Lantunan ”Goodness of God” dari paduan suara menggema di Gereja Bethel Indonesia Bromo, Kota Magelang, Jawa Tengah. Di sepanjang lorong, deretan bangku kayu tampak semarak oleh rangkaian mawar putih dan merah muda. Sembari menggamit lengan Bastian (33), Desarta Purnaning Putri (31) berjalan menuju altar untuk mengucapkan janji pernikahan.
Selepas ibadah pemberkatan usai, tak ada pesta lanjutan. Satu per satu tamu mengucapkan selamat, lalu meninggalkan gereja. Belakangan, pasangan muda seperti Bastian dan Putri memilih pernikahan tanpa pesta. Alih-alih menggelontorkan uang untuk pesta, mereka memilih menabung demi masa depan.
Bastian dan Putri menikah pada 12 Mei 2025. Lebih dari setahun sejak mereka menikah, Bastian dan Putri kembali mengenang perjalanan pernikahan mereka, ketika dihubungi pada Rabu (4/11/2026).
Ketika pernikahan muncul dalam perbincangan mereka, keduanya sepakat untuk merayakannya tanpa pesta. Alasannya sederhana, yakni berhemat. Berpesta di gedung besar dengan sajian prasmanan dan dekorasi mewah terasa boros.
Semasa mereka berpacaran, Bastian sudah bekerja sebagai pegawai negeri sipil di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Semarang. Sementara itu, Putri menduduki posisi penanggung jawab operasional di sebuah perusahaan swasta. Sebagai sesama pekerja, mereka memilih menyisihkan gaji bulanan untuk modal mengarungi hidup bersama.
Lagi pula, mereka tak ingin merepotkan orangtua. Semua biaya pernikahan, mulai dari dana untuk gereja, dekorasi, pakaian dan riasan, hingga bingkisan untuk tamu, dibayar murni dari dompet berdua. ”Dari awal, kami sudah berpikir bagaimana caranya menanggung hidup sendiri. Kami ingin berdiri dengan kaki sendiri,” ucap Putri.
Bastian menimpali. ”Semuanya pure dari kami. Enggak ada tambahan dari keluarga,” ujarnya.
Keputusan itu memantik keraguan di kalangan keluarga besar. Mulanya, orangtua Putri mengharapkan ada acara syukuran bersama sanak saudara. Namun, mereka bersikukuh tak ingin menggelar perayaan apa pun setelah pemberkatan di gereja.
Tak hanya meniadakan resepsi, mereka juga berusaha menekan pengeluaran dengan mengurus sendiri sejumlah keperluan. Putri mengemas sekaligus merancang bingkisan berisi sabun cuci tangan. Hingga tengah malam, ia menempelkan pita-pita kecil ke tas bingkisan.
Upaya berhemat itu terbukti berhasil. Biaya yang mereka habiskan untuk menikah sekitar Rp 50 juta. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan anggaran yang disiapkan sebagian calon pengantin di Indonesia. Hasil survei iPrice pada 2021, rata-rata pengantin di Indonesia menghabiskan Rp 191,65 juta untuk pesta pernikahan.
Uang yang tak dikeluarkan untuk menggelar pesta, menurut Bastian dan Putri, lebih baik disimpan. Setelah menikah, mereka rutin menyisihkan 40 persen gaji ke tabungan pendidikan anak dan rumah. Bagi keduanya, persiapan menjalani kehidupan berkeluarga lebih penting daripada kemeriahan perayaan sehari. ”Daripada buang uang untuk seremonial, mending buat ke depannya saja,” kata Bastian.
Pernikahan tanpa pesta tak hanya dipilih Bastian dan Putri. Keputusan serupa pun diambil pasangan lain. Pada Sabtu (7/11/2026), Desy Kharisma (23) akan menikahi Carlo Mail di Gereja Sahabat Indonesia Exodus, Jakarta Utara. Seluruh rangkaian pernikahan mereka hanya menghabiskan Rp 10 juta.
Ketika ditemui pada Kamis lalu, Desy menyambut dengan senyum ramah. Rambut hitam ikalnya diikat setengah ke belakang. Sisi kanan hidungnya ditindik cincin perak.
Akhir-akhir ini, hidup terasa berat. Desy mengeluhkan harga bahan-bahan pokok yang melonjak. Dalam sehari, pengeluarannya untuk makan dengan Carlo bisa Rp 150.000.
