Pantau - PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMF AeroAsia) mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 34,6 persen secara tahunan menjadi 413,42 juta dolar Amerika Serikat (AS) hingga kuartal III 2026, didorong peningkatan aktivitas perawatan pesawat, mesin, dan proyek strategis industri penerbangan.
Perusahaan yang bergerak di bidang perawatan dan perbaikan pesawat tersebut juga membukukan laba bersih sebesar 22,14 juta dolar AS meskipun menghadapi tekanan akibat pelemahan nilai tukar rupiah.
Direktur Utama GMF AeroAsia Andi Fahrurrozi mengatakan pertumbuhan kinerja perusahaan didukung kontribusi sejumlah proyek strategis, termasuk reaktivasi pesawat Garuda Indonesia Group dan perawatan armada pertahanan.
“Pencapaian kinerja GMF hingga kuartal III 2026 menunjukkan bahwa aktivitas bisnis dan operasional perusahaan terus bergerak positif,” kata Andi dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (6/11/2026).
Pendapatan GMF AeroAsia Naik 34,6 Persen, EBITDA Tumbuh 16,2 PersenGMF AeroAsia mencatat pendapatan sebesar 413,42 juta dolar AS hingga kuartal III 2026 atau meningkat 34,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut sejalan dengan peningkatan aktivitas bisnis pada segmen perawatan badan pesawat (airframe) dan mesin pesawat (engine).
Selain pendapatan, laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi atau EBITDA perusahaan mencapai 57,40 juta dolar AS.
Angka tersebut meningkat 16,2 persen secara tahunan, mencerminkan kontribusi positif dari aktivitas operasional dan sejumlah proyek strategis perusahaan.
Andi menjelaskan bahwa peningkatan kinerja terutama berasal dari proyek reaktivasi pesawat Garuda Indonesia dan Citilink, perawatan mesin, serta pekerjaan pemeliharaan armada pertahanan.
“Pertumbuhan pendapatan dan EBITDA tidak terlepas dari kontribusi berbagai lini bisnis, terutama melalui proyek reaktivasi pesawat Garuda Indonesia dan Citilink, perawatan engine, serta pekerjaan perawatan armada pertahanan,” kata Andi.
GMF Bukukan Laba Bersih 22,14 Juta Dolar AS di Tengah Tekanan Kurs RupiahMeski mencatat pertumbuhan pendapatan dan EBITDA, GMF AeroAsia masih menghadapi tantangan dari fluktuasi nilai tukar mata uang.
Perusahaan membukukan laba bersih sebesar 22,14 juta dolar AS hingga kuartal III 2026.
Kinerja laba tersebut masih dipengaruhi kerugian selisih kurs akibat pelemahan rupiah terhadap mata uang asing.
Menurut Andi, dinamika nilai tukar menjadi salah satu faktor yang memengaruhi profitabilitas perusahaan di tengah peningkatan aktivitas bisnis.
“Di tengah dinamika nilai tukar yang turut memengaruhi profitabilitas, kami terus berupaya menjaga efektivitas operasional dan mengoptimalkan peluang bisnis yang tersedia,” ujar dia.
GMF terus berupaya meningkatkan efisiensi operasional sekaligus memanfaatkan peluang bisnis untuk menjaga pertumbuhan kinerja.
GMF Garap Modernisasi Pesawat TNI AU dan Perawatan Pesawat FilipinaSelain mencatat peningkatan kinerja keuangan, GMF AeroAsia juga memperkuat kemampuan operasional melalui sejumlah proyek strategis sepanjang kuartal III 2026.
Salah satu proyek yang dikerjakan adalah modernisasi pesawat C-130H A-1319 milik Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU).
Perusahaan juga menyelesaikan proyek perdana perawatan pesawat ATR milik maskapai asal Filipina di fasilitas GMF Pondok Cabe.
Penyelesaian proyek tersebut menjadi bagian dari aktivitas perusahaan dalam memperluas layanan perawatan pesawat bagi pelanggan industri penerbangan.
Selain itu, GMF menjajaki peluang kerja sama dengan berbagai mitra industri melalui ajang Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) Asia Pacific.
Langkah tersebut dilakukan untuk memperkuat kapabilitas perusahaan sekaligus membuka peluang bisnis baru di sektor perawatan dan perbaikan pesawat.
Ekuitas GMF Berbalik Positif Jadi 155,76 Juta Dolar ASGMF AeroAsia juga melaporkan perbaikan struktur keuangan hingga kuartal III 2026.
Total ekuitas perusahaan tercatat mencapai 155,76 juta dolar AS, berbalik positif dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang masih berada pada posisi negatif 235,70 juta dolar AS.
Perubahan tersebut menunjukkan adanya peningkatan posisi ekuitas sebesar 391,46 juta dolar AS dibandingkan tahun sebelumnya.
Andi menilai perkembangan tersebut menjadi momentum penting dalam memperkuat struktur permodalan dan fundamental keuangan perusahaan.
Perbaikan posisi ekuitas juga menjadi salah satu faktor pendukung bagi GMF dalam mengembangkan aktivitas bisnis pada periode mendatang.
“Dengan fondasi keuangan yang semakin kuat, kami optimistis dapat mengoptimalkan peluang bisnis dan menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan,” katanya.
GMF AeroAsia akan terus memperkuat kemampuan operasional, meningkatkan efektivitas bisnis, dan memanfaatkan peluang kerja sama industri penerbangan untuk mendukung pertumbuhan perusahaan secara berkelanjutan.




