Rembang, VIVA - Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (KemenEkraf) membekali para pelaku ekonomi kreatif (ekraf) di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, dengan strategi pemasaran digital, pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), hingga teknik storytelling untuk memperluas promosi produk lokal.
Pembekalan tersebut dilakukan melalui program Akselerasi Kreatif (Aktif) Periklanan yang diselenggarakan Direktorat Periklanan KemenEkraf di Gentong Miring Art Gallery, Kecamatan Sluke, Kabupaten Rembang, Kamis, 5 November 2026.
Program ini disinergikan dengan penguatan Creative Hub daerah sebagai upaya mengoptimalkan potensi ekonomi kreatif melalui peningkatan literasi digital, pemahaman etika periklanan, serta strategi komunikasi dan pemasaran modern.
Kegiatan tersebut menyasar para kreator dan pelaku usaha kreatif agar mampu memanfaatkan perkembangan teknologi dalam memasarkan produk maupun jasa. Dengan pendekatan pemasaran yang lebih modern, potensi daerah diharapkan dapat menjangkau pasar yang lebih luas.
Rembang Punya Potensi Ekraf, Batik Lasem Jadi UnggulanKepala Subdirektorat Pemasaran dan Komersialisasi Periklanan, Deputi Bidang Kreativitas Media, Direktorat Periklanan KemenEkraf, Mela Dewinta mengatakan, kegiatan Aktif Periklanan dirancang untuk memperkuat kapasitas pelaku ekonomi kreatif sekaligus menjadikan Creative Hub sebagai pusat pembelajaran dan kolaborasi di daerah.
Menurutnya, Rembang menjadi salah satu dari delapan daerah penerima program Aktivasi Creative Hub nasional karena memiliki potensi ekonomi kreatif yang besar dan bernilai tinggi.
Salah satu produk unggulan daerah tersebut adalah Batik Tulis Lasem. Produk kerajinan ini dikenal sebagai hasil akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa yang menghasilkan beragam warna serta motif khas.
Keunggulan tersebut turut mengantarkan Rembang ditetapkan sebagai salah satu Kabupaten Kreatif Indonesia pada 2019, dengan subsektor unggulan di bidang kriya.
Mela menilai, potensi Batik Lasem hingga bangunan bersejarah atau heritage di Rembang sebenarnya memiliki peluang besar untuk dipasarkan. Namun, diperlukan pendekatan komunikasi yang lebih segar agar produk dan kekayaan daerah tersebut semakin menarik perhatian masyarakat.
"Rembang itu terkenal dengan potensi ekrafnya yang lumayan banyak, lumayan besar salah-satunya fashion itu terkenal dengan batik Lasem, bangunan heritagenya, itu sebenarnya potensi untuk dipasarkan tapi mungkin perlu pendekatan yang baru dibandingkan strategi komunikasi yang biasa misalnya melalui storytelling dan sekarang ada pemanfaatan AI," ujar Mela.





