Jelajahi Pelosok Sulawesi: Desa Tanpa Kelaparan dan Mimpi Jadi Messi

cnbcindonesia.com
3 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, CNBC Indonesia - Di wilayah pesisir utara Pulau Sulawesi, dekat perbatasan Provinsi Sulawesi Tengah dan Gorontalo, ada desa kecil yang diberkahi 'harta karun' melimpah. Menurut pengakuan warga setempat, tidak ada orang yang kelaparan di desa ini.

Namanya Desa Harmoni, salah satu desa perikanan di Kab. Buol, Sulawesi Tengah, yang mayoritas warganya berprofesi sebagai nelayan.

Desa Harmoni berbatasan langsung dengan Laut Sulawesi di sisi utara dan dibentengi deretan perbukitan di sisi selatan. Area hulunya dialiri sumber mata air alami yang tumpah ruah, bahkan turut memasok air bersih bagi warga tetangga di Desa Lunguto.

Belum banyak informasi yang bisa ditemui di internet tentang Desa Harmoni. Padahal, ikan roa yang terkenal sampai ke Pulau Jawa banyak dipasok dari desa berpenduduk 1.334 jiwa ini.

Meskipun profesi nelayan merupakan tradisi nenek moyang secara turun-temurun, banyak pula warga yang merangkap sebagai petani. Tanah yang subur memungkinkan berbagai jenis sumber pangan tumbuh di Desa Harmoni, mulai dari jagung, padi, kakao, cengkeh, hingga kelapa.

"Kami tidak takut lapar di sini. Makan tinggal ambil ikan di laut. Kalau mau pakai sambal, ada tomat dan cabai tinggal petik di kebun. Mau pisang, jagung, padi, semua tinggal tanam," kata Ahmad Djaru (54), seorang nelayan sekaligus petani di Desa Harmoni.

Ahmad Djaru (54), nelayan di Desa Harmoni, Kec. Paleleh Barat, Kab. Buol, Sulawesi Tengah. (CNBC Indonesia/Hariyo Riyantomo) Foto: (CNBC Indonesia/Hariyo Riyantomo)

Pria bersuara berat ini bisa dibilang sebagai pengusaha serba bisa. Selain menjadi nelayan, Ahmad membuka fasilitas pengasapan ikan roa serta memiliki berbagai jenis lahan perkebunan di Desa Harmoni.

"Setiap hari saya berangkat melaut, kadang sampai bermalam-malam. Kalau di tengah laut itu kita biasa cari hiburan. Pas ada sinyal bagus, kita sering live pas lagi tangkap ikan," kata Ahmad.

Melakukan siaran langsung di media sosial merupakan salah satu cara Ahmad memperkenalkan kekayaan bahari di Buol, sekaligus menjangkau pembeli potensial baru. Platform FB Live menjadi andalan Ahmad, meski tak jarang nelayan lain memilih siaran langsung di TikTok Live.

Memanfaatkan platform digital sebagai media promosi merupakan salah satu manfaat langsung dari masuknya jaringan internet di Desa Harmoni sejak 2022, melalui kehadiran Base Transceiver Station (BTS) 4G BAKTI Komdigi.

Kehidupan para nelayan berubah signifikan sejak terhubung ke dunia digital. Berkat internet, nelayan bisa memantau cuaca dan menentukan titik koordinat secara real-time saat melaut, hingga memudahkan transaksi dan komunikasi dengan pembeli.

(Data 34 BTS BAKTI di Buol, PPID 2025)

Dulu Modal Firasat, Sekarang Tinggal Cek Layar HP

Sebelum ada internet, Ahmad hanya bisa memperhitungkan tanggal dan melihat kondisi bulan di langit untuk memprakirakan pasang-surut laut. Hal serupa diungkapkan Anton (56), pemilik kapal ikan yang baru saja kembali dari laut setelah 12 jam melawan ombak.

"Dulu semuanya cuma pakai firasat dan perasaan. Kalau lagi musim ombak kencang, kadang bisa nyasar. Kalau sekarang sudah aman, walaupun memang sinyal masih suka hilang-hilang di laut," ia menjelaskan.

