Partai Demokrat meraih kemenangan signifikan dalam pemilihan umum sela (midterm elections) Amerika Serikat dengan mengamankan kursi mayoritas di kedua majelis Kongres. Hasil ini secara drastis membalikkan peta kekuatan politik di Washington sekaligus mengancam dua tahun sisa masa jabatan Presiden Donald Trump.
Dalam pemilu sela tersebut, Partai Demokrat berhasil menguasai 245 kursi di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan 54 kursi di Senat. Dominasi penuh oposisi di parlemen ini menempatkan Trump dalam posisi rentan menjadi presiden 'bebek lumpuh' (lame duck president).
Kondisi tersebut dipastikan mempersulit langkah administrasi Trump dalam meloloskan berbagai rancangan undang-undang strategis hingga kenaikan plafon utang (debt ceiling). Tak hanya itu, Demokrat diperkirakan bakal memanfaatkan kekuasaan mayoritas mereka untuk menerbitkan surat panggilan paksa (subpoena) guna menginvestigasi sejumlah dugaan pelanggaran kebijakan pemerintah, yang berpotensi memicu wacana pemakzulan (impeachment).
Baca Juga :
Anggota DPR AS Ancam Ajukan Kembali Pemakzulan Menhan Pete HegsethMenanggapi bayang-bayang tekanan politik dan isu pemakzulan tersebut, Donald Trump secara terbuka menepis kekhawatiran publik. Ia menilai manuver pemakzulan oleh Partai Demokrat justru akan menjadi bumerang politik yang menghancurkan kubu oposisi itu sendiri.
"Sama sekali tidak. Saya rasa itu justru akan menghancurkan Partai Demokrat jika mereka melakukannya. Pemakzulan tanpa alasan mendasar, untuk apa? Hanya karena kita memimpin negara yang sukses? Negara kita saat ini jauh lebih sukses dibandingkan waktu-waktu sebelumnya dalam sejarah," ucap Trump dikutip dari tayangan Primetime News Metro TV, Kamis, 5 November 2026.
Kongres baru AS yang didominasi oleh Partai Demokrat dijadwalkan resmi dilantik dan mulai bertugas pada 3 Januari 2027. Dengan komposisi politik yang baru ini, Trump harus bersiap menghadapi dinamika dua tahun sisa kepemimpinannya di Gedung Putih di bawah tekanan dan pengawasan ketat kubu oposisi.




