Oleh: Dr. Ir. Sitti Sabariyah D., M.Si.
Dosen Universitas Alkhairaat (UNISA)
Pemulihan ekonomi masyarakat pascabencana tidak cukup hanya dengan membangun kembali rumah, memperbaiki infrastruktur, atau menyalurkan bantuan kebutuhan dasar.
Ada hal yang jauh lebih penting untuk dipikirkan, yakni bagaimana masyarakat dapat kembali produktif dan memiliki sumber penghidupan yang berkelanjutan. Pemulihan seharusnya tidak sekadar mengembalikan kondisi seperti sebelum bencana, tetapi juga membuka peluang untuk membangun kehidupan ekonomi yang lebih baik.
Desa Sibalaya Barat, Kecamatan Tanambulava, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, memberikan gambaran bahwa peluang tersebut sebenarnya tersedia di sekitar masyarakat. Jagung dan kelapa yang melimpah merupakan potensi lokal yang dapat dikembangkan menjadi sumber ekonomi bernilai tambah.
Sayangnya, selama ini kedua komoditas tersebut belum sepenuhnya diolah secara optimal. Hasil pertanian lebih banyak dijual dalam bentuk sederhana, sementara bagian tanaman yang tersisa setelah panen justru kerap dianggap sebagai limbah.
Padahal, dalam perspektif ekonomi hijau (green economy), tidak ada sumber daya yang seharusnya terbuang percuma selama masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan. Batang, daun, dan tongkol jagung, misalnya, dapat diolah menjadi pupuk organik.
Begitu pula sabut dan daun kelapa yang dapat dikembangkan menjadi berbagai produk rumah tangga dan kerajinan. Persoalannya bukan semata-mata ketersediaan bahan baku, melainkan kemampuan masyarakat dalam mengolahnya menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.
Kondisi inilah yang menjadi dasar pelaksanaan Program Kolaborasi Sosial Membangun Masyarakat (Kosabangsa) 2026 yang didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kemendiktisaintek.
Melalui program bertajuk Pemulihan Ekonomi Masyarakat Pascagempa Berbasis Green Economy melalui Inovasi Pengolahan Produk Kelapa dan Jagung di Desa Sibalaya, teknologi tepat guna diperkenalkan sebagai salah satu jalan untuk memperkuat ekonomi masyarakat.
Program ini melibatkan Kelompok Tani Maliuntinuvu dan kelompok PKK Usaha Singgani. Masing-masing kelompok beranggotakan 15 orang sehingga terdapat 30 penerima manfaat langsung.
Keterlibatan kelompok tani dan perempuan menjadi penting karena pemulihan ekonomi desa membutuhkan partisipasi seluruh elemen masyarakat, bukan hanya kelompok yang selama ini dominan dalam kegiatan produksi pertanian.
Salah satu persoalan yang dihadapi petani adalah keterbatasan alat pemipil jagung. Sebelum program berjalan, proses pemipilan secara manual membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga minggu.
Waktu yang panjang tentu berdampak pada efisiensi kerja dan kemampuan petani mengelola hasil panen. Melalui bantuan mesin pemipil jagung, proses tersebut mulai menjadi lebih mudah. Mesin yang telah dimanfaatkan untuk memipil 200 kilogram jagung itu menghasilkan nilai jasa sebesar Rp800 ribu.
Angka tersebut mungkin belum besar jika dibandingkan dengan skala usaha pertanian secara luas. Namun, capaian ini menunjukkan perubahan penting: masyarakat mulai memiliki sarana produksi sendiri dan berpeluang mengembangkan layanan pemipilan sebagai aktivitas ekonomi kelompok. Ketergantungan terhadap jasa pihak lain dapat dikurangi, sementara peluang pendapatan baru mulai terbuka.
Hal yang tidak kalah menarik adalah pemanfaatan limbah jagung. Batang, daun, dan tongkol yang sebelumnya dibakar atau dibuang mulai diolah menjadi pupuk organik melalui kombinasi limbah tanaman, kotoran hewan, dan starter mikroorganisme.
Dari proses tersebut, kelompok berhasil menghasilkan sekitar 300 kilogram pupuk organik atau setara dengan 10 karung.
Inilah salah satu esensi ekonomi sirkular. Sisa produksi tidak berhenti sebagai limbah, tetapi kembali masuk ke dalam siklus pemanfaatan sumber daya.