Keluhan Desy sejalan dengan hasil analisis Tim Jurnalisme Data Kompas. Pada 2026, harga 15 komoditas pangan meningkat drastis. Rata-rata kenaikannya mencapai 12,6 persen.
Sekarang, tumpuan ekonomi keluarga berada di pundak Carlo. Meski penghasilan Carlo dari pekerjaannya bisa menyentuh Rp 13 juta sebulan, mereka tetap cermat mengelola keuangan. Desy sedang rehat dari dunia kerja. Sebelumnya, ia pernah menjabat sebagai kepala gerai makanan dan minuman.
Di sisi lain, mereka memiliki sejumlah rencana setelah menikah. Kelak, mereka bercita-cita mempunyai rumah di perkampungan yang asri dengan hamparan sawah. Saat ini, Desy dan Carlo masih menyewa rumah petak di Tangerang, Banten.
Pendidikan anak di masa depan pun sudah mereka pikirkan. Desy berharap bisa menyekolahkan anaknya di sekolah swasta. ”In this economy, pendidikan makin mahal,” ujarnya.
Pernikahan itu memang sekali seumur hidup, tapi kami punya kehidupan selanjutnya yang harus dipertimbangkan biayanya. Jadi, (harus) seminimal mungkin dan hemat banget.
Demi mewujudkan angan-angan itu, Desy sebisa mungkin menekan biaya pernikahannya. Ia dan Carlo sepakat hanya menggelar pemberkatan sederhana di gereja tanpa resepsi. Tamu yang diundang pun dibatasi sekitar 10 orang.
Desy juga tak gegabah memilih jasa rias dan penyewaan pakaian. Jauh-jauh hari sebelum menikah, ia sempat menelusuri butik pengantin di kawasan BSD. Sayangnya, harga yang ditawarkan terlalu mahal. ”Sewa gaun dan jas aja bisa sampai Rp 4 juta atau Rp 5 juta,” ucapnya.
Setelah bertanya kepada beberapa kenalan, Desy menemukan butik pengantin yang menyediakan paket seharga Rp 1,5 juta. Paket itu sudah mencakup riasan, gaun, dan jas.
Penghematan juga diterapkan pada hal-hal lain. Desy tak membagikan bingkisan kepada tamu undangan. Ia menilai, pernak-pernik yang diberikan pengantin tidak selalu berguna bagi para tamu.
Untuk dokumentasi pernikahan, Desy tidak memakai jasa fotografer profesional. Ia hanya meminta bantuan seorang kenalan yang sering memotret. ”Pernikahan itu memang sekali seumur hidup, tapi kami punya kehidupan selanjutnya yang harus dipertimbangkan biayanya. Jadi, (harus) seminimal mungkin dan hemat banget,” tutur Desy.
Prinsip yang sama diterapkan Supriyanto. Rabu (4/11/2026) siang itu, Supriyanto (35) melangkah keluar dari Kantor Urusan Agama (KUA) Palmerah, Jakarta Barat. Ia baru saja melunasi pembayaran Rp 600.000 untuk biaya pencatatan pernikahan. Dua pekan berselang, akadnya akan digelar di Gedung Serbaguna Kompleks Hankam.
Di lengan Supriyanto terselip map berisi dokumen-dokumen pendaftaran pernikahan. ”Enggak gebyar-gebyar (pesta pernikahan). Intimate wedding saja,” ungkapnya.
Supriyanto berasal dari Kuningan, Jawa Barat. Sebelum menetap di Jakarta, ia mengadu nasib di Cirebon. Ia bekerja sebagai penyortir di gudang pengiriman. Namun, setiba di Jakarta, hidup mulai membaik. Supriyanto mendapat pekerjaan sebagai pengelola kos dan depot air minum. Di sekitar tempat kerjanya, Supriyanto bertemu calon istrinya, Panca Melinda atau Melda (28).
Sedari awal, hubungan mereka sudah berjalan serius. Tak lama setelah berpacaran, Supriyanto bertandang ke rumah Melda untuk menemui ibunya. Keluarga Melda dengan lugas menginginkan mereka untuk menikah. Setahun kemudian, Supriyanto menyanggupi harapan itu. Pada Juni 2025, ia melamar Melda.
