Menkeu Suahasil Beberkan Peran APBN Topang Ekonomi Kuartal III 2026 yang Tumbuh 5,47%

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Menteri Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara merespons terkait kinerja ekonomi Indonesia pada triwulan III 2026 tumbuh kuat sebesar 5,47% secara tahunan atau year on year (yoy). Pertumbuhan tersebut ditopang oleh permintaan domestik yang terjaga, investasi yang menguat, kinerja ekspor yang terjaga, serta belanja Pemerintah yang optimal.

"APBN berperan penting dalam menjaga daya beli masyarakat, mendukung aktivitas dunia usaha, dan meredam dampak tekanan eksternal. Pemerintah akan terus mengoptimalkan APBN untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi, didukung penguatan koordinasi kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan," ujar Suahasil Nazara melalui keterangan tertulis, Kamis (5/10).

Konsumsi rumah tangga pada triwulan III 2026 tetap tumbuh resilien sebesar 5,04% (yoy), didukung oleh daya beli masyarakat yang terjaga, peningkatan mobilitas, serta kuatnya permintaan domestik. Pertumbuhan tersebut tecermin dari pengeluaran kelompok restoran dan hotel yang tumbuh sebesar 6,59% (yoy), seiring meningkatnya konsumsi makanan jadi di rumah makan dan restoran.

Sementara itu, konsumsi transportasi dan komunikasi tumbuh sebesar 5,83% (yoy), didukung oleh mobilitas masyarakat dan penyelenggaraan berbagai event, serta peningkatan aktivitas pariwisata. Momentum konsumsi juga terlihat dari pertumbuhan penjualan eceran, transaksi uang elektronik, dan penggunaan kartu debit dan kredit.

Dari sisi kebijakan, dukungan APBN melalui stimulus fiskal, bantuan sosial, perlindungan sosial, serta upaya stabilisasi harga pangan turut berperan dalam menjaga daya beli masyarakat. Dengan inflasi yang tetap terkendali dan kondisi ketenagakerjaan yang terus membaik, konsumsi rumah tangga tetap menjadi pilar utama dalam menopang pertumbuhan ekonomi.

Konsumsi pemerintah tumbuh resilien sebesar 8,95% (yoy), terutama didorong oleh peningkatan Belanja Barang sebesar 39,7% dan Belanja Pegawai sebesar 10,3%. Peningkatan realisasi belanja tersebut mencerminkan komitmen Pemerintah dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi melalui percepatan dan optimalisasi belanja negara.

Selain menopang permintaan domestik, belanja Pemerintah diharapkan memberikan multiplier effect terhadap aktivitas produksi dunia usaha, penciptaan lapangan kerja, dan konsumsi masyarakat, sehingga turut memperkuat pertumbuhan ekonomi.

Investasi (Pembentukan Modal Tetap Bruto/PMTB) tumbuh kuat sebesar 6,06% (yoy), didukung oleh terjaganya keyakinan pelaku usaha terhadap prospek ekonomi nasional, stabilitas kondisi domestik, serta komitmen pemerintah dalam menciptakan iklim usaha yang kondusif.

Momentum investasi juga tecermin dari meningkatnya aktivitas penanaman modal dan impor barang modal yang mendukung ekspansi kapasitas produksi. Penanaman modal asing pada kuartal III tercatat tumbuh 27,4% (yoy).

Dari sisi pemerintah, realisasi belanja modal, pembangunan infrastruktur prioritas, serta investasi melalui BUMN dan Danantara turut menjadi pengungkit bagi investasi swasta. Berdasarkan komponennya, investasi bangunan tumbuh 6,39% (yoy), didukung percepatan pembangunan infrastruktur dalam program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis, Sekolah Rakyat, dan sektor perumahan.

Sementara itu, investasi kendaraan tumbuh kuat sebesar 12,96% (yoy), ditopang kendaraan dari produksi domestik dan impor. Ekspor barang dan jasa riil tumbuh sebesar 4,59% (yoy), terutama ditopang oleh meningkatnya kinerja ekspor komoditas CPO, batu bara, serta produk hilirisasi bernilai tambah seperti nikel, tembaga, dan aluminium. Sedangkan, ekspor jasa tumbuh 1,39% (yoy), sejalan dengan meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara sebesar 3,89%.

Di sisi lain, impor barang dan jasa tumbuh sebesar 7,31% (yoy), dengan impor barang riil meningkat 8,58% (yoy), mencerminkan terjaganya kebutuhan bahan baku, barang modal, dan barang konsumsi untuk mendukung aktivitas produksi, ekspansi industri, serta permintaan domestik. Peningkatan impor produktif diharapkan memperkuat kapasitas produksi dan mendukung peningkatan ekspor ke depan.

Dari sisi produksi, sektor industri pengolahan tetap menjadi penggerak utama ekonomi dengan pertumbuhan 5,87% (yoy). Kinerja ini didorong oleh subsektor strategis berbasis hilirisasi, terutama industri makanan dan minuman yang tumbuh 7,09%, ditopang ekspor produk sawit dan permintaan CPO domestik.

Industri kimia, farmasi, dan obat tradisional tumbuh 8,10% seiring peningkatan produksi bahan baku biodiesel untuk B50 dan pupuk menjelang musim tanam. Industri logam dasar tumbuh 9,94%, didorong peningkatan ekspor katoda tembaga, nickel matte, dan aluminium.

