Tagar #CuekinBuzzer ramai digunakan warganet Indonesia, termasuk kreator konten Windah Basudara. Tagar ini mengajak masyarakat belajar dari strategi politik digital di Brasil dalam merespons buzer, yang dikenal juga dengan Janonisme.
Melalui akun Instagram, Windah Basudara mengunggah konten berjudul "#cuekinbuzzer Belajar dari Brasil". Dalam unggahan berupa teks pada gambar itu, ia menjelaskan bagaimana masyarakat Brasil menghadapi konten hoaks, misinformasi, dan buzer dengan mengatur interaksi di media sosial (medsos).
Windah Basudara mengajak warganet tidak memberikan engagement terhadap konten buzer maupun unggahan yang mengandung informasi menyesatkan. Sebaliknya, masyarakat didorong meningkatkan interaksi terhadap konten yang menyuarakan kepentingan publik, seperti informasi mengenai kebakaran hutan dan lahan (karhutla), dampak kebijakan pemerintah, serta persoalan sosial lainnya.
Strategi tersebut mengingatkan pada Janonisme atau Janonismo Cultural, pendekatan komunikasi politik digital yang diperkenalkan oleh politikus Brasil, André Janones.
Apa Itu Janonisme?Janonisme berasal dari nama André Janones, anggota Kongres Brasil dari negara bagian Minas Gerais. Ia memperkenalkan istilah Janonismo Cultural untuk menggambarkan pendekatan komunikasi politik yang mengandalkan media sosial, pesan-pesan emosional, meme, bahasa provokatif, serta mobilisasi pendukung secara terorganisasi.
Menurut profesor di Federal Fluminense University yang meneliti komunikasi politik, Viktor Chagas, Janones mengadopsi sejumlah taktik yang sebelumnya banyak digunakan kelompok sayap kanan Brasil.
Pendekatan itu mencakup penggunaan bahasa agresif, unggahan yang sarat emosi, serangan terhadap lawan politik, serta instruksi kepada pendukung untuk melakukan aksi secara terkoordinasi di media sosial.
Janones bahkan menuangkan pendekatan itu dalam buku berjudul “Janonismo Cultural: O Uso das Redes Sociais e a Batalha pela Democracia” yang diterbitkan pada 2023. Dalam buku ini, Janones membagi strategi komunikasi ke tiga bidang, yakni pengalihan perhatian, memenangkan suara, dan mobilisasi.
Dikutip dari The Brazilian Report, Janonisme pada dasarnya merupakan upaya mengadopsi strategi komunikasi politik yang digunakan kelompok lawan untuk membangun kekuatan digital di kubu sendiri.
Salah satu contoh penerapan Janonisme terlihat dalam kampanye Pemilihan Presiden (Pilpres) Brasil 2026.
Janones membangun saluran WhatsApp bernama Exército do Lula atau Pasukan Lula. Saluran ini kemudian menjadi pusat koordinasi virtual bagi pendukung Presiden Luiz Inácio Lula da Silva menjelang putaran kedua Pilpres.
Dikutip dari Al Jazeera, jumlah pengikut saluran itu meningkat dari sekitar 50 ribu menjadi hampir 11 juta dalam tiga minggu. Peningkatan terjadi setelah Lula tertinggal dari pesaingnya, Flávio Bolsonaro, dalam putaran pertama pemilihan presiden pada 4 Oktober.
Janones kemudian mengubah saluran WhatsApp itu menjadi pusat komando untuk mengorganisasi pendukung Lula. Ia memberikan instruksi dan misi harian kepada jutaan pengikutnya.
Para pendukung diminta mempromosikan tagar, menyukai unggahan, membagikan video kampanye, mengomentari siaran langsung, mengunggah foto dengan gestur tangan membentuk huruf L sebagai simbol dukungan kepada Lula, hingga merekrut anggota baru.
Tugas lainnya yakni mengajak teman untuk bergabung, membagikan materi kampanye, dan menyebarkan pesan politik ke jaringan pertemanan maupun keluarga.
Tugas-tugas itu disampaikan melalui pesan WhatsApp secara berkala. Janones bahkan meminta para pendukungnya mengirimkan emoji hormat sebagai tanda bergabung menjadi tentara digital.
Viktor Chagas menggambarkan pendekatan itu sebagai bentuk gamifikasi elektoral. Dalam strategi ini, Janones menetapkan target yang harus dicapai bersama oleh para pendukung, sehingga mereka merasa memiliki misi dan tujuan yang sama.
Para pendukung tidak hanya diminta mengonsumsi konten kampanye, tetapi juga memproduksi dan mendistribusikannya secara mandiri.
Kepala Eksekutif perusahaan riset IPSE Global, Leonardo Magalhães Firmino, membandingkan metode itu dengan melatih ribuan pengelola media sosial berskala kecil.
