Donat Kampung Naik Kelas di Tangan Anak Muda

kompas.id
8 jam lalu
Cover Berita

Puluhan laki-laki muda tampak sibuk berjibaku mengolah adonan dan membentuknya menjadi lingkaran-lingkaran kecil. Dengan lengan-lengan kekar dan gerakan tangan yang cekatan, mereka bekerja mengikuti irama lagu 'Kicau Mania' milik Ndarboy Genk yang mengalun dari layanan musik digital. Adonan yang telah terbentuk kemudian diletakkan di sebuah papan triplek persegi panjang dan setelah terisi penuh dipindahkan ke susunan rak menunggu digoreng.

Di sudut lainnya dua orang mengoreng adonan di sebuah penggorengan berukuran 60x150 centimeter yang berisi minyak mendidih. Suasana pagi itu sungguh meriah di sebuah dapur pembuatan donat di Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Banten, Kamis (5/11/2026).

Syauki Ridwan (30), pemilik usaha mikro kecil dan menengah ‘perdonatan’ dengan merek ‘Istana Donat’. Ia merintis usaha ini sejak tiga tahun terakhir setelah sebelumnya menjadi penjual keliling donat kampung selama tujuh tahun. Profesi yang dijalaninya sambil kuliah di Perguruan Tinggi Ilmu Alquran Jakarta. Usai lulus, pria asal Kudus, Jawa tengah itu bertekad membuka sendiri usaha pembuatan donat berbekal jaringan dan pasar yang sudah ia kuasai.

Anak muda yang juga menjadi pengajar di salah satu pondok pesantren di Pondok Cabe itu selain memproduksi donat juga membuka kios donat di 35 titik di seputar Tangerang Selatan. Lokasinya rata-rata berada di kawasan permukiman, bukan di mal maupun jalan-jalan protokol.

Dalam sehari, dapurnya memproduksi 35 ribu donat yang semuanya didistribusikan ke semua kiosnya. Untuk menjalankan usahanya, Syauki mempekerjakan sekitar 50 orang yang sebagian besar merupakan anak muda.

Di kios-kios Istana Donat, donat polos yang telah diproduksi dari dapur kemudian diberi beragam pelengkap atau taburan (topping), mulai dari cokelat, matcha, stroberi, biskuit karamel, keju, kacang almond, hingga meses. Ada pula donat dengan isian seperti bomboloni.

Aneka donat itu ditata dalam kotak-kotak kaca yang berjajar di etalase. Meski tampil dengan beragam pilihan, harganya tetap terjangkau, yakni Rp 2.500 per buah. Syauki mengatakan, penjualan di kiosnya rata-rata mencapai 500 donat sehari dan biasanya meningkat pada akhir pekan.

Donat kampung barangkali tidak pernah kehilangan tempat di hati masyarakat. Bentuknya sederhana, rasanya akrab, dan harganya terjangkau. Namun, Syauki melihat jajanan yang lekat dengan kehidupan masyarakat itu memiliki peluang usaha yang lebih besar. Ia tidak menghilangkan karakter dasar donat kampung sebagai kudapan murah meriah, tetapi mengembangkan cara produksi, pemasaran, dan distribusinya.

Namun, mengembangkan usaha donat bukan tanpa tantangan. Di tengah meningkatnya produksi dan perluasan jaringan penjualan, Syauki harus berhadapan dengan kenaikan harga bahan baku. Harga tepung terigu yang menjadi bahan utama pembuatan donat masih tinggi akibat terganggunya pasokan gandum karena konflik di negara-negara produsen.

Selain itu, harga minyak goreng yang semakin mahal turut menambah beban biaya produksi. Kondisi tersebut membuatnya harus cermat mengelola biaya agar harga jual donat tetap terjangkau bagi konsumen.

Perjalanan usaha Syauki berlangsung di tengah tantangan pasar kerja Indonesia yang masih menghadapi persoalan penyediaan pekerjaan yang memadai. Badan Pusat Statistik mencatat, jumlah pekerja setengah pengangguran bertambah 1,24 juta orang sepanjang Agustus 2025 hingga Agustus 2026. Mereka merupakan penduduk yang bekerja kurang dari 35 jam dalam sepekan dan masih mencari atau bersedia menerima pekerjaan tambahan.

Dengan penambahan tersebut, jumlah pekerja setengah pengangguran di Indonesia pada Agustus 2026 mencapai 12,84 juta orang atau 8,68 persen dari total penduduk bekerja. Artinya, dari setiap 100 orang yang bekerja, sekitar sembilan orang masih membutuhkan tambahan pekerjaan. Angka ini meningkat 0,76 poin persentase dibandingkan Agustus 2025, (Kompas.id, 5/11/2026).

Di tengah situasi tersebut, usaha yang dikembangkan Syauki memperlihatkan bagaimana kegiatan ekonomi berskala kecil dapat tumbuh dan melibatkan puluhan tenaga kerja. Dari pengalaman berjualan donat keliling, ia kini mengelola dapur produksi, jaringan puluhan kios, serta mempekerjakan sekitar 50 orang.

Donat kampung yang dahulu dijajakannya dari satu tempat ke tempat lain kini diproduksi dalam jumlah puluhan ribu setiap hari. Meski usahanya telah berkembang, harga yang terjangkau tetap dipertahankan agar jajanan sederhana itu tidak kehilangan konsumennya.

Kios Istana Donat

 

Kompas/Hendra A Setyawan

Varian Donat di Istana Donat

 

Kompas/Hendra A Setyawan

Belanja donat di Istana Donat

 

Kompas/Hendra A Setyawan

Baca JugaAdrenalin dan Impian Masa Kecil di Balapan Mobil RC

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
KPK Sita Uang Rp2 Miliar Terkait Dugaan Korupsi Proyek SPBU
• 2 jam lalutvonenews.com
thumb
Kronologi Oki Rengga Tegur Suporter saat Laga PSMS vs Persija, Berawal dari Spanduk Karhutla hingga Tak Terima Disebut Tantrum
• 10 jam lalugrid.id
thumb
BMW Passato Bermotif Batik Sumatera Curi Perhatian di SEMA Show 2026
• 7 jam lalumedcom.id
thumb
Timnas Indonesia Batal Hadapi Yordania, Erick Thohir Serahkan Agenda Pengganti kepada BTN dan John Herdman
• 13 jam lalupantau.com
thumb
Macet Parah di Jalan Kol Yos Sudarso, Wakil Wali Kota Medan Zakiyuddin Minta Warga Rela Lepaskan Lahan untuk Pelebaran Jalan
• 6 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.