Istanbul: Indonesia membawa semangat musyawarah dan Bhinneka Tunggal Ika dalam ajang Bosphorus Summit ke-17 di Istanbul, Turki. Semangat tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat saat mendapat kehormatan untuk menyampaikan opening remarks dalam forum dialog internasional tersebut.
"Perbedaan tidak diselesaikan oleh suara yang paling keras, melainkan melalui dialog hingga mencapai mufakat. Semboyan nasional kami, Bhinneka Tunggal Ika, Berbeda-beda Tetapi Tetap Satu, mengingatkan kita bahwa keberagaman bukanlah ancaman," ujar Lestari dalam pidatonya di Istanbul, Kamis, 5 November 2026.
Baca Juga :
Lestari Moerdijat Ajak Kembangkan Dialog untuk Wujudkan Stabilitas DuniaMembuka rangkaian konferensi internasional tersebut, Lestari menyampaikan pentingnya dialog, persatuan, dan solidaritas antarnegara di tengah dinamika global yang kompleks. Lestari mengatakan bahwa keberagaman adalah sumber kekuatan.
"Keberagaman adalah sumber kekuatan. Di dunia yang terpecah belah, dialog bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk keberanian politik tertinggi," ujar Lestari.
Ia juga mengingatkan bahwa hubungan Indonesia dan Turki telah terjalin jauh sebelum hubungan diplomatik modern terbentuk. Hal ini tercermin dari sejarah Kesultanan Aceh dan Kekaisaran Ottoman pada abad ke-16, hingga persahabatan saat menghadapi musibah besar seperti Tsunami Aceh 2004 dan Gempa Turki 2023.
Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat. Foto: Dok. Metrotvnews.com.
Lestari menekankan pentingnya kolaborasi tiga sektor utama dalam membangun masa depan yang berkelanjutan, yakni pemerintah dan parlemen, dunia usaha, serta masyarakat sipil. Dalam kesempatan itu, ia membagikan tiga ajakan konkret bagi komunitas internasional.
Pertama, menjadikan pendidikan sebagai investasi untuk perdamaian. "Konflik dapat diredakan di ruang kelas jauh sebelum mencapai meja perundingan," ujar Lestari.
Kedua, perdalam kerja sama dalam ketahanan bencana, peringatan dini, mitigasi, dan pemulihan. Ketiga, menempatkan perempuan dan generasi muda di pusat solusi.
"Stabilitas yang mengabaikan separuh populasinya tidak akan pernah sempurna," tegas Lestari.
Ia menambahkan bahwa stabilitas global tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi dan lembaga, melainkan oleh kepercayaan, partisipasi masyarakat, dan kemampuan untuk hidup berdampingan secara damai dalam perbedaan.
Rangkaian diskusi Bosphorus Summit ke-17 yang berlangsung pada 5-6 November 2026 ini diharapkan tidak sekadar menjadi ruang bertukar gagasan. Namun, mampu melahirkan komitmen serta kerja sama nyata untuk membangun perdamaian dunia.