Anton (56), nelayan di Desa Harmoni, Kec. Paleleh Barat, Kab. Buol, Sulawesi Tengah. Foto: Kartini Bohang

Anton membawa pulang 1 ton ikan cakalang dan ikan layang ke darat. Kru yang ikut serta bersamanya ke tengah laut sejauh 40 km bergantian mengangkut ikan dari kapal ke pinggir pantai.

Dua mobil pick-up pengangkut dari Gorontalo sudah menanti bongkaran ikan dari kapal milik Anton. "Kami sudah kabar-kabaran pakai HP sejak di tengah laut, jadi waktu ikan tiba pembelinya sudah ada," ujar Anton.

Kemudahan yang dirasakan Anton saat ini berbanding terbalik dengan era sebelum internet tersedia. Para nelayan di Desa Harmoni dulu harus sabar menunggu pembeli datang. Ketidakpastian ini membuat ikan kerap dijual sangat murah.

Jika lebih dari dua hari tak ada yang datang mengangkut, tak jarang ikan harus dikubur di dasar laut. Pasalnya, hingga hari ini, Desa Harmoni belum memiliki fasilitas pendingin berskala besar untuk menampung ikan hasil tangkapan dalam waktu lama.

Para nelayan mengandalkan es yang dibeli dari Gorontalo untuk memperpanjang masa segar ikan-ikan tersebut sebelum jatuh ke tangan pembeli. "Memang ikan di sini kalau sudah ditangkap harus cepat-cepat langsung dijual. Jadinya kita juga tidak bisa terlalu menentukan harga," Anton menjelaskan.

Ketika hasil tangkapan lumayan banyak, misalnya mencapai 3 ton, harga ikan dipatok Rp10.000/kg. Namun, jika tangkapan sedikit, misalnya hanya 500 kg, harga bisa lebih mahal mencapai Rp13.000/kg.

Rezeki dari laut dipakai Anton untuk membiayai kehidupan rumah tangga sehari-hari, hingga mampu menyekolahkan ketiga anaknya ke perguruan tinggi.

Siaran Langsung dari Tengah Laut

Setiap bulan, Anton menyisihkan sekitar Rp500.000 untuk membeli pulsa dan paket data internet. Kuotanya paling banyak tersedot untuk berhubungan dengan pembeli, mengecek informasi cuaca dari BMKG, serta mencari ilmu perikanan baru dari YouTube.

"Saya suka lihat tutorial di YouTube. Termasuk cara mengecek titik koordinat, itu saya tahunya dari YouTube," ia menjelaskan.

Kru kapalnya lebih canggih lagi. Anton bercerita para anggota [sebutan untuk kru kapal Anton] sudah piawai memanfaatkan media sosial untuk memamerkan hasil tangkapan ikan melalui TikTok Live di tengah laut. Anton mengapresiasi inisiatif tersebut, sebab turut membantu mempromosikan hasil tangkapannya.

"Anak buah yang muda-muda biasanya kalau sudah tangkap ikan di tengah laut langsung live di TikTok. Mereka ikut mempromosikan hasil tangkapan, jadi lebih banyak orang yang tahu," kata Anton.

Kru kapal milik Anton mengangkut hasil tangkapan dari laut ke darat. Foto: Kartini Bohang

Setiap melaut, Anton biasanya membawa 15-20 kru untuk membantu proses penangkapan hingga pembongkaran ikan. Jika ikan yang ditangkap laris manis, para kru langsung kecipratan hasilnya.

Pasalnya, pendapatan bersih diperoleh dari hasil penjualan yang dikurangi ongkos operasional melaut, lalu dibagi tiga sama rata. Masing-masing untuk pemilik kapal sekaligus operator, pemilik rumpon, dan kru.

Ongkos sekali melaut rata-rata Rp2 juta, sudah termasuk BBM. Dengan asumsi tangkapan 1 ton seharga Rp10.000/kg, pendapatan kotornya adalah Rp10.000.000. Dari jumlah tersebut, setelah dipotong biaya operasional, sisa Rp8.000.000 dibagi rata untuk ketiga pihak.

"Di sini tidak ada sistem sewa atau upah, semua kita bagi rata dari pendapatan," Anton menjelaskan.

