JAKARTA -- Persaingan pengembangan rudal balistik jarak pendek antara Turki, Rusia, dan Amerika Serikat memasuki babak baru. Turki resmi menerima tambahan rudal Tayfun Block-2 pada November 2026, sementara Amerika mempercepat produksi Precision Strike Missile (PrSM) dan Rusia terus mengandalkan Iskander-M sebagai salah satu senjata utama dalam perang melawan Ukraina.
- 12 Anak Serigala Dibunuh di AS, Pemburunya Justru Mendapat Bayaran Hingga Rp400 Juta
- Bukan Suara Bos Sungguhan, Taktik Deepfake AI Ini Kuras Duit Perusahaan Rp2 T
- Mertua Pangeran Harry Ditangkap FBI, Terancam 20 Tahun Penjara
Perkembangan terbaru datang dari Ankara pada Kamis (5/11/2026). Kementerian Pertahanan Nasional Turki mengumumkan bahwa Angkatan Darat telah menyelesaikan proses pemeriksaan dan penerimaan sejumlah rudal balistik Tayfun Block-2 produksi perusahaan pertahanan Roketsan.
Pengumuman tersebut menegaskan bahwa Tayfun telah bergerak melampaui tahap pengujian menuju pengadaan militer. Turki sebelumnya menerima rudal dari keluarga yang sama untuk pertama kalinya pada Mei 2026, kemudian melanjutkan penerimaan sejumlah unit tambahan dalam beberapa bulan berikutnya.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Amerika Serikat juga memperkuat persenjataan rudal taktisnya. Pada 21 September 2026, Angkatan Darat AS memberikan kontrak bernilai hingga 1,2 miliar dolar AS kepada Lockheed Martin untuk memproduksi PrSM Increment 2, varian baru yang dikembangkan agar mampu menyerang sasaran bergerak di darat maupun laut.
Tidak berhenti di situ, Pentagon pada 29 September mengumumkan pemilihan lima perusahaan untuk mengembangkan PrSM Increment 4. Generasi berikutnya tersebut ditargetkan memiliki jangkauan sedikitnya 1.000 kilometer, hampir dua kali lipat jangkauan publik yang umum dikaitkan dengan rudal Iskander-M Rusia.
Sementara itu, Rusia terus mempertahankan produksi Iskander-M untuk mendukung operasi militernya. Berdasarkan informasi intelijen Ukraina yang dipublikasikan pada 5 November, industri pertahanan Rusia diperkirakan mampu menghasilkan sekitar 65 rudal Iskander-M per bulan, meskipun angka tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Ketiga rudal tersebut memperlihatkan pendekatan berbeda dalam pengembangan persenjataan modern. Turki menonjolkan kemandirian industri dan kemampuan serangan presisi, Rusia mengandalkan pengalaman penggunaan tempur serta pilihan hulu ledak, sedangkan Amerika memperkuat integrasi rudal dengan peluncur bergerak dan sistem pengintaian modern.
Lantas, apabila dibandingkan dari jangkauan, akurasi, kekuatan hulu ledak, kemampuan menghindari pertahanan udara, serta pengalaman penggunaan tempur, mana di antara Tayfun, Iskander-M, dan PrSM yang mempunyai keunggulan?
Tayfun Memperkuat Angkatan DaratTayfun merupakan rudal balistik permukaan-ke-permukaan yang dikembangkan Roketsan untuk memperkuat kemampuan serangan jarak jauh militer Turki. Sistem ini dirancang menghantam sasaran penting, termasuk pusat komando, fasilitas pertahanan udara, hanggar pesawat, dan infrastruktur militer.
Menurut spesifikasi resmi Roketsan, Tayfun memiliki panjang 6,5 meter, diameter 610 milimeter, dan berat peluncuran sekitar 2.300 kilogram. Rudal tersebut menggunakan sistem pemandu Go-Onto-Location In-Space (GOLIS) dengan hulu ledak fragmentasi yang dirancang menghasilkan efek terhadap sasaran tertentu.
Roketsan mencantumkan jangkauan lebih dari 280 kilometer dalam katalog publiknya. Namun, angka tersebut merupakan batas jangkauan yang dipublikasikan perusahaan dan tidak harus dipahami sebagai kemampuan maksimum seluruh varian Tayfun.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada November 2022 pernah menyebut kemampuan jangkauan Tayfun mencapai 561 kilometer. Pernyataan itu menunjukkan ambisi Turki mengembangkan rudal balistik yang mampu menyerang sasaran jauh melampaui kemampuan sejumlah roket artileri konvensional.
Media pertahanan Janes kemudian melaporkan bahwa Roketsan melakukan uji tembak Tayfun pada Februari 2025 di kawasan Laut Hitam. Analisis zona bahaya pelayaran menunjukkan jarak hingga sekitar 750 kilometer dari lokasi peluncuran, tetapi jarak tersebut tidak dapat diperlakukan sebagai konfirmasi resmi jangkauan rudal yang diuji.
Karena itu, kemampuan Tayfun perlu dibedakan antara spesifikasi katalog, keterangan pejabat pemerintah, dan perkiraan dari analisis pengujian. Hingga November 2026, Roketsan belum memublikasikan secara lengkap jangkauan maksimum operasional Tayfun Block-2 yang baru diterima Angkatan Darat Turki.
Dari sisi akurasi, Roketsan mengumumkan nilai circular error probable (CEP) sekitar 10 meter atau lebih kecil. CEP merupakan ukuran statistik yang menunjukkan radius tempat sekitar separuh hasil tembakan diperkirakan jatuh apabila kondisi pengujian memenuhi asumsi yang digunakan.
