Jakarta (ANTARA) - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memperkuat rantai pasok jagung terintegrasi melalui petani, koperasi, Perum Bulog, dan peternak guna memperkuat ekosistem peternakan nasional dari hulu hingga hilir.
“Kita hari ini tunaikan janji. Setelah peternak seluruh Indonesia, perwakilannya ada seribu lebih, datang ke Jakarta menemui kami, kita rencanakan ke depan membangun ekosistem peternak. Kita mulai dari hulu sampai hilir,” kata Mentan saat kunjungan di Blitar, Jawa Timur, sebagaimana terkonfirmasi di Jakarta, Kamis.
Amran menyiapkan sistem baru untuk menjaga ketersediaan jagung sebagai bahan baku pakan sekaligus melindungi peternak dari gejolak harga.
Melalui integrasi petani jagung, peternak, koperasi, dan Bulog, hasil panen yang berlebih akan diserap dan disimpan sebagai cadangan untuk memenuhi kebutuhan peternak saat memasuki musim paceklik.
Dia mengatakan, skema tersebut merupakan bagian dari pembangunan ekosistem peternakan dari hulu hingga hilir.
Langkah itu juga menjadi tindak lanjut atas aspirasi lebih dari seribu perwakilan peternak dari berbagai daerah yang sebelumnya datang ke Jakarta untuk menyampaikan persoalan usaha peternakan.
Dalam sistem yang disiapkan, petani jagung akan terhubung dengan koperasi dan peternak sebagai bagian dari rantai pasok. Ketika produksi jagung melimpah, hasil panen yang berlebih akan dibeli Bulog dan disimpan melalui mekanisme resi gudang.
Stok tersebut kemudian dapat dimanfaatkan kembali oleh peternak ketika pasokan mulai terbatas, terutama pada periode September hingga November.
“Tanam jagung, kemudian offtaker-nya peternak. Kalau berlebih jagungnya dibeli oleh Bulog, menjadi resi gudang. Begitu masa paceklik, September, Oktober, November, itu boleh diambil kembali oleh peternak yang mendampingi dari Bulog. Jadi nanti ini suatu ekosistem, ini solusi permanen,” jelasnya.
Amran menegaskan, koperasi menjadi salah satu penggerak penting dalam sistem tersebut. Koperasi yang telah berjalan tidak perlu dibubarkan atau diganti, tetapi diperkuat agar mampu menghubungkan kebutuhan peternak dengan produksi jagung petani.
Melalui skema itu pemerintah ingin menciptakan kepastian pasar bagi petani sekaligus menjaga ketersediaan bahan baku pakan bagi peternak.
Menurutnya perlindungan terhadap petani dan peternak penting karena sektor tersebut menjadi sumber penghidupan bagi sekitar 160 juta masyarakat Indonesia.
Karena itu, pemerintah berupaya memastikan kebijakan yang dijalankan memberikan dampak nyata terhadap keberlangsungan usaha dan peningkatan kesejahteraan mereka.
Mentan juga menyoroti persoalan tata niaga telur, ketika harga di tingkat peternak mengalami tekanan, sementara harga di tingkat konsumen masih tinggi.
Ia menegaskan pemerintah akan mengawal agar peternak memperoleh harga yang sesuai dengan ketentuan dan berkoordinasi dengan aparat penegak hukum untuk menindaklanjuti praktik pembelian yang tidak sesuai.
“Jangan ganggu petani-peternak kita. Ini bayangkan, ini telur harga di peternak, jatuh. Harga di konsumen, tinggi,” ujarnya.
Melalui penguatan koperasi, integrasi produksi jagung, penyerapan Bulog, dan mekanisme penyimpanan melalui resi gudang, Kementan mendorong terbentuknya ekosistem peternakan yang lebih terjamin.
"Skema ini diharapkan memberikan kepastian pasar bagi petani jagung, menjaga ketersediaan pakan bagi peternak, serta mengurangi tekanan akibat fluktuasi pasokan dan harga," katanya.
