Perusahaan sektor energi kembali unjuk gigi dalam pasar penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Kali ini, PT Andalan Artha Primanusa Tbk akan melantai di bursa pada 1 Desember mendatang dengan menggunakan kode saham ANDA.
ANDA menjadi calon emiten sektor energi pertama yang melantai di BEI sepanjang tahun ini. Berdasarkan data BEI, perusahaan sektor energi terakhir yang menggelar IPO adalah PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) milik pengusaha Hapsoro Sukmonohadi atau Happy Hapsoro pada Januari 2025.
Di tengah ketidakpastian global, sektor energi dinilai masih memiliki prospek menarik bagi investor. Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama mengatakan, sektor ini menjadi salah satu yang layak dicermati selain perbankan dan konsumer, terutama dengan prospek bisnis yang dinilai menjanjikan pada tahun depan.
Kendati demikian, investor tetap perlu memperhatikan fundamental dan kinerja keuangan masing-masing perusahaan sebelum mengambil keputusan investasi. “Fokus pada emiten dengan fundamental dan pertumbuhan laba yang sehat,” ujar Elandry kepada Katadata, Jumat (6/11).
Berikut kinerja sebelas sektor di BEI secara tahunan atau year on year (YoY)
(Sumber: data BEI/ diolah Katadata)
Elandri menilai IPO ANDA menarik jika dilihat dari prospek perseroan sebagai perusahaan jasa kontraktor tambang batu bara dan nikel. Saat ini, perseroan memiliki enam bidang usaha, yaitu aktivitas penunjang pertambangan dan penggalian lainnya, aktivitas perusahaan induk, konstruksi bangunan sipil pertambangan, aktivitas konsultasi manajemen lainnya, aktivitas penyewaan alat konstruksi dengan operator serta aktivitas konsultasi manajemen dan bisnis perdagangan
“Kegiatan usaha perseroan yang saat ini telah benar-benar dijalankan oleh perseroan (secara riil) adalah aktivitas penunjang pertambangan dan penggalian lainnya,” tulis manajemen ANDA dalam prospektus IPO dikutip pada Jumat (6/11).
Manajemen menilai prospek jasa kontraktor pertambangan batu bara di Indonesia pada tahun depan masih menawarkan peluang. Namun, industri tersebut tetap menghadapi dinamika harga komoditas dan penyesuaian kebijakan produksi nasional.
Dalam IPO ini, ANDA menawarkan saham pada rentang harga Rp 158-189 per saham. Perseroan akan melepas sebanyak-banyaknya 1,676 miliar saham baru atau setara 25,10% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO.
Jika seluruh saham terserap pada harga tertinggi, perseroan berpotensi mengantongi dana segar hingga Rp 316,76 miliar. Saham yang ditawarkan merupakan saham baru dari portepel perseroan dengan nilai nominal Rp 10 per saham.
Sebelum IPO, modal ditempatkan dan disetor perseroan sebanyak 5 miliar saham. Setelah penawaran umum, jumlah saham tersebut meningkat menjadi 6,676 miliar saham. Berikut struktur pemegang saham perseroan sebelum dan setelah IPO:
(Sumber: prospektus IPO ANDA/ diolah Katadata)
Elandry mengatakan, pada rentang book building IPO ANDA saat ini yaitu Rp 158 - 189, investor sebaiknya tetap selektif dan mempertimbangkan valuasi terhadap prospek pertumbuhan serta keberlanjutan laba perusahaan.
Sementara itu Investment Growth Specialist Korea Investment Sekuritas Indonesia, Ahmad Faris Mu'tashim, menilai harga penawaran saham ANDA di kisaran Rp 180 cukup wajar bila dibandingkan dengan kebutuhan modal kerja dan prospek pertumbuhan perseroan. “Namun kami menilai harga Rp 180 harga yang cukup fair untuk menjustifikasi alokasi modal kerja dan story pertumbuhan yang ada,” kata Ahmad.
Kinerja Keuangan ANDADari sisi keuangan, ANDA membukukan laba bersih Rp 11,77 miliar pada semester pertama 2026. Angka tersebut melonjak 261% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 3,26 miliar.
Namun, pertumbuhan laba tersebut tidak diikuti kenaikan pendapatan. Perseroan mencatat pendapatan Rp 200,11 miliar hingga Juni 2026, turun 8,69% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 219,15 miliar.
Manajemen menjelaskan, penurunan pendapatan terutama disebabkan berkurangnya pekerjaan pengupasan lapisan tanah dari PT Budi Gema Gempita (BGG). Kendati demikian, dampak tersebut sebagian tertutupi oleh kontribusi pendapatan dari sejumlah pemberi kerja baru yaitu PT Petrosea Tbk (PTRO), PT Position (POS), PT Intan Bumi Persada (IBP), PT Berkarya Sinar Bersama (BSB) dan PT Satria Bahana Sarana (SBS).
Sementara itu, kenaikan laba bersih ditopang oleh penurunan beban pokok pendapatan, terutama biaya bahan bakar. Kondisi tersebut turut mendorong peningkatan margin laba bruto perseroan dibandingkan periode sebelumnya.
Untuk menjaga pertumbuhan kinerja, manajemen berencana mengoptimalkan produksi melalui peningkatan utilisasi alat berat dan perencanaan operasional yang lebih terstruktur. Perseroan juga akan memperketat pengendalian biaya operasional serta meningkatkan efisiensi pemeliharaan alat berat melalui program preventive dan predictive maintenance.
Strategi tersebut diharapkan dapat mengurangi risiko kerusakan alat, menjaga keandalan armada, serta menekan biaya perawatan.
Walaupun laba bersih meningkat, investor tetap perlu mencermati tren pendapatan perseroan. Sebab, pendapatan ANDA dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan penurunan, dari Rp 517,03 miliar pada 2023 menjadi Rp 415,43 miliar pada 2024 dan Rp 368,82 miliar pada 2025. “Investor perlu mencermati ketergantungan pelanggan, arus kas, dan penggunaan dana IPO,” ucap Elandry.
Penggunaan Dana IPO ANDADalam prospektusnya, ANDA berencana menggunakan dana hasil IPO setelah dikurangi biaya emisi untuk membayar utang dan memenuhi kebutuhan modal kerja operasional.
Sekitar 35% dari dana bersih IPO akan digunakan untuk pembayaran utang perseroan. Dari jumlah tersebut, Rp 65,01 miliar atau 21,26% dari dana IPO dialokasikan untuk melunasi seluruh sisa pokok pinjaman kepada PT Radana Bhaskara Finance Tbk.
Selanjutnya, sebesar Rp 42 miliar atau 13,74% akan digunakan untuk membayar sebagian pokok pinjaman kepada PT Bank Mandiri Tbk (BMRI).
Sementara itu, sekitar 65% dana bersih IPO akan dialokasikan untuk modal kerja operasional. Penggunaannya mencakup pembelian suku cadang alat berat, pelumas, ban kendaraan operasional, serta bahan bakar minyak (BBM).
Dana tersebut juga akan digunakan untuk membiayai upah, tunjangan, dan fasilitas penunjang bagi tenaga kerja operasional di lapangan.
Apabila dana hasil IPO tidak mencukupi untuk memenuhi seluruh kebutuhan tersebut, perseroan akan mengalokasikannya secara proporsional sesuai dengan persentase penggunaan dana dalam prospektus. Adapun kekurangannya akan dipenuhi melalui arus kas internal perseroan.




