Konsumsi Masyarakat Lesu, Ekonom Wanti-Wanti Ekonomi Loyo di Q3-2026

cnbcindonesia.com
4 jam lalu
Cover Berita
Foto: CNBC Indonesia/Faisal Rahman

Jakarta, CNBC Indonesia - Menjelang pengumuman realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026 pada esok hari, Kamis (5/11/2026), kalangan ekonom memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan sedikit melambat dibandingkan 5,29% secara tahunan pada kuartal II-2026 dan jatuh lebih dalam dari 5,61% pada kuartal I-2026.

Kepala Ekonom PT Bank Central Asia (BCA) Tbk David E. Sumual memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan bergerak di kisaran 5,15-5,20% secara tahunan pada kuartal III-2026.

"Ekspor dan aktivitas manufaktur menjadi penopang pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2026, sedangkan konsumsi baik di sektor rumah tangga maupun pemerintah tampak melambat dibanding kuartal sebelumnya," kata David kepada CNBC Indonesia, Rabu (4/11/2026).


Baca: Tekanan Ekonomi Membesar, Pemerintah Pede Ekonomi RI Tetap Tumbuh 5,5%

Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,23% secara tahunan pada kuartal III-2026.

"Dengan proyeksi tersebut, pertumbuhan ekonomi sepanjang sembilan bulan pertama 2026 diperkirakan mencapai 5,37%. Artinya, perekonomian Indonesia masih memiliki ketahanan yang cukup baik di tengah tekanan eksternal, tetapi belum menunjukkan akselerasi yang merata," ujar Josua.

Namun, kata Josua, persoalan utamanya bukan semata-mata apakah ekonomi mampu tumbuh di atas 5%, melainkan apakah pertumbuhan tersebut makin ditopang oleh peningkatan pendapatan riil masyarakat, penciptaan lapangan kerja formal, dan pemulihan sektor-sektor padat karya.

Menurutnya, saat ini pertumbuhan ekonomi cenderung masih ditopang oleh kombinasi konsumsi rumah tangga yang relatif bertahan, investasi pada sektor tertentu, serta belanja pemerintah. Sementara itu, sebagian kelompok masyarakat dan sektor usaha masih menghadapi tekanan yang cukup besar.

Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga diperkirakan tumbuh 5,13% secara tahunan dan menyumbang sekitar 2,66 poin persentase terhadap pertumbuhan PDB sebesar 5,23%.

Sementara itu, investasi atau pembentukan modal tetap bruto yang diproyeksikan tumbuh 5,59% memberikan kontribusi sekitar 1,76 poin persentase, sedangkan konsumsi pemerintah yang tumbuh 9,98% menyumbang sekitar 0,69 poin persentase.

Baca: In This Economy, Warga Mulai Mulung Barang Demi Hemat Uang

Menurutnya, komposisi ini menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga dan investasi masih menjadi dua penopang utama pertumbuhan ekonomi.

Namun, terdapat hal yang perlu dicermati. Misalnya, pertumbuhan investasi sebenarnya melambat dibandingkan 6,87% pada triwulan II, demikian pula konsumsi pemerintah yang sebelumnya tumbuh 15,97%.

Dengan demikian, meskipun kedua komponen masih mencatatkan pertumbuhan relatif tinggi, laju pertumbuhannya tidak lagi sekuat triwulan sebelumnya.

"Ini menjadi salah satu penjelasan mengapa pertumbuhan PDB diperkirakan sedikit melambat meskipun sejumlah indikator produksi masih menunjukkan ekspansi," ujarnya.

Risiko terbesar terhadap proyeksi tersebut berasal dari ketahanan konsumsi rumah tangga, terutama pada kelompok menengah dan menengah bawah. Pertumbuhan konsumsi sebesar 5,13% memang sedikit membaik dibandingkan 5,06% pada triwulan II.

Namun, sejumlah indikator menunjukkan bahwa daya beli belum sepenuhnya pulih. Indeks Keyakinan Konsumen September masih berada pada level optimistis sebesar 118,1, tetapi Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini turun dari 109,4 menjadi 107,5. Bahkan, persepsi penghasilan pada kelompok pengeluaran Rp1-2 juta sudah berada di zona pesimistis.

Di sisi lain, perkiraan pertumbuhan penjualan eceran September hanya sekitar 1,4% secara tahunan, sementara kredit konsumsi pada September tumbuh 4,86%, jauh lebih rendah dibandingkan kredit investasi yang mencapai 23,20%. Tekanan harga pangan juga masih cukup tinggi, dengan inflasi pangan bergejolak sebesar 5,03% pada September.

Baca: BI: Transaksi Tanpa Dolar RI US$52,6 M hingga September, Naik 2x Lipat

Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa masyarakat masih berbelanja, tetapi sebagian rumah tangga semakin selektif, mengurangi pengeluaran yang tidak mendesak, beralih ke produk lebih murah, atau menggunakan tabungan untuk mempertahankan konsumsi.

"Inilah yang menjelaskan mengapa pertumbuhan konsumsi agregat masih terlihat baik, sementara tekanan daya beli tetap dirasakan masyarakat," ujarnya.

Bahkan, apabila pertumbuhan konsumsi rumah tangga meleset 0,5 poin persentase di bawah proyeksi, pertumbuhan PDB secara mekanis dapat berkurang sekitar 0,26 poin persentase, dengan asumsi komponen lainnya tidak berubah.


(arj/arj)
Saksikan video di bawah ini:
Swasembada Pangan Sudah Berhasil, Tapi Bagaimana Daya Beli Masyarakat?

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Apakah Gibran Ikut Disadap Listyo Cs?  Menko Yusril: Yang Baru Saya Dengar Presiden!
• 7 jam laluokezone.com
thumb
Penyadapan Presiden Serta Sejumlah Pejabat dan Tokoh Diduga Bermotif Politik
• 36 menit lalusuarasurabaya.net
thumb
Swiss Genjot Promosi Pariwisata untuk Tingkatkan Minat Wisatawan Indonesia
• 18 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Bank Indonesia Ungkap Aliran Modal Asing Tembus USD13,23 Miliar per Oktober 2026
• 5 jam laluidxchannel.com
thumb
Kapan Sebaiknya Shalat Taubat? Ini Penjelasan Ustaz Abdul Somad Lengkap dengan Tata Caranya
• 3 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.