Di Tiongkok kuno, ritual persembahan kurban bukan sekadar upacara seremonial. Ritual tersebut berlandaskan sebuah prinsip yang dipetik Dinasti Zhou dari keruntuhan dua dinasti sebelumnya: Mandat Langit bergantung pada kebajikan.
Oleh Chen Jing
Penghormatan terhadap Langit yang secara historis dipegang teguh oleh masyarakat Tiongkok merupakan prinsip mendasar dalam astronomi, pemerintahan, ritual, dan kehidupan sehari-hari. Prinsip tersebut menjadi salah satu fondasi peradaban Tiongkok kuno. Penghormatan seorang kaisar kepada Langit merupakan kunci keberhasilannya.
Menurut kepercayaan tradisional, manusia tidak hidup secara terpisah tanpa keterkaitan dengan alam semesta. Di antara Langit dan dunia manusia terdapat banyak roh dan dewa yang berada pada berbagai tingkatan alam surgawi. Masing-masing memiliki peran yang telah ditetapkan secara ilahi dalam tatanan yang lebih besar, demikian pula manusia.
Para kaisar dipercaya memerintah di bumi berdasarkan Mandat Langit. Oleh karena itu, para penguasa zaman dahulu menjalankan pemerintahan dengan penuh penghormatan dan menekankan pentingnya persembahan kurban, ramalan, serta doa untuk menjaga ketertiban negara.
Prinsip abadi bahwa “manusia harus menghormati Langit dan membina kebajikan” dapat ditemukan dalam berbagai tradisi. Hal ini terlihat dari penggunaan tulang ramalan oleh Dinasti Shang untuk berkomunikasi dengan kekuatan ilahi; keyakinan Dinasti Zhou bahwa sebagai “Putra Langit”, kaisar harus dipandu oleh prinsip-prinsip surgawi; serta pentingnya persembahan kurban, introspeksi diri, dan doa dalam sejarah, yang dilandasi pemahaman bahwa kebaikan maupun kejahatan akan memperoleh balasannya.
Naskah-naskah kuno Tiongkok, seperti Kitab Sejarah (Shangshu 尚書) dan Kitab Syair (Shijing 詩經), membahas bagaimana segala sesuatu, termasuk kebangkitan dan keruntuhan dinasti, berkaitan dengan kehendak Langit.
Dalam masyarakat agraris pada masa awal tersebut, manusia menghargai bumi sebagaimana mereka menghormati Langit. Tanah, air, bahkan hasil panen merupakan bagian dari suatu sistem ritual menyeluruh yang membedakan roh-roh bumi dengan makhluk-makhluk ilahi.
Dengan demikian, dunia manusia tetap memiliki hubungan dengan Langit, dan manusia memahami kedudukan mereka yang semestinya. Hidup di antara Langit dan bumi, bahkan para penguasa pun menyadari bahwa mereka tidak boleh bertindak tanpa batasan. Penghormatan, pengabdian, dan persembahan seorang kaisar kepada kekuatan yang lebih tinggi sangat penting bagi pemerintahan dan penegakan moralitas.
Urusan penting negara dipandu oleh para dewaBerdasarkan prasasti tulang ramalan Dinasti Shang yang masih bertahan hingga sekarang, jelas bahwa negara pada masa itu mengandalkan bimbingan ilahi. Berbagai urusan penting istana secara rutin dikonsultasikan kepada para dewa melalui praktik ramalan. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat lebih mempercayai kehendak Langit daripada penilaian manusia semata.
Persoalan tersebut dianggap begitu penting sehingga sejumlah personel khusus ditugaskan menangani praktik ramalan dan persembahan kurban. Seiring berjalannya waktu, dibentuklah berbagai departemen resmi yang menangani persembahan kurban, ramalan, astronomi, dan penanggalan. Dengan demikian, Langit dilibatkan dalam seluruh urusan negara.
Mandat Langit berkaitan erat dengan kebajikanKetika Dinasti Zhou menggulingkan Dinasti Shang, persoalan mengenai Mandat Langit mulai dipertanyakan. Bukankah Dinasti Shang sebelumnya memperoleh perkenan Langit? Benar, tetapi perkenan tersebut memiliki persyaratan.