Angka tersebut menggambarkan tingkat presisi yang diklaim pabrikan. Namun, belum tersedia data pengujian independen yang cukup untuk menyatakan bahwa Tayfun selalu mencapai tingkat ketepatan tersebut dalam berbagai kondisi perang.
Roketsan juga menyebut Tayfun memiliki ketahanan terhadap gangguan peperangan elektronik dan pengacauan sistem navigasi satelit. Kemampuan tersebut penting karena sistem penentuan posisi dan komunikasi dapat menjadi sasaran gangguan dalam konflik militer modern.
Salah satu kelebihan Tayfun berada pada penggunaan peluncur bergerak berbasis kendaraan. Sistem ini memungkinkan rudal dipindahkan dan ditempatkan kembali, sehingga memberikan fleksibilitas bagi pasukan darat untuk mengoperasikan persenjataan jarak jauh.
Perkembangan industri pertahanan Turki juga terlihat dari kemunculan Tayfun Block-4. Roketsan memperkenalkan rudal yang jauh lebih besar tersebut dalam pameran IDEF 2025 dengan panjang sekitar 10 meter dan bobot 7,2 ton.
Namun, Block-4 merupakan pengembangan yang berbeda dari Block-2 yang diterima militer pada November 2026. Tidak tersedia dasar untuk menyatakan kemampuan Block-4 telah menjadi bagian dari inventaris operasional Angkatan Darat Turki hanya karena modelnya sudah diperkenalkan kepada publik.
Iskander-M Teruji dalam PerangBerbeda dari Tayfun yang relatif baru memasuki inventaris, Iskander-M merupakan sistem rudal balistik taktis Rusia yang telah beroperasi sejak 2006. Senjata tersebut dikembangkan untuk menyerang sasaran bernilai tinggi, termasuk pusat komando, fasilitas militer, pertahanan udara, dan infrastruktur pendukung operasi pasukan.
Menurut Missile Threat Project dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), Iskander-M menggunakan rudal balistik 9M723 dengan jangkauan publik sekitar 400 hingga 500 kilometer. Rudal ini memiliki panjang sekitar 7,3 meter dan membawa hulu ledak dengan berat antara 480 hingga 700 kilogram, bergantung pada konfigurasi.
Kemampuan membawa hulu ledak yang relatif besar menjadi salah satu karakteristik Iskander-M. Sistem ini dapat menggunakan beberapa jenis hulu ledak konvensional, termasuk peledak tinggi, submunisi, dan penghancur sasaran tertentu.
Kajian Royal United Services Institute (RUSI) juga menyebut Iskander-M sebagai bagian dari kemampuan senjata nuklir nonstrategis Rusia. Peran tersebut membedakannya dari Tayfun dan PrSM, yang berdasarkan informasi publik dikembangkan sebagai sistem serangan konvensional.
Dari sisi lintasan, Iskander-M dirancang menggunakan penerbangan kuasi-balistik, yakni lintasan yang tidak sepenuhnya mengikuti pola balistik sederhana. Rudal dapat melakukan manuver tertentu selama penerbangan untuk mempersulit perkiraan jalur oleh sistem pertahanan lawan.
Menurut CSIS, sistem peluncur Iskander-M menggunakan kendaraan bergerak yang mampu membawa dua rudal. Peluncur tersebut didukung kendaraan pengangkut, pengisi ulang, serta unsur komando dan komunikasi.
Iskander-M juga mempunyai sistem navigasi dan pemandu yang dapat menggunakan informasi inersial, satelit, serta pencocokan citra pada konfigurasi tertentu. Namun, nilai akurasi yang dilaporkan berbagai sumber berbeda menurut varian dan sistem pemandu yang digunakan.
Keunggulan penting Iskander-M terletak pada riwayat penggunaan operasionalnya. Rusia telah menggunakannya dalam perang melawan Ukraina, sehingga terdapat lebih banyak bukti mengenai penggunaan sistem ini dalam kondisi pertempuran dibandingkan Tayfun.
Pengalaman tempur memberikan data mengenai pengoperasian peluncur, kesinambungan pasokan, kerentanan terhadap serangan lawan, dan efektivitas pertahanan udara. Namun, penggunaan dalam perang tidak otomatis membuktikan semua tembakan Iskander-M berhasil mengenai sasaran.
Kementerian Pertahanan Ukraina pada 4 November 2026 melaporkan bahwa pasukannya mencegat 11 rudal balistik yang dikelompokkan sebagai Iskander-M atau KN-23 selama Oktober. Karena laporan tersebut menggabungkan dua jenis rudal, angka 11 tidak dapat dianggap sebagai jumlah Iskander-M yang secara khusus berhasil ditembak jatuh.
Perkembangan lain diumumkan intelijen militer Ukraina pada awal November. Lembaga tersebut memperkirakan Rusia memiliki sekitar 115 rudal 9M723 Iskander-M dalam persediaan pada Oktober 2026 dan mampu memproduksi sekitar 65 unit per bulan.
Intelijen Ukraina juga menyebut Rusia sedang mengembangkan peningkatan kemampuan Iskander dengan sasaran jangkauan 550 hingga 700 kilometer. Namun, angka itu masih merupakan perkiraan kemampuan sistem yang dikembangkan, bukan bukti bahwa seluruh rudal Iskander-M yang digunakan Rusia saat ini sudah mencapai jangkauan tersebut.
Data produksi dan persediaan itu berasal dari pihak Ukraina yang sedang berperang melawan Rusia. Karena belum tersedia verifikasi independen menyeluruh, angka tersebut perlu diperlakukan sebagai estimasi intelijen, bukan catatan produksi resmi Rusia yang telah diaudit.




