Penguatan Praktik ESG di Asia: dari Program CSR Menuju Integrasi Model Bisnis Utama

kompas.tv
5 jam lalu
Cover Berita
Asia ESG Positive Impact Awards 2026 akan mengumumkan perusahaan dengan inisiatif keberlanjutan terbaik dari Indonesia, Malaysia dan Filipina pada 4 November. (Sumber: The Star Malaysia)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola atau environmental, social, and governance (ESG) bukan lagi sekadar program sampingan, melainkan semakin terintegrasi secara mendalam ke dalam strategi dan model bisnis utama perusahaan.

Pendekatan ini menandai pergeseran signifikan dari kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR) yang dulunya berdiri sendiri.

Hal tersebut menjadi salah satu pengamatan penting dari dewan juri Asia ESG Positive Impact Awards 2026, ajang penghargaan regional yang kini memasuki tahun kedua penyelenggaraannya untuk memberikan apresiasi kepada perusahaan-perusahaan dengan praktik ESG unggulan di kawasan Asia.

Ajang kompetisi tingkat regional ini merupakan inisiatif bersama dari Asia ESG Positive Impact Consortium, sebuah konsorsium yang mempertemukan Star Media Group dari Malaysia, Inquirer Group of Companies dari Filipina, serta Grup Media Kompas Gramedia dari Indonesia.

Baca Juga: BREAKING NEWS - Jelang Natal 2026, Kapolri dan KWI Koordinasi Persiapan Keamanan

Tahun ini, sebanyak 52 peraih penghargaan Gold dari masing-masing ajang ESG nasional berhasil melaju ke tahap penilaian regional. Ketiga ajang nasional tersebut adalah ESG Positive Impact Awards dari Star Media Group, ESG Edge Impact Awards dari Inquirer Group of Companies, serta Lestari Awards yang digelar oleh Grup Media Kompas Gramedia.

Seluruh peserta yang terbagi dalam kategori perusahaan besar serta perusahaan kecil dan menengah dinilai oleh dewan juri independen yang terdiri dari delapan pakar pada September 2026. Dari Indonesia sendiri, sebanyak 10 pemenang Lestari Awards 2026 dari kategori perusahaan besar dan 2 dari perusahaan kecil dan menengah turut berlaga dalam proses penjurian tingkat regional tersebut.

Pergeseran Menuju Inisiatif Keberlanjutan yang Berdampak Panjang

Presiden sekaligus Kepala Ilmuwan Center for Conservation Innovations, Dr. Neil Aldrin Mallari, mengungkapkan optimisme yang tinggi saat menelaah berbagai program inisiatif yang diajukan peserta, khususnya dalam bidang konservasi keanekaragaman hayati, pengelolaan sampah, dan transformasi perusahaan.

"Program inisiatif terbaik yang saya baca bukan sekadar proyek CSR. Inisiatif-inisiatif tersebut membuktikan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat menjadi bagian dari cara sebuah bisnis dijalankan," ujarnya dalam siaran pers yang diterima KompasTV, Selasa (3/11/2026).

"Yang paling menggembirakan, inisiatif tersebut juga disertai rencana jangka panjang yang kredibel untuk dikembangkan. Hal ini penting. Kegiatan CSR bisa saja berakhir ketika siklus anggaran selesai. Namun, inisiatif yang telah terintegrasi ke dalam tata kelola dan budaya perusahaan cenderung bertahan lebih lama daripada masa jabatan dewan direksi yang memulainya. Inilah perbedaan antara sekadar memberikan donasi dan membangun model bisnis," lanjut Dr. Neil.

Baca Juga: Menkeu Bantah Pajak Transfer Antarbank Mulai 9 November: PPN Bukan atas Uang yang Dikirim

Pandangan senada turut disuarakan oleh tim editorial dan kurator materi A-EPIC Editorial, yang mengamati bagaimana narasi keberlanjutan perusahaan di kawasan Asia Tenggara kini semakin terukur, matang, dan berbasis data konkrit.

Sementara itu, Kepala Unit ESG Malaysia External Trade Development Corporation, Haris Abdul Latiff, menilai bahwa pengajuan terbaik berasal dari perusahaan yang secara aktif memanfaatkan kapabilitas, teknologi, atau model bisnis mereka sendiri untuk menciptakan dampak berkelanjutan yang berpotensi dikembangkan dalam skala lebih luas.

