Industri pertambangan menghadapi biaya energi besar akibat ketergantungan pada bahan bakar diesel.
IDXChannel - Industri pertambangan menghadapi biaya energi besar akibat ketergantungan pada bahan bakar diesel.
Fluktuasi harga bahan bakar, kompleksitas distribusi ke lokasi tambang, hingga kepastian pasokan menjadi faktor yang memengaruhi struktur biaya dan produktivitas operasional perusahaan tambang.
Tantangan tersebut semakin besar bagi perusahaan yang beroperasi di wilayah terpencil dengan akses distribusi bahan bakar terbatas. Kondisi ini membuat industri pertambangan perlu mencari alternatif energi yang lebih efisien dan andal untuk menjaga keberlangsungan operasional.
Salah satu alternatif yang mulai dikembangkan adalah elektrifikasi melalui pemanfaatan energi terbarukan, sistem penyimpanan baterai, dan kendaraan listrik. Teknologi tersebut dinilai dapat membantu perusahaan mengurangi ketergantungan terhadap diesel sekaligus mengoptimalkan biaya energi.
Director of Mobility SUN Karina Darmawan menuturkan, elektrifikasi kini bukan lagi sekadar strategi keberlanjutan, melainkan keputusan bisnis untuk memperkuat efisiensi dan daya saing industri pertambangan.
"Bagi industri pertambangan, elektrifikasi bukan lagi sekadar strategi keberlanjutan, tetapi keputusan bisnis untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing. Ketergantungan pada diesel menghadirkan tantangan biaya, distribusi, dan kepastian pasokan. Dengan teknologi yang semakin berkembang, perusahaan tambang kini memiliki lebih banyak pilihan untuk mengelola kebutuhan energinya secara lebih efisien dan andal,” ujar Karina dalam keterangannya, Rabu (4/11/2026).
Pengembangan elektrifikasi untuk sektor pertambangan tengah dilakukan di Kalimantan Timur antara lain mencakup kapasitas pembangkit energi hingga 80 megawatt (MW), sistem penyimpanan energi berbasis baterai atau Battery Energy Storage System (BESS) berkapasitas 160 megawatt hour (MWh), serta penggunaan lebih dari 1.000 kendaraan listrik untuk mendukung kegiatan operasional tambang.
Sumber energi yang dikembangkan salah satunya berasal dari pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terapung di area void atau bekas lubang tambang yang telah terisi air. Energi yang dihasilkan dapat disimpan melalui BESS untuk membantu menjaga ketersediaan pasokan listrik sesuai kebutuhan operasional.
Karina menegaskan, penerapan elektrifikasi tidak cukup hanya dengan mengganti kendaraan berbahan bakar diesel menjadi kendaraan listrik. Kesiapan pasokan energi, stasiun pengisian daya, bengkel, fasilitas perawatan, hingga sistem pengelolaan armada juga perlu diperhatikan.
“Elektrifikasi pertambangan bukan sekadar mengganti kendaraan diesel dengan kendaraan listrik. Yang terpenting adalah memastikan seluruh ekosistemnya siap, termasuk pasokan energi, charging station, workshop, maintenance, dan sistem pengelolaan armada,” kata Karina.
Dalam penerapannya, perusahaan tambang juga dapat menggunakan skema Electrification as a Service yang memungkinkan elektrifikasi dilakukan tanpa investasi awal atau capital expenditure (CAPEX). Skema ini mencakup perencanaan, pembangunan infrastruktur, penyediaan teknologi, pengelolaan operasional, hingga pemeliharaan berdasarkan cakupan layanan dan kesepakatan kerja sama.
Menurut Karina, penerapan teknologi dan pendekatan yang tepat dapat membuat elektrifikasi menjadi peluang untuk meningkatkan efisiensi, bukan sekadar tambahan biaya bagi industri pertambangan.
“Green mining tidak harus dilihat sebagai tambahan biaya bagi industri. Dengan pendekatan dan teknologi yang tepat, elektrifikasi justru dapat menjadi peluang untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing," katanya.
(kunthi fahmar sandy)





