HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Makassar menjadi salah satu kota pilihan untuk menyaksikan lebih awal film drama keluarga “Menang Untuk Kalah”.
Film yang mengangkat potret kelam dampak judi online (judol) tersebut menggelar pemutaran khusus di XXI Trans Studio Makassar, Kamis, 5 November 2026.
Pemutaran ini menjadi kesempatan bagi penonton Makassar untuk lebih dahulu menyaksikan kisah keluarga yang terjerat persoalan finansial hingga kehancuran akibat judi online.
Sementara itu, film ini dijadwalkan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 19 November 2026.
Dibintangi Surya Saputra dan Lulu Tobing, Menang Untuk Kalah menghadirkan drama tentang seorang kepala keluarga bernama Bima yang terjebak dalam ambisi memenuhi gaya hidup di luar kemampuan finansialnya.
Keinginan memiliki rumah di klaster mewah, perabotan baru, hingga kendaraan membuat Bima mengambil berbagai keputusan finansial melalui sistem kredit. Namun, penghasilan bulanannya tidak lagi mampu menutupi tumpukan cicilan.
Situasi semakin pelik ketika kebutuhan pokok keluarga mulai dikorbankan demi membayar angsuran. Di tengah tekanan utang dan persoalan yang terus berdatangan, Bima justru memilih judi online sebagai jalan pintas untuk menyelamatkan kondisi keuangannya.
Alih-alih mendapatkan keuntungan, keputusan tersebut membuat persoalan semakin membesar. Bima terjerat utang berlipat, sementara tekanan psikologis turut menghancurkan hubungan dengan orang-orang terdekatnya.
Produser sekaligus sutradara, Hasto Broto, mengatakan film ini terinspirasi dari berbagai kejadian nyata yang ditemukan di tengah masyarakat. Kisah-kisah tersebut kemudian diramu menjadi drama keluarga dengan persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
“Proses produksi film ini berlangsung sekitar 10 bulan, mulai dari pengembangan cerita, penulisan skenario hingga penyuntingan akhir. Sementara proses syuting dilakukan selama 22 hari di kawasan Bandung Raya,” ucapnya.
Skenario film ditulis Jujur Prananto, penulis yang dikenal melalui sejumlah karya seperti Petualangan Sherina dan Ada Apa Dengan Cinta?.
“Cerita dikemas dengan pendekatan drama yang kuat untuk menggambarkan bagaimana keputusan finansial yang keliru dapat berdampak terhadap seluruh anggota keluarga,” tuturnya.
Menariknya, film ini juga menghadirkan 16 lagu original soundtrack (OST) yang dibuat khusus untuk menguatkan suasana cerita. Lagu-lagu tersebut dibawakan sejumlah musisi dan band, di antaranya Sound of Panca, Rudy Nugraha (eks Caffeine), YannaHead, Strip-457, dan Candu.
Hasto menyebut lagu-lagu tersebut dirancang agar menyatu dengan adegan serta menggambarkan perasaan para tokoh. Musik menjadi salah satu elemen yang memperkuat emosi penonton sepanjang cerita.
Pemeran Dewi, Lulu Tobing, menilai komunikasi menjadi salah satu hal penting dalam menjaga keutuhan keluarga, terutama ketika menghadapi persoalan besar.
“Segala sesuatunya namanya juga berkeluarga, dilempar lagi di forum keluarga, diomongin bersama, mengambil keputusannya bersama, enggak sendiri-sendiri. Itu juga bisa menghindari mengambil keputusan yang salah,” tuturnya.
Lulu mengaku tidak mengalami kesulitan membangun chemistry dengan para pemain lainnya. Ia sudah lama mengenal Surya Saputra, sementara interaksinya dengan Putri Ziani dan Ajil Ditto terbangun melalui proses bersama selama produksi.
Sementara itu, Surya Saputra yang memerankan Bima mengatakan film ini ingin mengingatkan masyarakat mengenai bahaya judi online yang kini mulai menjangkau kelompok usia lebih muda.
“Di sini kita ngingetin semua masyarakat bahwa bahayanya judol, apalagi judol sekarang sudah mengarah ke usia yang lebih muda. Sepuluh tahun sudah banyak yang main judi online. Jadi kita ngasih tahu bahayanya ini bukan hanya untuk diri sendiri, tapi keluarga di sekitarnya juga pasti akan jadi korban,” jelasnya.
Pesan serupa disampaikan Putri Ziani yang memerankan Reina, anak perempuan Bima. Menurutnya, anak perlu membangun komunikasi terbuka dengan orang tua, terutama ketika menghadapi persoalan.
“Mungkin kalau dari aku, buat anak perempuan pertama, saling terbuka saja sama keluarga, ngobrol sama papahnya, jangan memendam sendiri. Intinya saling terbuka saja,” ujarnya.
Selain Surya Saputra sebagai Bima dan Lulu Tobing sebagai Dewi, film ini turut dibintangi Ajil Ditto sebagai Rako, Putri Ziani sebagai Reina, serta Yessy Gusman sebagai Eyang Lastri. Ada pula Tike Priatnakusumah, Beddu, Tigor, dan Johan Edward Tampubolon.
Melalui Menang Untuk Kalah, para kreator ingin mengajak masyarakat lebih bijak mengambil keputusan, mengendalikan keinginan, serta membangun komunikasi dalam keluarga.
Film ini sekaligus menjadi pengingat bahwa judi online bukan sekadar persoalan individu, tetapi dapat membawa dampak panjang bagi orang-orang di sekitarnya. (wis)