Selain berpotensi mengurangi pembakaran limbah pertanian, pupuk organik juga dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan budidaya. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya memperoleh manfaat ekonomi, tetapi juga mulai membangun pola produksi yang lebih ramah lingkungan.
Potensi serupa terlihat pada pengolahan kelapa oleh kelompok PKK Usaha Singgani. Selama ini, proses pembuatan minyak kelapa secara tradisional membutuhkan waktu sekitar 20–24 jam.
Setelah diperkenalkan teknologi pengolahan, waktu produksi dapat dipangkas menjadi sekitar 6–7 jam. Dari penerapan teknologi tersebut, kelompok telah menghasilkan 30 botol minyak kelapa dengan nilai penjualan mencapai Rp900 ribu.
Percepatan produksi menjadi hal penting bagi usaha skala rumah tangga. Waktu yang sebelumnya banyak tersita untuk satu kali proses produksi dapat dialihkan untuk kegiatan lain. Produktivitas meningkat dan peluang pengembangan usaha menjadi lebih terbuka.
Apalagi, sabut kelapa yang diperkirakan mencapai 20 ton per bulan di desa tersebut juga mulai diarahkan menjadi produk seperti sapu lantai dan kerajinan. Daun kelapa pun dapat dimanfaatkan melalui dukungan teknologi penyerut lidi.
Namun, keberhasilan inovasi desa tidak boleh hanya diukur dari jumlah mesin yang diserahkan atau produk yang berhasil dibuat. Teknologi hanya akan memberikan dampak jangka panjang apabila masyarakat mampu mengoperasikan, merawat, dan mengembangkannya secara mandiri. Karena itu, transfer pengetahuan dan keterampilan harus berjalan seiring dengan pemberian peralatan.
Dalam pelaksanaan Kosabangsa 2026, kegiatan diawali dengan sosialisasi dan pembukaan pada 5 Oktober 2026, dilanjutkan demonstrasi, pelatihan teknis, serta penyerahan peralatan pada 6 Oktober.
Pelatihan berikutnya dilaksanakan pada 16 Oktober 2026. Rangkaian tersebut dirancang agar masyarakat tidak sekadar menjadi penerima bantuan, tetapi juga menjadi pelaku utama dalam pengembangan inovasi di desanya.
Aspek lain yang tidak kalah menentukan adalah pemasaran. Produk yang berkualitas tidak akan memberikan dampak ekonomi optimal apabila tidak memiliki akses pasar.
Karena itu, kerja sama pemasaran dengan CV SoloWesi Smart Abadi (SSA) menjadi salah satu langkah untuk memperkuat keberlanjutan usaha kelompok mitra.
Selanjutnya, pelatihan perizinan Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) juga menjadi tahapan penting agar produk memiliki kesiapan lebih baik untuk dipasarkan secara luas.
Dari pengalaman ini, kita dapat melihat bahwa pemulihan ekonomi pascabencana membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh.
Bantuan modal dan peralatan memang diperlukan, tetapi harus disertai peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penguatan kelembagaan kelompok, inovasi produk, serta akses pemasaran. Tanpa dukungan tersebut, berbagai program pemberdayaan berisiko berhenti ketika pendampingan selesai.
Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam proses ini. Pengetahuan dan hasil riset tidak seharusnya hanya berhenti di ruang akademik, tetapi perlu diterjemahkan menjadi solusi yang menjawab persoalan masyarakat. Kolaborasi dengan kelompok tani dan kelompok perempuan juga harus dibangun secara setara, dengan memperhatikan kebutuhan serta kemampuan lokal.
Pada akhirnya, Desa Sibalaya Barat mengajarkan bahwa kekuatan pemulihan ekonomi sesungguhnya dapat tumbuh dari potensi yang telah dimiliki masyarakat. Jagung bukan hanya komoditas pangan, kelapa bukan sekadar hasil perkebunan, dan limbah bukan sesuatu yang harus selalu dibuang.
Semuanya dapat menjadi sumber nilai ekonomi apabila dikelola dengan pengetahuan, teknologi, dan kemauan untuk berinovasi.
Dari limbah menjadi berkah bukan sekadar slogan. Ia merupakan cara pandang baru dalam membangun ekonomi desa: memanfaatkan sumber daya secara bijak, menciptakan nilai tambah, dan memastikan manfaatnya kembali kepada masyarakat.
Sebab, desa yang mandiri bukanlah desa yang tidak memiliki keterbatasan, melainkan desa yang mampu mengubah keterbatasan menjadi peluang.(*)





