ekstrem juga terjadi di Dusun Liren, Desa Kuta Gamber, Kecamatan Tanah Pinem, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, Jumat (30/10/2026), sekitar pukul 19.00 WIB. Peristiwa tersebut mengakibatkan pohon tumbang dan menimpa satu unit rumah warga hingga mengalami rusak berat. Satu orang meninggal dunia dan satu orang lainnya terluka.
BPBD Kabupaten Dairi telah melakukan asesmen, berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan dan desa, evakuasi korban, serta memberikan penanganan kepada warga terdampak. Hingga Senin (2/11/2026), bencana masih dalam penanganan pemerintah daerah setempat.