Baca juga: Bulog Jabar salurkan 60 ton jagung SPHP untuk peternak ayam petelur
Baca juga: BULOG dan Bapanas Perkuat Dukungan bagi Peternak Mikro, Sinergikan Penyaluran Jagung SPHP dan Pembelian Telur
“Kita hari ini tunaikan janji. Setelah peternak seluruh Indonesia, perwakilannya ada seribu lebih, datang ke Jakarta menemui kami, kita rencanakan ke depan membangun ekosistem peternak. Kita mulai dari hulu sampai hilir,” kata Mentan saat kunjungan di Blitar, Jawa Timur, sebagaimana terkonfirmasi di Jakarta, Kamis.
Amran menyiapkan sistem baru untuk menjaga ketersediaan jagung sebagai bahan baku pakan sekaligus melindungi peternak dari gejolak harga.
Melalui integrasi petani jagung, peternak, koperasi, dan Bulog, hasil panen yang berlebih akan diserap dan disimpan sebagai cadangan untuk memenuhi kebutuhan peternak saat memasuki musim paceklik.
Dia mengatakan, skema tersebut merupakan bagian dari pembangunan ekosistem peternakan dari hulu hingga hilir.
Langkah itu juga menjadi tindak lanjut atas aspirasi lebih dari seribu perwakilan peternak dari berbagai daerah yang sebelumnya datang ke Jakarta untuk menyampaikan persoalan usaha peternakan.
Dalam sistem yang disiapkan, petani jagung akan terhubung dengan koperasi dan peternak sebagai bagian dari rantai pasok. Ketika produksi jagung melimpah, hasil panen yang berlebih akan dibeli Bulog dan disimpan melalui mekanisme resi gudang.
Stok tersebut kemudian dapat dimanfaatkan kembali oleh peternak ketika pasokan mulai terbatas, terutama pada periode September hingga November.
“Tanam jagung, kemudian offtaker-nya peternak. Kalau berlebih jagungnya dibeli oleh Bulog, menjadi resi gudang. Begitu masa paceklik, September, Oktober, November, itu boleh diambil kembali oleh peternak yang mendampingi dari Bulog. Jadi nanti ini suatu ekosistem, ini solusi permanen,” jelasnya.
Amran menegaskan, koperasi menjadi salah satu penggerak penting dalam sistem tersebut. Koperasi yang telah berjalan tidak perlu dibubarkan atau diganti, tetapi diperkuat agar mampu menghubungkan kebutuhan peternak dengan produksi jagung petani.
Melalui skema itu pemerintah ingin menciptakan kepastian pasar bagi petani sekaligus menjaga ketersediaan bahan baku pakan bagi peternak.
Menurutnya perlindungan terhadap petani dan peternak penting karena sektor tersebut menjadi sumber penghidupan bagi sekitar 160 juta masyarakat Indonesia.
Karena itu, pemerintah berupaya memastikan kebijakan yang dijalankan memberikan dampak nyata terhadap keberlangsungan usaha dan peningkatan kesejahteraan mereka.
Mentan juga menyoroti persoalan tata niaga telur, ketika harga di tingkat peternak mengalami tekanan, sementara harga di tingkat konsumen masih tinggi.
Ia menegaskan pemerintah akan mengawal agar peternak memperoleh harga yang sesuai dengan ketentuan dan berkoordinasi dengan aparat penegak hukum untuk menindaklanjuti praktik pembelian yang tidak sesuai.
“Jangan ganggu petani-peternak kita. Ini bayangkan, ini telur harga di peternak, jatuh. Harga di konsumen, tinggi,” ujarnya.
Melalui penguatan koperasi, integrasi produksi jagung, penyerapan Bulog, dan mekanisme penyimpanan melalui resi gudang, Kementan mendorong terbentuknya ekosistem peternakan yang lebih terjamin.
"Skema ini diharapkan memberikan kepastian pasar bagi petani jagung, menjaga ketersediaan pakan bagi peternak, serta mengurangi tekanan akibat fluktuasi pasokan dan harga," katanya.
Baca juga: Bulog Jabar salurkan 60 ton jagung SPHP untuk peternak ayam petelur
Baca juga: BULOG dan Bapanas Perkuat Dukungan bagi Peternak Mikro, Sinergikan Penyaluran Jagung SPHP dan Pembelian Telur