Menurut bagian “Nyanyian Agung” dalam Kitab Syair, “Mandat Langit tidak bersifat mutlak.” Artinya, mandat tersebut dapat dicabut. Tidak ada keluarga atau dinasti yang dapat beranggapan bahwa mereka akan memegang mandat itu untuk selamanya.
Menurut “Maklumat Shao” dalam Kitab Sejarah, “Mereka yang tidak mempertahankan kebajikannya akan segera kehilangan mandatnya.” Kitab Zhou juga menyatakan, “Yang Mahakuasa (Shangdi 上帝) tidak memihak siapa pun, tetapi hanya menolong mereka yang berbudi luhur.”
Dinasti Shang runtuh ketika korupsi telah mencapai tingkat yang sangat parah. Para penguasanya menjalankan pemerintahan dengan tirani, eksploitasi, dan kemerosotan moral, alih-alih membina kebajikan.
Hal ini menunjukkan bahwa mereka yang dianugerahi takhta harus selalu mengingat kewajiban untuk menghormati Langit dan menjalankan kehendak Tuhan.
Para Putra Langit melaksanakan upacara persembahan kurbanKaisar-kaisar Tiongkok diberi gelar suci sebagai Putra Langit (Tianzi 天子). Salah satu cara terpenting bagi mereka untuk menunjukkan penghormatan adalah dengan mempersembahkan kurban kepada Langit.
Upacara persembahan kurban bukanlah perkara sepele. Upacara tersebut menunjukkan kedudukan Langit yang tertinggi di atas kekuasaan politik manusia, dan setiap dinasti menjalankannya dengan sangat serius.
Puasa serta berbagai ketentuan ketat mengenai waktu, tempat, tata cara ritual, dan wadah persembahan memastikan bahwa upacara tersebut dilaksanakan dengan penuh ketulusan dan penghormatan.
Para kaisar mempersembahkan kurban bukan hanya untuk menunjukkan rasa hormat, tetapi juga untuk memohon pertolongan Langit. Cuaca yang baik, panen melimpah, kedamaian, dan kemakmuran merupakan hal penting bagi semua orang. Hal ini tercermin dalam upacara persembahan kurban serta penghormatan tradisional terhadap Langit dan bumi.
Perubahan musim juga memainkan peran penting. Karena pergantian musim menjadi dasar penentuan kalender dan mengatur kegiatan pertanian, para kaisar dengan cermat melaksanakan persembahan kurban sesuai musim.
Semua ini menunjukkan tradisi budaya menghormati Langit, mengamati tanda-tanda alam surgawi, dan menjalani kehidupan selaras dengan pergantian musim.
Langit mengatur Putra LangitDi Tiongkok kuno, kaisar memegang kekuasaan tertinggi di dunia manusia. Namun, hal itu tidak berarti ia dapat bertindak tanpa batasan. Sebaliknya, gelar “Putra Langit” justru mengikatnya pada Mandat Langit.
Meskipun kaisar memerintah seluruh wilayah kekuasaannya, ia tidak boleh menganggap dunia sepenuhnya sebagai miliknya. Demikian pula, tidak ada dinasti yang dapat berharap memerintah untuk selamanya. Sebagaimana dibuktikan oleh keruntuhan Dinasti Xia dan Shang, Mandat Langit memiliki persyaratan.
Mereka yang memegang Mandat Langit berkewajiban menghormati Langit, sedangkan mereka yang menghormati Langit harus membina kebajikan. Oleh karena itu, lembaga-lembaga pemerintahan kuno memahami satu prinsip: semakin besar kekuasaan seseorang, semakin kecil pula ruang baginya untuk bersikap tidak hormat.
Penghormatan dan kebajikan berjalan beriringan. Untuk menjadi pemimpin yang baik, seseorang harus memiliki kedua sifat tersebut.
Kitab Sejarah juga membahas hal ini dengan menekankan tiga hal, yaitu mengenal kebajikan (mingde 明德), menghormati kebajikan (jingde 敬德), dan melindungi rakyat (baomin 保民).
Dengan demikian, sejak Dinasti Zhou telah dipahami bahwa persembahan kurban tidak boleh dilakukan secara dangkal atau sekadar formalitas.
