Daun dan Ranting Tak Cukup, Warga Papua Pikul Air Padamkan Karhutla

kompas.id
6 jam lalu
Cover Berita

Tak ada selang atau sejenis pemompa air saat penanganan kebakaran lahan di perbukitan sabana Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan. Pesawat untuk modifikasi cuaca atau pengebom air juga nihil. Hanya ada hentak kaki warga menapaki bukit sembari memikul air dalam jerigen dan galon bekas untuk memadamkan api.

Suasana ini menjadi kelanjutan upaya warga memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Jayawijaya, yang awalnya menggunakan daun dan ranting. Setelah upaya awal tersebut, ikhtiar lebih dilakukan dengan gotong royong yang lebih masif.

Kamis (5/11/2026) pagi, puluhan warga Distrik Popugoba telah bersiap kembali menuju lokasi kebakaran. Di tengah perjalanan, mereka mampir mengisi jerigen dan galon bekas ke sumber air di bawah kaki bukit.

Beruntung, kolam seukuran setengah lapangan basket yang biasanya dipakai untuk mencuci atau minum ternak babi itu tidak mengering saat kemarau kali ini.

Setelah jerigen dan galon terisi air yang tampak kehijauan itu, mereka melanjutkan pendakian menuju lokasi kebakaran. Jaraknya sekitar 1-2 kilometer (km), tetapi jalurnya berkontur batu lepas hingga batu karang.

Baca JugaKarhutla Papua Pegunungan, Warga Susah Payah Padamkan Api dengan Daun dan Ranting

Di atas bukit, puluhan warga lain terus bekerja menangani api. Bahkan, sebagian besar dari mereka menginap di bukit untuk memastikan api tidak muncul atau meluas. Jika air habis, daun dan ranting kembali menjadi alternatif.

Sementara itu, di kampung, mama-mama turut sibuk menyiapkan makanan bagi warga yang sedang memadamkan api. Hanya ubi rebus, sekadar untuk mengganti stamina yang terkuras memadamkan api di bukit.

Selain itu, mama-mama juga berjalan kaki hingga 2 km ke sumur terdekat mengambil air bersih untuk kebutuhan minum atau makan bersama ini.

Sebagian mama-mama juga berinisiatif membawa makanan mendekati lokasi kegiatan pemadaman karhutla. Anak-anak pun ikut dilibatkan.

“Biasanya, setelah kerja padamkan api, warga turun ke kampung untuk makan. Mama-mama sudah siapkan ubi-ubi kering yang tersisa dari hasil kebun. Setelah itu, mereka bisa naik kembali bawa air atau sekalian makanan juga,” ucap Rasman Wamu, Kepala Distrik Popugoba kepada Kompas, Kamis malam.

Baca JugaKarhutla Meluas di Jayawijaya, Ritual Memanggil Hujan Diduga Picu Kebakaran Lahan

Rasman menuturkan, gotong royong ini telah dilakukan selamat empat hari terakhir. Kebakaran ini telah melenyapkan lahan berhektar-hektar yang meliputi Distrik Popugoba dan Distrik Maima.

Kebakaran dilaporkan telah terjadi sejak dua pekan terakhir. Namun, api yang paling besar dilaporkan terjadi pada Sabtu (31/10/2026).

Rasman mengungkapkan, api diduga berasal dari aktivitas pembukaan lahan di kebun warga di distriknya. Api yang tidak bisa dikendalikan mulai membesar hari demi hari.

Mama-mama juga berjalan kaki hingga dua kilometer ke sumur terdekat mengambil air bersih untuk kebutuhan minum atau makan bersama ini.

“Yang paling terdampak itu kebun warga. Tanaman yang yang kering ikut terbakar. Ternak juga kehilangan sumber makanan karena rumput mati dan terbakar,” ujar Rasman.

Sejak Minggu (1/11/2026), ia bersama tokoh masyarakat menggerakkan warga kampung untuk bergotong royong. Awalnya warga hanya menggunakan daun dan ranting. Setelah itu, warga mulai saling membagi tugas untuk upaya lebih masif.

“Sampai (Kamis) sore ini api sudah padam, tapi kami tetap berjaga. Jangan sampai ada api lagi muncul. Kami baku ganti untuk cek api,” ucapnya.

Baca Juga1.600 Hektar Terbakar, Bagaimana Perkembangan Karhutla di TN Wasur Merauke?
Tidak melapor

Upaya serupa juga dilakukan oleh warga di Distrik Maima. Distrik Maima dan Popugoba berada di kawasan yang sama. Dari pusat kota Wamena, ibu kota Jayawijaya, lokasi ini bisa ditempuh sekitar satu jam kendaraan darat.

Adapun, kebakaran terjadi di kawasan sabana yang saling berdampingan. Namun, belum ada data pasti perkiraan total luas kebakaran ini.

