Rupiah Terus di Jalur Lemah

kompas.id
8 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS — Nilai tukar rupiah masih di bawah tekanan terhadap dollar AS di tengah ketidakpastian ekonomi global dan terbatasnya minat investor terhadap aset keuangan negara berkembang. Bank Indonesia akan terus mengombinasikan berbagai instrumen intervensi untuk menjaga stabilitas rupiah, sementara Komite Stabilitas Sistem Keuangan menilai fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat untuk menopang ketahanan perekonomian domestik.

Rupiah melemag tipis pada penutupan perdagangan Selasa (3/11/2026). Berdasarkan Bloomberg, rupiah melemah empat poin atau 0,02 persen ke level Rp 18.160 per dollar AS dibandingkan penutupan sehari sebelumnya.

Menteri Keuangan Suahasil Nazara pada konferensi pers hasil rapat berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) IV di Jakarta, Selasa (3/11/2026), mengatakan, tekanan terhadap pasar keuangan domestik yang meningkat sejak Oktober 2026 tidak terlepas dari perkembangan eksternal.

Eskalasi konflik geopolitik yang mendorong kenaikan harga energi global serta kebijakan moneter negara-negara utama yang cenderung ketat meningkatkan ketidakpastian pasar keuangan.

Kondisi tersebut, Suahasil melanjutkan, turut memengaruhi preferensi investor global dalam menempatkan dananya. Minat terhadap aset portofolio di negara berkembang masih relatif terbatas sehingga memperkuat tekanan terhadap mata uang negara-negara tersebut, termasuk rupiah.

”Di pasar keuangan global, preferensi investor terhadap aset portofolio di negara berkembang masih relatif terbatas dan menyebabkan tetap kuatnya indeks mata uang dollar AS terhadap negara maju dan negara berkembang,” ujarnya.

Menurut Suahasil, tekanan terhadap pasar keuangan domestik juga dipengaruhi perkembangan di dalam negeri, termasuk pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengenai kondisi pasar saham Indonesia. Tekanan nilai tukar turut meningkatkan arus keluar modal dari pasar saham.

Pada kesempatan sama, Gubernur BI, Destry Damayanti, mengatakan, intervensi merupakan salah satu instrumen untuk meredam gejolak ketika pergerakan rupiah menyimpang dari nilai fundamentalnya akibat perubahan sentimen secara tiba-tiba.

”Adanya intervensi itu berusaha untuk menyeimbangkan pada saat terjadi di luar fundamentalnya, pada saat terjadi sentimen yang tiba-tiba merusak pola ataupun nilai yang sesungguhnya dari rupiah,” kata Destry.

Menurut dia, intervensi tidak menjadi satu-satunya instrumen yang digunakan BI. Bank sentral mengombinasikannya dengan kebijakan suku bunga, penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), serta insentif untuk menekan biaya lindung nilai atau hedging.

Intervensi juga dilakukan melalui transaksi di pasar domestik maupun luar negeri, termasuk melalui instrumen domestic non-deliverable forward (DNDF) dan non-deliverable forward (NDF). Sejauh ini, BI menilai langkah tersebut masih cukup efektif dalam menjaga stabilitas pasar.

Destry menegaskan, pemilihan instrumen akan disesuaikan dengan kondisi pasar dan sumber tekanan yang dihadapi. Dengan demikian, BI tidak hanya mengandalkan satu instrumen secara terus-menerus, melainkan mengombinasikan berbagai kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Fundamental ekonomi

Di tengah tekanan eksternal, KSSK menilai perekonomian Indonesia masih memiliki daya tahan yang ditopang permintaan domestik, investasi, dan ekspor. Pemerintah memperkirakan pertumbuhan ekonomi hingga akhir 2026 berada di kisaran 5,4-5,5 persen secara tahunan.

Suahasil mengatakan, konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama pertumbuhan, antara lain melalui berbagai stimulus fiskal pemerintah. Investasi juga diperkirakan tumbuh kuat seiring realisasi proyek dan pembangunan infrastruktur dalam program prioritas pemerintah.

Sementara itu, konsumsi pemerintah turut menopang aktivitas ekonomi melalui percepatan belanja dan penyaluran bantuan sosial. Dari sisi eksternal, peningkatan kinerja ekspor serta momentum kenaikan harga dan permintaan komoditas diharapkan turut mendorong aktivitas ekonomi nasional.

Sejumlah indikator ekonomi juga menunjukkan penguatan. Penjualan mobil pada September 2026 tumbuh 28,1 persen secara tahunan, sedangkan penjualan sepeda motor meningkat 15,4 persen. Aktivitas manufaktur pun menguat, tercermin dari kenaikan indeks PMI Manufaktur Indonesia dari 52 pada September menjadi 54 pada Oktober 2026.

Selain ditopang permintaan domestik, pemerintah akan mempertahankan peran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai peredam gejolak atau shock absorber. Instrumen fiskal tersebut digunakan untuk menahan dampak tekanan ekonomi terhadap daya beli masyarakat dan keberlangsungan dunia usaha.

”APBN akan terus berfungsi sebagai shock absorber melalui subsidi, kompensasi, perlindungan sosial, stabilisasi harga pangan, dan berbagai program penciptaan lapangan kerja,” ujar Suahasil.

KSSK menyatakan, berdasarkan hasil asesmen terhadap kondisi triwulan III-2026, stabilitas fiskal, moneter, dan sektor keuangan masih terjaga. Namun, tekanan terhadap pasar keuangan domestik meningkat memasuki Oktober seiring perkembangan ekonomi global dan domestik.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Hasil ILeague Cup: Arema FC Bantai RANS Nusantara 4-0, Samuel Otusanya Cetak 3 Gol
• 17 jam lalurctiplus.com
thumb
OJK Usut Isu Nasabah Bank Swasta Tak Bisa Tarik Dana, Minta Tetap Tenang
• 18 jam lalukumparan.com
thumb
Penguatan Praktik ESG di Asia: dari Program CSR Menuju Integrasi Model Bisnis Utama
• 16 jam lalukompas.tv
thumb
ASDP Operasikan KMP Hafamati HF di Nias Selatan Mulai 5 November 2026
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Di Balik Perang Iran, Ada Manuver Besar China di Timur Tengah
• 15 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.