Meski tetap menggelar resepsi seusai akad, mereka tak ingin mengundang terlalu banyak orang. Tamu yang diundang kurang dari 200 orang. Jumlah itu terbilang sedikit mengingat Melda berasal dari keluarga besar. Ibunya memiliki 15 saudara kandung.
Perihal acara, Supriyanto dan Melda menggunakan jasa penyelenggara pernikahan. Total anggaran yang disiapkan berada di rentang Rp 80 juta-Rp 90 juta. Sekalipun angkanya kontras dibandingkan pernikahan tanpa resepsi, mereka sudah berhemat dengan menghindari pesta keluarga besar yang membutuhkan modal ratusan juta.
Serial Artikel
Bisnis Jasa Pernikahan dan Tren Terbaru
Penyelenggara jasa pesta pernikahan ini sebagai bisnis yang menjanjikan di tengah tuntutan kepraktisan konsumen.
Besarnya biaya hidup di Jakarta membuat Supriyanto berpikir panjang dalam mengalokasikan tabungan. Ia tak ingin perayaan berlebihan yang akan menghabiskan banyak uang, sementara kebutuhan rumah tangga masih menanti. ”Selebihnya, lebih baik disimpan buat beli aset seperti rumah atau tabungan anak,” katanya.
Fenomena pernikahan sederhana mencerminkan perubahan cara anak muda memaknai perkawinan. Dosen Sosiologi dari Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta, Rusfadia Saktiyanti, menilai, keputusan itu tak semata-mata didorong oleh keinginan berhemat.
Anak muda, menurut Yanti, cenderung memandang pernikahan sebagai pilihan pribadi. Pengambilan keputusan harus didasarkan pada kesiapan finansial dan batin. Mereka tidak lagi menjadikan tuntutan sosial sebagai satu-satunya pertimbangan.
”Keputusan mereka juga sangat tergantung pada kemampuan menanggung risiko pernikahan di masa depan, seperti biaya rumah, anak, dan sebagainya,” ucapnya.
Daripada memberi makan untuk banyak orang, lebih baik uangnya dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga dan bulan madu ke tempat yang bagus.
Peralihan itu terlihat dari cara pasangan menentukan konsep pernikahan. Yanti menuturkan, generasi muda kini lebih menghargai keintiman dalam sebuah perayaan. Mereka cenderung mengundang orang-orang terdekat. Pesta besar yang melibatkan tamu undangan dari jaringan luas tak lagi begitu diminati.
Perkembangan media sosial turut berpengaruh pada cara pasangan menampilkan pernikahan kepada khalayak umum. Dulu, kemewahan pesta menjadi salah satu simbol status sosial keluarga. Kini, simbol itu bisa ditampilkan dengan dokumentasi yang diunggah di media sosial. ”Pada hakikatnya, pernikahan adalah pengumuman kepada publik. Dengan cara ini (media sosial), pengumumannya bisa lebih meluas.” kata Yanti.
Sejatinya, Yanti menambahkan, pergeseran ini tak serta-merta menghapus tradisi pesta pernikahan. Masih ada keluarga yang menyelenggarakan resepsi besar untuk menjaga nama baik dan kehormatan keluarga. Terlebih, pernikahan juga erat dengan simbol modal sosial keluarga.
Kendati dirayakan tanpa pesta, pernikahan tetap berarti sakral untuk Bastian dan Putri. Kini, keduanya sudah dikaruniai anak perempuan. Menurut rencana, akhir November 2026, Putri dan anak mereka yang masih tinggal di Magelang akan menyusul Bastian ke Semarang. Mereka telah menyewa rumah di kota itu.
Bastian menyadari, tinggal bersama mendatangkan dinamika dan tantangan baru. Apalagi, selama setahun terakhir, mereka menjalani pernikahan jarak jauh. Namun, ia tetap memegang komitmen untuk saling menguatkan.
”Aku berdoa supaya kami dikuatkan, saling mengerti terus, dan bisa jadi orangtua serta panutan yang baik buat anak,” ujar Bastian.
Pada akhirnya, tiadanya pesta meriah tak berarti makna dari sebuah pernikahan berkurang. Bagi para pasangan muda, perjalanan sesungguhnya baru dimulai seusai pernikahan. Hari-hari setelah janji suci diucapkan sedang menanti mereka.