Bertemu Messi di Internet
Para siswa SDN 7 Paleleh Barat, Desa Harmoni, Kab. Buol, Sulawesi Tengah. Foto: Kartini Bohang


Bukan cuma nelayan yang merasakan manfaat kehadiran internet di Desa Harmoni. Nafa, siswi kelas 6 SD di SDN 7 Paleleh Barat, bisa melihat dunia yang lebih luas lewat layar HP.

Nafa menggebu-gebu ketika menceritakan kecintaannya terhadap olahraga sepak bola. Jika sudah besar nanti, Nafa bercita-cita ingin menjadi pemain bola hebat seperti Lionel Messi.

Setiap sore sepulang sekolah, Nafa rutin bermain bola di lapangan depan sekolah yang jaraknya tak jauh dari rumahnya. Kepala Desa Harmoni, La Ode Desi, sering mendapati Nafa bermain bola bersama kawan-kawannya.

"Dia anak perempuan sendiri yang main bola sama anak laki-laki, tapi jagonya tidak kalah," kata Desi.

Nafa, siswa kelas 6 SD di SDN 7 Paleleh Barat, Desa Harmoni, Kab. Buol, Sulawesi Tengah. Foto: Kartini Bohang

Nafa mengaku terinspirasi oleh sosok Messi yang ia 'temui' lewat layar HP. Ia mempelajari trik-trik permainan Messi lewat pertandingan-pertandingan yang disiarkan di platform internet. Berita dan informasi terkini terkait Messi selalu menarik perhatiannya.

Meskipun terobsesi dengan permainan sepak bola, Nafa tak serta-merta meninggalkan kewajibannya menimba ilmu akademik di sekolah. Sejak kelas 1 SD hingga 6 SD, Nafa langganan menjadi juara kelas.

Proses belajar-mengajar di SDN 7 Paleleh Barat secara perlahan sudah mengadopsi ranah digital. Para guru kerap memanfaatkan smart screen yang disediakan pemerintah untuk mengakses materi pembelajaran terbaik dari berbagai penjuru dunia.

Nafa juga suka mengulik materi pembelajaran lewat bantuan Doula AI. "Biasanya saya suka cari-cari rumus matematika di Doula AI," ujarnya.

Akses internet untuk sektor pendidikan menjadi salah satu fokus BAKTI Komdigi. Hingga 2025, ada 188 titik Akses Internet yang disediakan BAKTI Komdigi di Kabupaten Buol. Mayoritas diperuntukkan bagi kebutuhan pendidikan, di samping fasilitas pemerintahan dan kesehatan.

Jalan untuk mencapai pemerataan penuh memang masih panjang. Di Kab. Buol, masih ada 12 dusun dan desa yang berstatus blankspot alias belum terjangkau sinyal internet. Wilayah-wilayah tersebut tersebar di Kec. Biau, Kec. Karamat, Kec. Bukal, Kec. Momunu, Kec. Tiloan, dan Kec. Paleleh Barat.

Infrastruktur BTS 4G dan bantuan Akses Internet merupakan upaya BAKTI Komdigi untuk terus menggenjot pemerataan internet hingga ke pelosok negeri. Dengan jaringan internet yang kian meluas, kesenjangan informasi dapat dipangkas, sehingga masyarakat mampu mendapatkan peluang yang setara dalam aktivitas ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan layanan publik.

(fab/fab)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
BRI Manado Perkuat Sinergi dengan Kodam XIII/Merdeka Pacu Ekonomi Sulut
• 14 jam lalurepublika.co.id
thumb
Kehilangan Kendali atas DPR dan Senat AS, Trump: Demi Kepentingan Negara, Bersedia Bekerja Sama dengan Partai Demokrat
• 8 jam laluerabaru.net
thumb
Sederet Insentif Akhir Tahun, Ada Bantuan Subsidi Upah hingga Bebas PPN Tiket Pesawat 
• 22 jam laluidxchannel.com
thumb
Jimly Sebut Prabowo Antisadap sejak Dulu: Benar-Benar Merasa Dikhianati
• 19 jam lalukompas.tv
thumb
Review realme C01, Benarkah Baterainya Awet Dipakai Seharian?
• 9 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.