jpnn.com, JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III-2026 lebih tinggi daripada sejumlah negara G20 lain dengan capaian 5,47 persen secara year on year.
Secara kumulatif year to date, pertumbuhan ekonomi nasional tercatat berada di angka yang solid yakni 5,45 persen.
BACA JUGA: Pemerintah Tidak Khawatir, Airlangga Sebut Inflasi Oktober 2026 Masih Aman
Airlangga menyebutkan capaian tersebut diraih di tengah ketidakpastian global, dimana tingginya suku bunga dan minyak global.
"Lebih tinggi dari berbagai negara lain di negara G20 seperti China yang di angka 4,5 persen, Korea Selatan 3,4 persen, Jerman 1,2 bahkan Jepang di angka 0,7 persen," kata Airlangga di kantornya, Kamis (5/11).
BACA JUGA: Menko Airlangga Optimistis Rupiah Tak Akan Sentuh Rp19.000 per Dolar AS
Airlangga menjelaskan pertumbuhan pada kuartal ketiga ini didorong permintaan domestik, melalui konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,04 persen, dengan kontribusi sebesar 51,97 persen terhadap PDB nasional.
Konsumsi pemerintah turut mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 8,95 persen, akibat penggenjotan belanja pada kuartal II dan III untuk mendanai program unggulan seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan koperasi KDMP.
BACA JUGA: Tegas, Airlangga Sebut Laporan MSCI Tak Sesuai Fundamental Ekonomi RI
Kinerja ekspor tercatat tumbuh 4,58 persen yang lebih tinggi dibandingkan kuartal kedua sebesar 4,07 persen.
Impor juga mengalami kenaikan sebesar 7,31 persen, terutama dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan produksi, investasi, bahan baku, serta barang modal.
Sektor industri pengolahan turut menopang pertumbuhan kuartal ketiga, dengan kontribusi sebesar 19,22 persen serta laju pertumbuhan yang kencang di angka 5,87 persen.
Pertumbuhan industri tersebut didukung oleh subsektor makanan dan minuman sebesar 7,09 persen, kimia dan farmasi 8,1 persen, serta logam dasar mencapai 9,94 persen sebagai bagian dari kebijakan hilirisasi.
Peningkatan pada sektor kimia dan farmasi dipengaruhi oleh kebijakan B50 serta kenaikan produksi farmasi, sementara industri otomotif tercatat tumbuh sebesar 6,14 persen.
Sektor jasa memberikan sumbangsih dari jasa makanan dan minuman sebesar 11,22 persen, jasa keuangan 8,47 persen, serta infokom yang tumbuh 7,13 persen melampaui pertumbuhan ekonomi.
Kontribusi industri digitalisasi juga dilaporkan meningkat sekitar 4,28 persen, diikuti oleh industri konstruksi yang tumbuh 6,42 persen.
Ailangga menjelaaskan industri konstruksi tumbuh dari kebijakan pemerintah di sektor perumahan, Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan sekolah rakyat.
"Kegiatan terkait KDMP dan juga sekolah rakyat itu menumbuhkan kebutuhan semen dan yang lain," tuturnya. (rom/jpnn)
Redaktur : Budianto Hutahaean
Reporter : Romaida Uswatun Hasanah




