Ribuan warga memadati jalanan Kota Uvira, wilayah timur Republik Demokratik Kongo, untuk menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran pada Selasa waktu setempat. Massa turun ke jalan menyuarakan penolakan keras terhadap pembentukan Front untuk Pendirian Kembali Bangsa (Front pour la Refondation de la Nation/FRN), sebuah koalisi baru yang diinisiasi oleh mantan Presiden Joseph Kabila.
Para pengunjuk rasa mengecam gerakan FRN dan melabelinya sebagai bentuk penjajahan baru yang dinilai hanya akan memperpanjang penderitaan serta konflik di negara tersebut.
Massa menilai manuver politik Kabila telah membohongi rakyat. Menurut demonstran, selama 18 tahun duduk di kursi kepresidenan, Kabila dinilai gagal mewujudkan janjinya untuk membangun bangsa dan justru meninggalkan warisan pertumpahan darah yang berlarut-larut.
Baca Juga :
Kasus Ebola di Kongo Tembus 10.351, Korban Jiwa Lebih dari 5.000 OrangDalam aksi jalan kaki tersebut, massa membawa berbagai spanduk dan bendera, menuntut penghentian segala bentuk eskalasi perang serta mendesak adanya tindakan konkret dari komunitas internasional untuk segera mengakhiri konflik di RD Kongo.
Koalisi FRN sebelumnya dideklarasikan di bawah kepemimpinan Joseph Kabila. Gerakan ini menyatukan sejumlah tokoh politik dan faksi-faksi penentang pemerintah, termasuk kelompok Aliansi Sungai Kongo (AFC), kelompok pemberontak M23, serta kelompok oposisi lainnya yang berseberangan dengan pemerintahan Presiden Félix Tshisekedi.
Kehadiran aliansi ini kian memicu kekhawatiran masyarakat sipil akan semakin memburuknya situasi keamanan dan ketidakstabilan di wilayah timur RD Kongo.




