Persebaya selalu punya cara untuk mempermalukan diri sendiri. Setelah nyaris kalah saat menjamu tim juru kunci Persijap Jepara dalam kompetisi Super League 2026-27, kini Bajul Ijo benar-benar rontok di hadapan Kendal Tornado FC, dalam pertandingan perdana Grup G League Cup, di di Stadion Sriwedari, Solo, Jawa Tengah, Selasa (3/11/2026) ,malam.
Saat ini Kendal Tornado FC berada di kasta kedua liga sepak bola Indonesia, Pegadaian Championship. Klub ini didirikan pada 2018 di Pekanbaru, Riau. Mereka kemudian naik kasta dan berkompetisi di Liga 2 2026-26 dan boyongan ke Kendal, Jawa Tengah, mengubah nama menjadi Kendal Tornado FC.
Di atas kertas, tak ada alasan bagi Persebaya untuk kalah. Skuat Persebaya jauh lebih mentereng. Transfermarkt memperkirakan total nilai pasar skuat Kendal Tornado tersebut hanya Rp33 miliar. Hanya kurang lebih sepertiga dari nilai skuat Persebaya di pasaran.
Namun semua kalkulasi di atas kertas tinggal catatan saja. Di lapangan, Kendal benar-benar menjadi tornado yang mengobrak-abrik pertahanan Persebaya. Persebaya boleh saja memguasai aliran bola hingga 64 persen. Namun Tornado terbukti lebh klinis dan tajam.
Dari delapan tembakan ke gawang Ernando Ari, enam tembakan akurat dan membuahkan tiga gol. Bandingkan dengan Persebaya yang menembak 14 kali, namun hanya tiga yang tepat sasaran dan dua gol saja yang bersarang di gawang Er Deva.
Merombak starting eleven dengan menurunkan pemain muda dan pemain yang jarang diturunkan seperti Aleandro Maulana (19 tahun), Sadida Putra (21), dan Dicky Kurniawan (24), Syahrul Lasinari (26), dan Yusuf Meilana (28), Persebaya justru tertinggal lebih dulu melalui Akbar Firmansyah pada menit 59.
Persebaya sebenarnya berhasil membalas dan bahkan unggul pada menit 71 melalui Ramadhan Sananta dan Toni Firmansyah pada menit 78. Namun bermain tanpa beban, anak-anak asuhan Stefan Keltjes (mantan pemain Persebaya dan putra pemain legendaris Rudy Keltjes), justru membalik keadaan melalui Dimas Sukarno pada menit 86 dan Patrick Cruz pada menit 90.
Kekalahan ini tak menyisakan penjelasan apapun, kecuali pertanyaan publik terhadap kualitas dan kapasitas Bernardo Tavares sebagai pelatih. Bagaimana mungkin Tavares bisa membawa PSM juara dengan kondisi tim yang dihalangi persoalan finansial, namun justru tampil memalukan saat melatih Persebaya yang secara finansial dan materi tim lebih bagus?
Apakah Tavares hanyalah keajaiban semusim alias one season wonder yang setelah itu tak bisa mengulangi keajiaban itu? Kendal Tornado memberikan pelajaran penting bermain sepak bola efektif malam itu kepada Persebaya, dengan melakukan serangan balik yang mematikan. Pelajaran pahit. [wir/aje]