Sementara itu, sektor konstruksi tumbuh 6,42% (yoy) didukung pembangunan infrastruktur dan percepatan berbagai program prioritas pemerintah seperti KDMP, perumahan, dan Sekolah Rakyat.

Pertumbuhan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan termoderasi menjadi 0,46% (yoy). Fenomena musim kering yang panjang atau El Nino menyebabkan kontraksi pada kelompok tanaman pangan sebesar 1,58% dan perkebunan sebesar 0,13%. Di sisi lain, kelompok peternakan dan perikanan tetap mencatatkan kinerja positif dengan pertumbuhan masing-masing 4,95% dan 2,23%.

Sektor pertambangan dan penggalian mampu kembali tumbuh positif 0,91% (yoy) setelah terkontraksi dalam empat triwulan berturut-turut. Kinerja positif tersebut didorong oleh Pertambangan bijih logam yang tumbuh 2,96% terkait dengan kembali beroperasinya tambang mineral logam di Papua dan Nusa Tenggara.

Sektor perdagangan tumbuh kuat sebesar 7,14% (yoy), ditopang permintaan domestik seiring terjaganya daya beli masyarakat. Penguatan permintaan terlihat dari volume penjualan mobil penumpang dan sepeda motor yang masing-masing meningkat 25,95% dan 8,92% (yoy). Peningkatan penjualan kendaraan dan pasokan barang dari produksi domestik maupun impor menjadikan perdagangan sumber pertumbuhan terbesar kedua setelah industri pengolahan.

Pada saat yang sama, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum tumbuh 11,2% (yoy), seiring lonjakan perjalanan wisatawan nusantara yang tumbuh sebesar 7,05%. Hal itu mengindikasikan konsumsi rumah tangga tetap tumbuh kuat.

Sektor informasi dan komunikasi mencatat pertumbuhan 7,13% (yoy), didorong oleh peningkatan penggunaan layanan telekomunikasi, trafik data, dan transaksi perdagangan elektronik. Perkembangan ini menunjukkan bahwa selain ditopang konsumsi yang solid, perekonomian juga semakin diperkuat oleh akselerasi transformasi digital yang menjadi sumber pertumbuhan baru.

Secara spasial, pertumbuhan ekonomi berlangsung merata di seluruh wilayah Indonesia, mencerminkan kuatnya daya tahan ekonomi nasional di tengah dinamika global. Kinerja tertinggi dicatat oleh Bali dan Nusa Tenggara yang tumbuh 6,08% (yoy) berkat meningkatnya aktivitas pariwisata di Bali dan aktivitas pertambangan di Nusa Tenggara.

Sebagai kontributor terbesar perekonomian nasional, Jawa tumbuh 5,84% (yoy) ditopang kuatnya aktivitas manufaktur dan jasa. Sulawesi tumbuh tinggi sebesar 5,68%, didorong oleh ekspansi industri hilirisasi mineral. Sementara Sumatera dan Kalimantan masing-masing mencatat pertumbuhan 4,95% dan 3,96% (yoy), didukung solidnya kinerja sektor komoditas dan industri pengolahan.

Maluku dan Papua tetap mencatat pertumbuhan positif sebesar 4,42% (yoy), menunjukkan bahwa momentum ekspansi ekonomi tetap terjaga di seluruh kawasan Indonesia.

Pertumbuhan ekonomi yang kuat di kuartal III 2026 diikuti oleh peningkatan penciptaan lapangan kerja. Penambahan lapangan kerja tercatat sebesar 1,4 juta orang dibandingkan dengan Agustus 2025. Kondisi ketenagakerjaan yang positif ini sejalan dengan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) pada Agustus 2026 yang mencapai 70,33% mencerminkan partisipasi aktif dalam aktivitas ekonomi dari penduduk usia kerja.

Di sisi lain, angka pengangguran juga turun 77 ribu orang menjadi 7,38 juta pada Agustus 2026. Lebih lanjut, hal ini berdampak terhadap perbaikan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menjadi 4,75%, turun dibandingkan Agustus 2025 yang berada pada level 4,85%. Sektor utama dengan penyerapan tenaga kerja terbesar adalah pada pertanian, perdagangan, dan industri, dengan proporsi masing-masing sebesar 28,20%; 17,86%; dan 13,75%.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
3 Porter Bandara Bali Ditangkap karena Curi Uang Penumpang: Buat Ditabung hingga Beli iPhone
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
WHO Ungkap Enam Langkah Cegah 1,6 Juta Kematian Setiap Tahun
• 15 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Panaskan Duel Tinju Tyson Fury Vs Anthony Joshua, Deontay Wilder Tantang Jai Opetaia di Kelas Berat
• 5 jam lalutvonenews.com
thumb
Helikopter Water Bombing Jatuh Saat Padamkan Karhutla, 3 Prajurit Gugur| KOMPAS SIANG
• 10 jam lalukompas.tv
thumb
BRI Super League: Marcelo Djalo Sedih Absen, Persik Harus Cari Cara Redam Ketajaman Bali United
• 1 jam lalubola.com
Berhasil disimpan.