Jakarta, VIVA - Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP PDIP, Hasto Kristiyanto mengajak mahasiswa dan kalangan Generasi Z (Gen-Z) untuk membedah serta membumikan teori Geopolitik Soekarno yang dikonstruksikan ke dalam konsep Progressive Geopolitical Coexistence.
Hasto menilai, pemikiran geopolitik Bung Karno mengajarkan bahwa perjuangan membela kepentingan nasional harus berakar kuat dari pemahaman aspek historis, kondisi geografis, penguasaan ilmu
pengetahuan, hingga kepekaan terhadap denyut penderitaan rakyat kecil.
Penegasan tersebut disampaikannya dalam acara 'Pelatihan Penguatan Literasi Geopolitik Bagi Gen-Z' bertajuk "Memahami Dunia, Memperkuat Indonesia" yang digelar di Aula Soekarno, Kampus Universitas Bung Karno (UBK), Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (4/11/2026).
"Geopolitik mengajarkan pengetahuan dan kajian tentang konstelasi geografis yang berkaitan dengan perjuangan national interest suatu bangsa. Bung Karno mengajarkan bagaimana national interest itu muncul dari pemahaman aspek historis, geografis, geostrategis, dan geoekonomi kita," ujar Hasto.
Ia menjelaskan, cara pandang geopolitik Soekarno tidak pernah memisahkan antara realitas sosial masyarakat dengan percaturan politik internasional.
Menurutnya, generasi muda saat ini dituntut memiliki wawasan yang holistik, di mana pemahaman terhadap kondisi rakyat (society view) harus terhubung secara utuh dengan cara pandang kebangsaan (national view) dan wawasan global (global view).
"Ketika mahasiswa bertemu dengan rakyat dan melihat dinamika kehidupan rakyat (society view), itu tidak terlepas dari national view dan global view, serta perspektif historisnya," kata Hasto.
Hasto pun memaparkan, Bung Karno meletakkan bentang kepulauan nusantara dari Sabang sampai Merauke bukan sekadar batas administratif sebuah negara-bangsa (national state), melainkan satu kesatuan cita-cita besar.
Visi tersebut memproyeksikan Indonesia sebagai kekuatan maritim terbesar di Samudra Hindia yang bersiap menatap masa depan peradaban di kawasan Pasifik.
"Mengapa Bung Karno menyebut dari Sabang sampai Merauke bukan hanya satu national state, tetapi juga satu kesatuan cita-cita? Yakni visi menjadi negara terbesar di Samudra Hindia yang menatap masa depan di Pasifik, serta mengapa ilmu pengetahuan menjadi instrumen penting agar kita bisa menjadi bangsa pemimpin? Itulah pentingnya literasi geopolitik ini," tuturnya.