Seseorang tidak dapat menipu roh-rohUpacara persembahan kurban bukan sekadar persoalan ritual. Roh-roh bukanlah entitas yang dapat disuap dengan hadiah. Mereka dapat melihat isi hati seseorang sekaligus perilakunya.
Semewah apa pun persembahan yang diberikan, semuanya tidak akan berguna apabila penghormatan kaisar tidak tulus. Hal ini kembali berkaitan dengan kebajikan.
Untuk mempersembahkan kurban dengan tulus, seseorang harus memiliki hati yang benar-benar berbudi luhur. Seseorang tidak dapat berdoa dengan khusyuk pada suatu hari, lalu bertindak semaunya sendiri pada hari berikutnya.
Ia harus memiliki tekad dan disiplin diri untuk berperilaku baik serta mengabdi kepada Langit dan para dewa dengan penuh penghormatan, bahkan ketika tidak ada seorang pun yang melihatnya.
Konsep inilah yang turut membentuk nilai-nilai moral tradisional di Tiongkok.
Melakukan introspeksi dan memperbaiki kekuranganSejak zaman kuno, para sejarawan Tiongkok memberikan perhatian khusus terhadap bencana alam, bukan hanya pada peristiwa itu sendiri.
Catatan sejarah menunjukkan bahwa selain menyelenggarakan upaya penanggulangan bencana, istana sering kali mengadakan doa dan upacara persembahan kurban. Namun, ada satu kegiatan penting lainnya yang juga dilakukan, yaitu introspeksi diri dan memperbaiki kesalahan.
Hal ini berarti mereka yang memegang kekuasaan akan merenungkan perilaku pribadi dan urusan pemerintahan untuk mencari kekurangan yang mungkin telah menyebabkan rakyat menderita tanpa alasan yang semestinya.
Dengan kata lain, ketika bencana terjadi, para pemimpin besar segera mengambil tanggung jawab dengan mencari kesalahan dalam diri mereka sendiri dan memperbaikinya sesuai dengan Mandat Langit.
Tradisi “introspeksi diri ketika menghadapi bencana” muncul karena bencana dianggap sebagai suatu peringatan. Ketika segala sesuatu berjalan baik, manusia cenderung menjadi terlena dan berpuas diri. Oleh karena itu, bencana besar akan mengingatkan mereka bahwa kehendak Langit tidak boleh dianggap remeh.
Dengan demikian, pendekatan tradisional Tiongkok dalam menghadapi bencana mencakup doa, introspeksi diri, dan pembinaan kebajikan.
Penghormatan menuntut pengendalian diriPenghormatan sejati dalam tradisi Tiongkok pada akhirnya tercermin melalui perilaku pribadi seseorang. Seseorang tidak bisa sekadar mengajarkan moralitas demi pencitraan, sementara dalam kehidupan pribadinya justru mengabaikan nilai-nilai tersebut.
Orang yang benar-benar memiliki rasa hormat memahami bahwa prinsip-prinsip Langit tidak boleh dilanggar, roh-roh tidak dapat ditipu, dan manusia harus bersikap jujur terhadap diri sendiri, berbuat baik kepada orang lain, serta menghormati leluhur.
Hukum dan hukuman dalam sistem peradilan hanya dapat mengatur perilaku seseorang dari sisi luar. Sementara itu, penghormatan yang sejati akan membimbing seseorang dari dalam hatinya.
Dengan merendahkan hati di hadapan Langit, rasa hormat mendorong seseorang untuk mengendalikan diri ketika berhadapan dengan berbagai keinginan dan kepentingan duniawi, bahkan ketika ia sedang sendirian.
Dengan cara inilah moralitas dapat dipertahankan dalam kehidupan manusia.
Diterjemahkan dari artikel asli berbahasa Tionghoa di secretchina.com berjudul “Mengapa Kaisar-Kaisar Kuno Harus Mempersembahkan Kurban kepada Langit? Di Baliknya Terdapat Suatu Peradaban yang Utuh (Bagian 1)”, yang ditulis oleh Chen Jing.
Penyuntingan terjemahan oleh Ila Bonczek.





