Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan dampak paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap kesehatan anak dapat berlangsung dalam jangka panjang, bahkan setelah api berhasil dipadamkan.
Partikel polutan yang terhirup berisiko mengganggu saluran pernapasan, meningkatkan kerentanan terhadap infeksi, hingga memengaruhi perkembangan sistem kekebalan tubuh anak.
“Dampak partikel kecil kepada anak-anak, dampak jangka panjang masih ada walaupun karhutlanya sudah selesai. Udara bersih hak asasi setiap warga negara Indonesia, dan jangan sampai mengganggu pertumbuhan anak,” ujar Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI, Selasa (3/11/2026).
Ia menambahkan bahwa penggunaan masker dan diam di rumah bukan solusi utama.
“Penggunaan masker, diam di rumah bukan solusi utama. Solusi utama itu lebih ke pemadaman hutan. Mengawal kesehatan dengan berbagai macam edukasi kepada masyarakat,” ujarnya dalam seminar media online.
Sedangkan Dr. Khairiyadi Anggota UKK Respirologi IDAI menjelaskan, data yang dipaparkan bersifat lokal dari rumah sakit terdampak karhutla dan Dinas Kesehatan.
Jumlah kasus pneumonia yang didapatkan tercatat sebagai ISPA per minggu, dengan puncak peningkatan di bulan September. Data tidak bisa diklaim secara spesifik pneumonia karena tercampur dengan kasus lain.
“Daerah yang terdampak paling banyak pertama yakni Banjarmasin, kedua Banjarbaru,” katanya.
Ia menyebutkan, asap karhutla mengandung ozon dan karbon monoksida. PM2,5 dari asap hutan lebih berakibat buruk dibandingkan PM2,5 letusan gunung berapi. Anak-anak lebih rawan karena saluran pernapasan kecil dan frekuensi napas lebih cepat.
“Bahkan dengan adanya asap yang masuk ke rumah, walaupun sudah dipasangi 3 air purifier, tetap masih terkena. Efek dari PM10 nya akan melemahkan saluran napas. Dampaknya asma, rentan infeksi, perkembangan imun terganggu jangka lama,” jelasnya.
Data pembanding tahun 2005 dan 2006 menunjukkan pola yang sama, dimana peningkatan kasus ISPA dan pneumonia mulai terjadi di Agustus dan mencapai puncaknya pada September.
Lebih lanjut, tingkat kekeringan pada 2005-2006 lebih rendah dibandingkan 2026 yang kekeringannya lebih parah.
Data khusus anak per 26 September hingga Oktober masih tinggi meski rawat inap mulai menurun di Oktober, disertai angka kejadian asma berulang yang kambuh 2-3 kali dalam satu musim kemarau.
“Angka kejadian asma berulang, lebih banyak berulangnya bisa sampai 2 sampai 3 kali berulang dalam kemarau ini. Bulan Agustus banyak asma, infeksius infeksi jaringan paru atau jaringan lain. Contoh dari Rumah Sakit Banjarbaru jumlah ISPA memuncak di bulan September dan Agustus,” ujarnya.
Ia memaparkan bahwa diagnosis harus dibedakan antara pneumonitis akibat iritasi gas, eksaserbasi asma, dan penumonia akibat infeksi jaringan paru, dimana kasus yang tidak gawat dapat rawat jalan.
Peran dokter spesialis anak meliputi tahap awal dengan pemetaan pasien rentan, saat kejadian dengan edukasi masyarakat, serta setelah kejadian dengan evaluasi gejala dan penetapan rawat inap, termasuk menentukan kapan pasien harus dirujuk, sembari terus melakukan pencegahan pneumonia.
IDAI mencatat luasan karhutla di Kalsel melonjak drastis dari 24,35 hektare pada 2025 menjadi 8.019,63 hektare pada 2026, yang memicu 182.710 kasus ISPA selama periode Mei hingga Oktober 2026. (fia/saf/ipg)




