Gagal Akuisisi Foodpanda Taiwan, Grab Fokus ke AI dan Bisnis di Asia Tenggara

katadata.co.id
3 jam lalu
Cover Berita

Grab Holdings mengalihkan fokus pertumbuhan bisnis ke kawasan Asia Tenggara dan investasi kecerdasan buatan (AI) setelah gagal mengakuisisi bisnis pengiriman makanan Foodpanda di Taiwan.

Perusahaan layanan transportasi daring dan pesan antar makanan asal Singapura tersebut juga berencana meningkatkan dukungan bagi pengemudi dan mitra pedagang. Langkah ini menjadi bagian dari strategi Grab untuk memperkuat bisnis utamanya di tengah persaingan dan tekanan regulasi di Asia Tenggara.

Mengutip Nikkei Asia, Kepala Keuangan Grab Peter Oey mengatakan perusahaan berencana meningkatkan investasi di bidang AI serta dukungan bagi mitra pengemudi dan pedagang setelah rencana akuisisi Foodpanda Taiwan gagal.

Sebelumnya, pada Oktober, Komisi Perdagangan Adil Taiwan memblokir rencana Grab mengakuisisi bisnis pengiriman lokal Foodpanda senilai sekitar US$600 juta. Keputusan tersebut didasarkan pada kekhawatiran terkait persaingan usaha atau antimonopoli.

Meski demikian, Grab masih membuka peluang untuk berekspansi ke pasar lain. Namun, perusahaan saat ini memilih memprioritaskan pertumbuhan bisnis secara organik di Asia Tenggara.

Mengutip Wall Street Journal, Peter Oey mengatakan ekspansi melalui akuisisi atau pertumbuhan non-organik sulit diprediksi. Karena itu, Grab akan lebih berfokus pada pertumbuhan yang dapat dikendalikan perusahaan.

"Perubahan non-organik sangat sulit diprediksi. Jadi kami sangat fokus pada apa yang dapat kami kendalikan, dan itu adalah pertumbuhan organik bisnis," kata Oey.

Grab Naikkan Target Pendapatan dan Laba 2026

Di tengah perubahan strategi tersebut, Grab mencatatkan kinerja keuangan yang melampaui perkiraan analis pada kuartal terakhir.

Mengutip Strait Times, EBITDA yang disesuaikan Grab meningkat 74% menjadi US$ 237 juta. Capaian tersebut lebih tinggi dibandingkan perkiraan rata-rata analis sebesar US$ 194,2 juta berdasarkan data Bloomberg.

Pendapatan Grab juga tumbuh 27% menjadi US$ 1,1 miliar atau kurang lebih sesuai dengan perkiraan analis.

Kinerja tersebut mendorong Grab menaikkan proyeksi pendapatan dan EBITDA yang disesuaikan untuk sepanjang 2026.

Grab memperkirakan pendapatan tahun ini mencapai US$ 4,15 miliar hingga US$ 4,2 miliar. Sementara itu, EBITDA yang disesuaikan diproyeksikan mencapai US$ 800 juta.

Proyeksi tersebut meningkat dibandingkan perkiraan perusahaan pada Agustus 2026, ketika Grab menargetkan pendapatan US$ 4,15 miliar dan EBITDA yang disesuaikan hingga US$ 740 juta.

Grab juga mencatatkan penambahan sekitar tiga juta pengguna bulanan pada kuartal hingga September 2026. Dengan demikian, total pengguna bulanan perusahaan mencapai 57 juta.

Pertumbuhan tersebut terjadi di tengah persaingan ketat dengan perusahaan seperti GoTo Group dari Indonesia dan pendatang baru Green & Smart Mobility di sejumlah pasar Asia Tenggara.

Meski prospek pendapatan meningkat, Grab masih menghadapi sejumlah tantangan dalam mengembangkan bisnisnya di Asia Tenggara.

Salah satunya tantangan regulasi di Indonesia, yang merupakan salah satu pasar terbesar perusahaan. Indonesia telah memangkas batas maksimum komisi yang dapat dikenakan perusahaan untuk perjalanan menggunakan skuter.

Pemerintah Indonesia juga sedang mempertimbangkan aturan lebih lanjut untuk sektor layanan seperti pengiriman makanan pada akhir 2026.

Selain regulasi, kenaikan harga bahan bakar turut meningkatkan biaya operasional layanan transportasi dan pengiriman. Perusahaan platform menawarkan insentif kepada pengemudi dan pelanggan untuk mengurangi dampaknya, tetapi langkah tersebut berisiko mempersempit margin keuntungan.

Grab juga menghadapi potensi persaingan dari pemain global. Uber Technologies, salah satu pendukung Grab, berpotensi kembali memasuki pasar Asia Tenggara melalui rencana akuisisi Delivery Hero yang membuka jalan bagi Uber Eats.

Di Singapura, Waymo, anak perusahaan Alphabet, juga berencana meluncurkan layanan taksi robot pada 2028.

Untuk mempertahankan pengguna, Grab memperluas penawaran layanan dengan menghadirkan pilihan yang lebih terjangkau dan premium. Perusahaan juga merambah bisnis gim dan drama pendek melalui kemitraan dengan platform lain agar pengguna menghabiskan lebih banyak waktu di aplikasinya.

Di luar bisnis transportasi dan pengiriman makanan, Grab juga memperluas bisnis layanan keuangan. Pada September 2026, perusahaan sepakat mengakuisisi saham mayoritas platform pinjaman digital dan beli sekarang bayar nanti (buy now pay later/BNPL) asal Singapura, Atome Financial, senilai US$ 1,49 miliar.

Sementara itu, saham Grab telah turun lebih dari 40% sejak awal 2026, sehingga nilai pasarnya menyusut menjadi sekitar US$ 11 miliar.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Polda Metro Jaya Larang Anggotanya Gunakan Vape: Ada Sanksi dari Propam Bila Melanggar
• 21 menit lalukumparan.com
thumb
Angkasa Pura Alihkan Seluruh Saham GMFI ke InJourney Senilai Rp 5,6 T
• 19 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Jelang Nataru, Pelni Perkuat Kesiapan Hadapi Cuaca Buruk
• 16 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Kapolri Suyudi Mutasi Wakapolda di Enam Wilayah
• 19 jam lalurctiplus.com
thumb
Pramono Minta Maaf KJMU Tahap II 2026 Terlambat Cair, Target Selesai 6 November
• 23 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.