Perubahan teknologi dan perilaku audiens menuntut industri penyiaran terus beradaptasi agar tetap relevan. Menghadapi tantangan tersebut, Suara Surabaya Media mengembangkan ekosistem media terintegrasi tanpa meninggalkan identitasnya sebagai radio berita yang interaktif dan solutif.
Strategi tersebut disampaikan Hendra Lukas P Hutagalung, penyiar sekaligus Board of Editors Suara Surabaya Media, dalam Forum Diskusi Radio (FDR) Summit XIX di Excotel Design Hotel Surabaya, Sabtu (7/11/2026).
Hendra mengatakan, masyarakat kini memiliki semakin banyak pilihan untuk mendapatkan informasi. Selain media konvensional, audiens juga memanfaatkan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dan berbagai platform media sosial.
“Sehingga ini mebentuk pola konsumsi informasi di masyarakat menjadi semakin beragam. Oleh karena itu, media dituntut untuk mampu hadir di berbagai titik kehidupan audiens,” katanya Hendra pada Sabtu (7/11/2026).
Beragam perubahan itu, lanjut Hendra, tidak membuat Suara Surabaya Media kehilangan identitas utama sebagai radio berita yang interaktif dan solutif.
Suara Surabaya Media justru didukung oleh penerapan jurnalisme warga (citizen journalism) yang telah dipelajari dari waktu ke waktu bersama pendiri.
Menurut Hendra, pendekatan solutif menjadi kunci penting dalam menjembatani kebutuhan masyarakat.
“Suara Surabaya berupaya menghadirkan solusi atas berbagai persoalan di masyarakat. Mulai dari masalah fasilitas umum seperti jalan rusak, gangguan infrastruktur publik, hingga aduan harian pendengar. Sebagai bagian dari adaptasi, kami membangun ekosistem media yang terintegrasi melalui konsep riding the wave, yang dapat dinikmati masyarakat melalui beberapa pilihan di antaranya, siaran radio konvensional, visual radio, website suarasurabaya.net, aplikasi mobile, hingga konten on-demand,” jelasnya.
Selain itu, penguatan kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi perhatian utama untuk menjembatani kesenjangan antargenerasi.
Suara Surabaya Media, lanjut Hendra, membuka ruang kolaborasi melalui program magang serta membekali SDM dengan kompetensi modern, mulai dari keterampilan di depan kamera, kemampuan manajerial, kepemimpinan, hingga pemahaman tren fashion, dan gaya hidup.
“Di tengah derasnya arus digitalisasi, bagi kami radio masih jadi penggerak utama. Hubungan erat dengan pendengar juga menjadi pondasi dalam menghasilkan percakapan dan konten berkelanjutan yang bermanfaat bagi masyarakat,” tuturnya. (kir/fia/saf)




