Hasto Ajak Mahasiswa UBK Miliki Cara Pandang Geopolitik: Bela Kepentingan Nasional di Dunia

viva.co.id
6 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA - Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP PDIP, Hasto Kristiyanto mengajak mahasiswa dan kalangan Generasi Z (Gen-Z) untuk membedah serta membumikan teori Geopolitik Soekarno yang dikonstruksikan ke dalam konsep Progressive Geopolitical Coexistence.

Hasto menilai, pemikiran geopolitik Bung Karno mengajarkan bahwa perjuangan membela kepentingan nasional harus berakar kuat dari pemahaman aspek historis, kondisi geografis, penguasaan ilmu
pengetahuan, hingga kepekaan terhadap denyut penderitaan rakyat kecil.

Baca Juga :
Ribuan Gen Z di Jerman Demo Gara-gara Rencana Wajib Militer, Kerusuhan Pecah di 3 Kota hingga 200 Orang Ditangkap Polisi
Soal Deklarasi Sumpah Pemuda, Polda Metro Jaya Sampaikan Permohonan Maaf

Penegasan tersebut disampaikannya dalam acara 'Pelatihan Penguatan Literasi Geopolitik Bagi Gen-Z' bertajuk "Memahami Dunia, Memperkuat Indonesia" yang digelar di Aula Soekarno, Kampus Universitas Bung Karno (UBK), Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (4/11/2026).

"Geopolitik mengajarkan pengetahuan dan kajian tentang konstelasi geografis yang berkaitan dengan perjuangan national interest suatu bangsa. Bung Karno mengajarkan bagaimana national interest itu muncul dari pemahaman aspek historis, geografis, geostrategis, dan geoekonomi kita," ujar Hasto.

Ia menjelaskan, cara pandang geopolitik Soekarno tidak pernah memisahkan antara realitas sosial masyarakat dengan percaturan politik internasional.

Menurutnya, generasi muda saat ini dituntut memiliki wawasan yang holistik, di mana pemahaman terhadap kondisi rakyat (society view) harus terhubung secara utuh dengan cara pandang kebangsaan (national view) dan wawasan global (global view).

"Ketika mahasiswa bertemu dengan rakyat dan melihat dinamika kehidupan rakyat (society view), itu tidak terlepas dari national view dan global view, serta perspektif historisnya," kata Hasto.

Hasto pun memaparkan, Bung Karno meletakkan bentang kepulauan nusantara dari Sabang sampai Merauke bukan sekadar batas administratif sebuah negara-bangsa (national state), melainkan satu kesatuan cita-cita besar.

Visi tersebut memproyeksikan Indonesia sebagai kekuatan maritim terbesar di Samudra Hindia yang bersiap menatap masa depan peradaban di kawasan Pasifik.

"Mengapa Bung Karno menyebut dari Sabang sampai Merauke bukan hanya satu national state, tetapi juga satu kesatuan cita-cita? Yakni visi menjadi negara terbesar di Samudra Hindia yang menatap masa depan di Pasifik, serta mengapa ilmu pengetahuan menjadi instrumen penting agar kita bisa menjadi bangsa pemimpin? Itulah pentingnya literasi geopolitik ini," tuturnya.

Baca Juga :
Wamentan Ungkap Stok Beras RI Tembus 4,5 Juta Ton, Bisa Bertahan 10 Bulan
Jakarta Diguncang 61 Titik Demo Hari Ini, di DPR hingga Mahasiswa Trisakti Turun Aksi
Kapolri Ingatkan Satu Hal Penting Ini ke Massa yang Demo Hari Ini

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
KAI Tambah 39 Perjalanan Mulai 1 Desember 2026, Kapasitas Angkut Jadi 7.000 Kursi per Hari
• 21 jam laluidxchannel.com
thumb
KWI Sambut Baik Program Minggu Kasih Polri untuk Perkuat Sinergi Keamanan
• 21 jam lalurepublika.co.id
thumb
Ikuti Self-Care AMRun 2026, SSR dan Ethos Perluas Edukasi Penggunaan Antibiotik
• 12 jam lalurepublika.co.id
thumb
Kepala Bappeda Jakarta Atika Nur Rahmania Meninggal Dunia
• 1 jam lalukompas.id
thumb
Kalimat Mahfud MD soal Listyo Sigit Tersangka Penyadapan Prabowo, Makjleb!
• 14 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.