Sementara itu, peneliti politik digital di University of Virginia, David Nemer, menggambarkan strategi Janones sebagai upaya menciptakan infrastruktur manusia yang meniru algoritma.
Dengan kata lain, Janones tidak hanya mengandalkan algoritma platform untuk mendistribusikan pesan politik. Ia membangun jaringan pendukung yang secara aktif membantu menyebarkan konten kepada lebih banyak orang.
Strategi mobilisasi digital Janones menjadi salah satu pendekatan yang dinilai membantu Lula membalikkan keadaan dalam pemilihan presiden Brasil 2026. Dalam putaran pertama pada 4 Oktober, Lula tertinggal dari Flávio Bolsonaro. Namun, ia akhirnya memenangkan Pilpres pada 25 Oktober dengan perolehan 51,79% suara sah.
Dikutip dari The Brazilian Report, saluran Pasukan Lula yang awalnya memiliki kurang dari 60 ribu pengikut setelah putaran pertama, berkembang menjadi sekitar 10,8 juta pada hari pemungutan suara putaran kedua.
Dalam pidato kemenangan, Lula secara khusus menyebut Janones sebagai "jenderal saya" dan mengapresiasi perannya dalam meningkatkan semangat para pendukung.
Viktor Chagas menilai sulit membayangkan hasil pemilihan tersebut tanpa keberadaan Pasukan Lula karena saluran itu menyatukan pendukung sayap kiri yang sebelumnya tersebar dalam berbagai komunitas daring.
Leonardo Magalhães Firmino juga menilai mobilisasi digital Janones berperan penting dalam kebangkitan kampanye Lula.
Akan tetapi, asisten profesor sejarah dan studi internasional di Louisiana State University, Andre Pagliarini menilai, tidak ada cara yang pasti untuk menghubungkan keberadaan Pasukan Lula dengan hasil pemilu.
Kemenangan Lula juga dinilai dipengaruhi faktor lain, seperti partisipasi pemilih, perpindahan dukungan dari kandidat yang tersingkir, serta perubahan geografis dukungan terhadap kandidat.
Mengapa Diminta ‘Cuekin’ Konten Buzer?Salah satu bagian penting dari strategi Janones yakni menghindari interaksi dengan unggahan lawan politik.
Dikutip dari CNN Internasional, Janones menginstruksikan pendukung Lula untuk tidak berkomentar pada unggahan lawan, karena interaksi itu berpotensi meningkatkan visibilitas konten melalui algoritma media sosial.
Prinsip itu juga menjadi salah satu pesan utama dalam unggahan Windah Basudara mengenai #CuekinBuzzer. Streamer game ini menjelaskan bahwa buzer memperoleh keuntungan dari interaksi warganet, seperti tanda suka, komentar, dan pembagian konten.
Bahkan, komentar berupa bantahan maupun makian tetap dihitung sebagai engagement oleh algoritma media sosial. Akibatnya, konten yang sebenarnya ingin ditentang justru berpotensi mendapatkan jangkauan lebih luas karena memperoleh banyak interaksi.
Windah Basudara menyebut tujuan buzer yakni memenangkan algoritma agar kontennya muncul lebih dahulu di linimasa pengguna media sosial, termasuk kelompok yang disebutnya sebagai grassroots dan normies. Kelompok ini digambarkan sebagai pengguna yang baru mengenal atau mulai menggunakan media sosial, seperti ibu-ibu dan remaja yang baru memegang telepon seluler.
Melalui distribusi konten itu, buzer diharapkan dapat menggiring dan memprovokasi opini pengguna. Oleh karena itu, Windah Basudara mengajak warganet menghentikan interaksi terhadap konten buzer.
YouTuber itu juga menyebut bahwa mengajak buzer berdebat atau membalas dengan makian tidak akan membuat mereka berhenti, karena keributan justru dapat meningkatkan engagement konten.
Ia juga meminta warganet meningkatkan engagement terhadap konten yang dianggap berpihak kepada kepentingan masyarakat. “Contohnya, unggahan mengenai kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), dampaknya terhadap alam dan masyarakat, serta konsekuensi kebijakan yang dinilai buruk,” demikian dikutip dari unggahan Windah Basudara, Kamis malam (5/11).
Windah Basudara menyarankan masyarakat memberikan tanda suka, berkomentar, membagikan konten, menonton video hingga selesai, melakukan repost, hingga mengirimkan tautan ke grup percakapan.
Ia juga mendorong warganet membangun jejaring dan membuat grup WhatsApp untuk mengoordinasikan dukungan terhadap konten tertentu. Melalui grup ini, anggota dapat membuat kesepakatan untuk mengunggah materi dan saling mendukung engagement satu sama lain.
Dengan demikian, terdapat dua prinsip utama dalam ajakan #CuekinBuzzer yang diunggah Windah Basudara, yakni menghentikan engagement terhadap konten buzer dan meningkatkan engagement terhadap konten tandingan yang menyuarakan kepentingan publik.




