Probolinggo (beritajatim.com) – Kebijakan mutasi seorang guru senior berbuntut keresahan di sebuah taman kanak-kanak (TK) di Probolinggo, Jawa Timur. Tiga guru lainnya memilih mengundurkan diri dalam waktu berdekatan.
Kondisi ini membuat wali murid turun tangan dan memprotes pihak yayasan karena khawatir kenyamanan belajar 58 siswa terganggu.
Protes tersebut disampaikan melalui aksi membawa poster dan audiensi dengan pihak yayasan, Rabu (4/11/2026). Wali murid mendesak kepala sekolah diganti serta meminta guru senior yang telah mengabdi sekitar 20 tahun itu dikembalikan ke sekolah semula.
Persoalan ini bukan sekadar perubahan susunan tenaga pengajar. Sejumlah orang tua mengaku mulai melihat dampak perubahan tersebut terhadap kondisi anak-anak. Ada siswa yang menangis ketika mengetahui guru kesayangannya tidak lagi mengajar. Bahkan, beberapa anak disebut mulai enggan berangkat ke sekolah.
Salah seorang wali murid, Nunuk, mengungkapkan polemik bermula dari hubungan yang kurang harmonis antara kepala sekolah dan sejumlah guru. Situasi kemudian berkembang setelah guru senior dimutasi. Tak lama berselang, tiga guru lainnya menyatakan mundur.
“Awalnya masalah pribadi, tidak cocok sama kepala sekolah. Terus guru senior ini dimutasi, kemudian tiga guru lainnya ikut-ikutan resign,” ungkap Nunuk.
Wali murid mempertanyakan alasan di balik kebijakan tersebut. Terlebih, guru senior yang dimutasi telah mengajar selama kurang lebih 20 tahun dan memiliki kedekatan dengan para siswa.
Keresahan orang tua semakin besar karena tenaga pengajar yang tersisa kini hanya tiga orang untuk menangani 58 siswa.
Wali murid lainnya, Sofyan, mengatakan minimnya informasi pada awal kejadian membuat orang tua bertanya-tanya. Pengunduran diri tiga guru yang waktunya berdekatan dengan mutasi guru senior memunculkan dugaan adanya persoalan internal sekolah.
“Sebagai wali murid yang kurang informasi, pastinya ada pikiran negatif. Kok tiba-tiba resign seperti itu? Makanya kami ingin bertanya langsung dan duduk bersama supaya jelas persoalannya,” kata Sofyan.
Dalam audiensi tersebut, wali murid mendapatkan penjelasan bahwa ketiga guru mengundurkan diri karena ingin fokus menyelesaikan pendidikan kuliah. Namun, orang tua tetap berharap mereka bersedia kembali mengajar demi menjaga kestabilan kegiatan belajar anak-anak.
Tak hanya persoalan tenaga pengajar, wali murid juga menyoroti kenaikan SPP dari Rp95 ribu menjadi Rp110 ribu. Mereka berharap peningkatan biaya tersebut diimbangi dengan kualitas pelayanan pendidikan dan perhatian terhadap kebutuhan siswa.
Sementara itu, kepala TK dari pihak yayasan, Etik, membenarkan tiga guru telah mengundurkan diri. Namun, dia menegaskan keputusan tersebut merupakan pilihan pribadi masing-masing guru, bukan akibat persoalan dengan pihak sekolah.
“Ketiganya ingin fokus kuliah. Mereka sudah semester lima dan nantinya akan melanjutkan ke PGSD. Jadi, itu keputusan mereka sendiri,” jelas Etik.
Mengenai mutasi guru senior, Etik membantah kebijakan tersebut berkaitan dengan buruknya kinerja. Sebaliknya, dia menyebut guru tersebut memiliki prestasi baik dan justru berpeluang mendapatkan tanggung jawab lebih tinggi.
“Beliau guru senior, prestasinya bagus. Rotasi kan merupakan hal yang wajar. Jadi, bukan karena kami buang atau karena kinerjanya tidak baik,” ujarnya.
Etik menjelaskan, mutasi merupakan bagian dari kewenangan yayasan dalam melakukan penataan tenaga pendidik di sejumlah lembaga pendidikan yang dinaunginya. Pihak yayasan pun tetap mempertahankan keputusan tersebut meski mendapat keberatan dari wali murid.
Terkait hanya tersisanya tiga tenaga pengajar, Etik mengklaim jumlah tersebut masih mencukupi untuk menangani 58 siswa. Dia memastikan kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung.
Namun, bagi wali murid, persoalannya bukan semata-mata apakah tiga guru masih mampu menangani puluhan siswa. Mereka menginginkan kepastian bahwa anak-anak tetap mendapatkan pendampingan yang layak, termasuk mempertahankan kedekatan dengan guru yang selama ini telah menjadi bagian dari keseharian mereka di sekolah. [rap/suf]