“Kami tidak bisa pastikan berapa luas, tapi untuk luasnya itu berhektar-hektar karena mencakup bukit yang luas dari dua distrik ini,” kata Tonius Hisage, Kepala Distrik Maima.

Di Maima, puluhan hingga ratusan warga juga ikut gotong royong memadamkan api. Mereka juga mengambil air menggunakan jerigen dan galon bekas untuk memadamkan titik api yang masih menyala.

“Semua terlibat. Mulai dari bapak-bapak, pemuda, mama-mama hingga anak-anak ikut kasih padam api,” ucap Tonius.

Baca JugaKarhutla di Papua yang Terlupakan

Tonius dan Rasman mengungkapkan alasan mengambil inisiatif mandiri mengatasi karhutla ini. Mereka memilih tidak melapor kepada instansi terkait, seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Mereka beralasan, laporan ke BPBD kemungkinan tidak berdampak signifikan. Sebab, akses menuju ke lokasi kebakaran sulit dilintasi kendaraan.

“Selain itu, saya pribadi pun tidak punya nomor (kontak) orang BPBD. Yang saya pikir, segera gerak cepat jangan sampai api membakar kampung,” katanya.

Bantuan

Di sisi lain, Tonius dan Rasman berharap segera ada bantuan dari pemerintah. Sebab, kebakaran dan kemarau panjang kali ini telah merusak sumber pangan warga.

“Minggu ini kami pastikan dulu api tidak muncul lagi. Minggu depan, saya akan ajak seluruh kepala kampung untuk rapat dan kumpul data kerugian dan bantuan apa saja yang diperlukan warga,” ujar Rasman.

Baca Juga217 Hektar Karhutla di Papua Selatan Belum Padam, OMC Dimaksimalkan

Berdasarkan laporan warga yang juga disampaikan kepada Kompas, karhutla hingga kekeringan di Jayawijaya terjadi di sejumlah distrik lainnya seperti Wadangku, Piramid, Bugi, serta distrik lainnya.

Adapun dari prediksi Stasiun Klimatologi Papua, hujan sedang di wilayah Jayawijaya diperkirakan akan mulai turun pada November 2026. Sementara itu, pada pertengahan hingga akhir Desember 2026, hujan sedang hingga lebat juga mulai turun.

Hingga saat ini, belum ada keterangan dari BPBD setempat terkait kejadian karhutla di wilayah Jayawijaya dan sekitarnya. Belum ada data pasti luas lahan terbakar serta jumlah warga terdampak.

Sementara itu, sejak awal pekan ini, Kompas berupaya menghubungi Kepala BPBD Kabupaten Jayawijaya Edison Wetipo. Namun, Edison belum memberikan respons.

Baca JugaKarhutla Raja Ampat, Melanda Habitat Burung Cenderawasih hingga Bekas Konsesi Nikel

Adapun Kepala Seksi Penyelamatan dan Evakuasi BPBD Papua Pegunungan Mesak Wenda mengatakan, pihaknya mulai menerima laporan kebakaran ini sejak awal November 2026.

Namun, ia mengakui, ada keterbatasan bagi BPBD Papua Pegunungan. Saat ini, pihaknya belum memiliki kendaraan operasional terkait pemadaman, mobil dapur lapangan, ataupun sepeda motor trail yang bisa digunakan untuk mencapai lokasi bencana itu.

Mesak mengungkapkan, keluhan ini telah berulang ia sampaikan, termasuk kepada pemerintah pusat. Saat pertemuan dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), ia menyampaikan terkait kondisi dan kendala kebencanaan di wilayahnya.

”Tantangan kami di Papua, khususnya di pegunungan ini, sangat kompleks. Namun, kami sebagai daerah otonomi baru, peralatan kebencanaan kami sangat terbatas,” ucapnya.

Adapun, di wilayah Papua, BNPB saat ini fokus melakukan operasi modifikasi cuaca di wilayah Papua Selatan. Operasi ini telah dilakukan sejak 22 Oktober 2026 di wilayah episentrum karhutla Papua ini.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jokowi Ungkap Foto di Ijazahnya adalah Dirinya, Bukan Dumatno Budi Utomo
• 1 jam lalukompas.tv
thumb
Erick Thohir Menjawab Nasib Timnas Indonesia di FIFA Matchday November 2026: Kompleks, Prioritaskan Keselamatan Pemain
• 21 jam lalubola.com
thumb
Editorial MI: Membongkar Makar di Balik Penyadapan
• 12 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Paus Leo Mulai Tur Amerika Selatan Usai Operasi Kanker Paru
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Kasus Dugaan Penyadapan Presiden: Kuasa Hukum Pastikan Irjen Ahrie Sonta Akan Kooperatif
• 55 menit laluokezone.com
Berhasil disimpan.