"Beberapa inisiatif menghubungkan masyarakat pedesaan dengan pasar ekspor, menghadirkan akses yang lebih inklusif melalui platform digital, memanfaatkan aset yang tidak terpakai untuk mendukung kegiatan produktif yang rendah emisi karbon, serta membuka kesempatan bagi kelompok rentan untuk berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi melalui program yang terarah," jelas Haris.

Untuk meningkatkan kinerja ESG ke depan, Haris menekankan pentingnya perusahaan mengukur hasil inisiatif dalam jangka panjang menggunakan data yang dapat dipertanggungjawabkan serta melibatkan pihak independen untuk melakukan verifikasi.

"Semakin penting bagi perusahaan untuk menunjukkan bukan hanya apa yang telah dilakukan atau berapa banyak orang yang berpartisipasi, melainkan juga perubahan bermakna yang terjadi dari waktu ke waktu dan apakah manfaat tersebut dapat terus berlanjut setelah periode program berakhir," katanya.

Sinergi Aspek Sosial dan Pelestarian Lingkungan

Di sisi lain, Ketua Indonesian Society of Sustainability Professionals, Satrio Prakoso, menilai perusahaan masih memiliki ruang untuk terus memperkuat cara mengukur dan menunjukkan hasil serta dampak jangka panjang dari berbagai inisiatif yang dijalankan.

Meski demikian, ia mengaku sangat terkesan dengan semakin matangnya penerapan aspek sosial dalam ESG di berbagai negara Asia. Hal itu terlihat dari program-program yang dinilainya mencakup kesejahteraan karyawan, keberagaman dan inklusi, hingga pengembangan talenta.

"Saya secara khusus tertarik melihat bagaimana berbagai program sosial kini mulai diselaraskan dengan tujuan pelestarian lingkungan. Alih-alih memandang kedua aspek ESG tersebut secara terpisah, perusahaan mulai mempertimbangkan dampak yang dihasilkan secara bersamaan terhadap karyawan, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya," jelas Satrio.

Malam Penganugerahan dan Lokakarya Berbasis AI

Para pemenang penghargaan dari 12 kategori nantinya akan diumumkan dalam malam penganugerahan di KLGCC Convention Centre, Kuala Lumpur, Malaysia, pada 4 November.

Menjelang pengumuman pemenang, sesi jejaring eksklusif sebelum malam penganugerahan akan mempertemukan para peserta penghargaan dan pemimpin di bidang keberlanjutan dari Malaysia, Filipina, dan Indonesia. Pertemuan ini diharapkan dapat mempererat jejaring antarnegara di kawasan Asia sekaligus menjadi wadah untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman di bidang keberlanjutan

Keesokan harinya, rangkaian acara akan dilanjutkan dengan lokakarya bertajuk "AI for Practical ESG Execution: Turning Data into Actionable Insights". Dalam lokakarya yang dipandu oleh praktisi kecerdasan buatan (AI) sekaligus Kepala Ilmuwan Data, Dr. Lau Cher Han, para peserta akan belajar memanfaatkan berbagai aplikasi AI untuk mempermudah dan mempercepat pekerjaan terkait ESG-mulai dari mengumpulkan dan mengolah data, menyusun draf dokumen, melakukan pemeriksaan, hingga menyusun laporan keberlanjutan yang komprehensif.

 

Download KompasTV Apps di TV kamu, sekarang juga di https://app.kompas.tv/. Satu apps untuk semua Video Premium, Breaking News, dan Live Streaming 24/7 dari Kompas Gramedia.

Penulis : Dian Nita Editor : Gading-Persada

Sumber : The Star Malaysia

Tag
  • Asia ESG Positive Impact Awards 2026
  • A-EPIC Editorial
  • program CSR
Selengkapnya


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Link Live Streaming Korea Open 2026: Ada 4 Wakil Indonesia Unjuk Gigi, Mutiara Ayu Puspitasari Main
• 19 jam lalutvonenews.com
thumb
LSP jadi Tersangka Penyadapan Prabowo, Menko Yusril Sebut Tidak Terkait Makar
• 5 jam lalukatadata.co.id
thumb
Baznas Bazis DKI Hadirkan Layanan Kesehatan Bersama untuk Warga Terdampak Karhutla
• 14 jam lalujpnn.com
thumb
Jakarta Pertahankan Gelar Juara Umum Kejurnas 2026, Borong 17 Medali
• 11 jam lalukumparan.com
thumb
Persib Mulai Ancam Persija, Asisten pelatih Persib Tegaskan Ambisi Rebut Puncak Klasemen
• 18 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.