JAKARTA -- Suara seorang direktur utama terdengar meyakinkan ketika meminta pegawainya membantu transaksi perusahaan yang bersifat rahasia. Namun, orang yang memberikan instruksi itu ternyata bukan sang direktur, melainkan penipu yang diduga menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk menirukan suara dan bahkan wajahnya.
Modus tersebut menjadi inti skandal penipuan internasional yang diungkap Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) pada Kamis (5/11/2026). Tiga pria didakwa menjalankan sindikat penipuan berbasis AI yang diduga berhasil mencuri sekitar 129 juta dolar AS dari berbagai perusahaan di Amerika Serikat dan negara lainnya.
- Genosida Warga Palestina Berlanjut, Erdogan: Dunia Berubah Jadi ‘Macan Kertas’ Saat Hadapi Israel
- Transaksi Derivatif Aset Kripto Tumbuh 27,19 Persen pada September 2026
- Terungkapnya Motif Tersangka Habisi Nyawa Perempuan dalam Indekos di Cimahi
Ketiga terdakwa adalah Jacob Soall (41 tahun), Sharon Hazan (54 tahun), dan Guy Sheetrit (42 tahun). Mereka dituduh memanfaatkan teknologi peniruan suara serta gambar untuk menyamar sebagai pimpinan perusahaan dan pengacara dari firma hukum internasional.
Menurut dokumen dakwaan yang dibuka ke publik di Pengadilan Distrik Federal Manhattan, New York, sindikat tersebut menjalankan aksinya sejak sekitar Juli 2024 hingga Februari 2026. Sasaran mereka mencakup ribuan perusahaan di berbagai negara, dengan korban yang berhasil ditipu meliputi rumah sakit, bank, perusahaan teknologi keuangan, pengelola dana investasi, dan produsen makanan hewan.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Penyidik menyebut para pelaku tidak perlu membobol rekening perusahaan secara langsung untuk mengambil uang. Mereka justru diduga memanipulasi pegawai yang mempunyai kewenangan keuangan agar mentransfer dana perusahaan ke rekening yang dikendalikan jaringan penipu.
Kasus ini memperlihatkan ancaman baru dalam kejahatan keuangan digital. Teknologi yang mampu meniru identitas seseorang membuat suara pimpinan, percakapan video, hingga komunikasi dari pengacara tidak lagi dapat diterima begitu saja sebagai bukti keaslian sebuah instruksi.
Berawal dari Email Rahasia Mengatasnamakan CEOBerdasarkan dokumen dakwaan federal, sindikat tersebut biasanya memulai aksinya dengan mengidentifikasi pegawai bagian akuntansi atau keuangan yang memiliki kewenangan menyetujui transfer dana bernilai besar.
Setelah menentukan sasaran, pelaku mengirimkan email yang seolah-olah berasal dari direktur utama perusahaan. Pesan tersebut menyebut adanya transaksi keuangan penting yang bersifat rahasia dan membutuhkan bantuan langsung dari pegawai penerima.
Menariknya, email penipuan itu tidak selalu dikirim melalui saluran komunikasi biasa. Dokumen pengadilan menyebut para pelaku memanfaatkan layanan tanda tangan elektronik, termasuk platform seperti DocuSign, untuk membuat permintaan terlihat sebagai bagian dari prosedur bisnis yang sah.
Pegawai kemudian diminta menandatangani perjanjian kerahasiaan atau non-disclosure agreement (NDA). Permintaan ini memperkuat kesan bahwa transaksi yang sedang dibahas merupakan urusan sensitif perusahaan, seperti akuisisi atau pembelian saham.
Setelah itu, pegawai diarahkan untuk menghubungi seseorang yang mengaku sebagai pengacara dari firma hukum internasional. Nama dan identitas pengacara yang digunakan merupakan identitas profesional sungguhan, tetapi komunikasi dilakukan oleh anggota sindikat.
Menurut jaksa, sindikat tersebut sering menggunakan identitas pengacara dari kantor-kantor firma hukum besar yang beroperasi di Eropa. Mereka memanfaatkan reputasi firma hukum tersebut untuk membuat instruksi keuangan tampak resmi.
Rangkaian komunikasi ini menempatkan pegawai dalam situasi yang terlihat masuk akal. Seorang CEO meminta bantuan, dokumen kerahasiaan telah disiapkan, dan pengacara dari firma hukum terkenal seolah-olah mengawasi transaksi.
Padahal, menurut dakwaan, seluruh transaksi yang dikemukakan pelaku merupakan rekayasa.
Suara dan Wajah Bos Dipalsukan dengan AIBagian paling menentukan dari modus tersebut terjadi ketika pelaku menghubungi pegawai melalui panggilan suara atau video. Dalam percakapan itu, sindikat diduga menggunakan AI untuk menirukan suara dan, dalam sejumlah kasus, gambar pimpinan perusahaan.
Teknologi tersebut membuat pegawai mendengar suara yang menyerupai atasannya sendiri. Pada komunikasi video tertentu, pelaku juga diduga menampilkan representasi visual yang menyerupai sosok direktur utama.
Penyidik menilai peniruan identitas ini menjadi bagian penting untuk mengurangi kecurigaan pegawai. Instruksi transfer uang yang sebelumnya diterima melalui email tampak mendapatkan konfirmasi langsung dari pimpinan perusahaan.
Namun, komunikasi tersebut sebenarnya dilakukan oleh para terdakwa atau anggota jaringan mereka. Pegawai tidak sedang berbicara dengan CEO maupun pengacara yang identitasnya digunakan dalam percakapan.
Setelah pegawai mempercayai suara dan gambar tersebut, sosok yang menyamar sebagai CEO mengarahkannya untuk berkomunikasi lebih lanjut dengan pengacara. Penipu yang menyamar sebagai pengacara kemudian memberikan petunjuk transfer dana.
Menurut dakwaan, uang diarahkan ke rekening bank tertentu yang diklaim berkaitan dengan transaksi perusahaan. Kenyataannya, rekening tersebut berada di bawah kendali anggota sindikat.
Dengan cara ini, pelaku menggabungkan manipulasi psikologis, pemalsuan identitas, dan kecanggihan teknologi AI. Mereka mengeksploitasi hubungan hierarkis perusahaan, ketika pegawai cenderung memberikan perhatian besar terhadap instruksi langsung dari pimpinan tertinggi.




