Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman menyiagakan 34 unit Early Warning System (EWS) untuk mengantisipasi potensi banjir lahar dingin Gunung Merapi. Saat ini, hujan telah beberapa kali mengguyur wilayah Kabupaten Sleman.
Seluruh perangkat EWS tersebut dipastikan dalam kondisi aktif dan berfungsi dengan baik.
Kepala Pelaksana BPBD Sleman, Bambang Kuntoro, mengatakan berdasarkan informasi dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), potensi material lahar dingin di kawasan barat daya Merapi mencapai sekitar 4,3 juta meter kubik. Sementara itu, potensi material di sektor selatan mencapai 2,2 juta meter kubik.
"Informasi dari BPPTKG, potensi lahar dingin yang barat daya itu sekitar 4,3 juta meter kubik. Kalau yang selatan sekitar 2,2 juta meter kubik," kata Bambang di Pemkab Sleman, Kamis (5/11/2026).
Bambang mengatakan potensi banjir lahar dingin perlu diwaspadai, terutama ketika hujan dengan intensitas tinggi yang melampaui kapasitas di kawasan puncak Merapi. Aliran material lahar di sektor barat daya berpotensi mengarah ke Kali Krasak, sedangkan di sektor selatan mengarah ke Kali Boyong.
Ia mengatakan 34 unit EWS telah terpasang di sejumlah titik rawan. "Mitigasinya kita ada EWS. EWS kita pasang 34 di sana. Aktif semua, bagus semua, kita siapkan semuanya," ujarnya.
Selain mengandalkan EWS, BPBD Sleman juga mengoptimalkan pemantauan melalui relawan yang berada di kawasan rawan bencana. Para relawan diminta terus memantau perkembangan cuaca dan kondisi aliran sungai, terutama ketika terjadi hujan di puncak Merapi.
Kewaspadaan perlu ditingkatkan, terlebih menurut Bambang, pada akhir pekan wisata jip Merapi ramai pengunjung.
"Ketika cuaca ekstrem, di bawah tidak hujan, tetapi di atas hujannya melebihi kapasitas, itu nanti di bawahnya berbahaya kalau tidak hati-hati," jelasnya.
Karena itu, BPBD Sleman meminta para pelaku wisata jip dan masyarakat yang beraktivitas di sekitar alur sungai untuk meningkatkan kewaspadaan. Komunikasi antara BPBD, relawan, komunitas relawan, dan pengelola wisata juga terus diperkuat agar informasi potensi bahaya dapat segera disampaikan.





