TEL AVIV— Jurnalis Israel Nehemia Strassler mengawali artikelnya dengan menggambarkan keterkejutan dan kekecewaan mendalam yang menyelimuti malam pemilihan umum Israel terakhir.
Artikel tersebut terbit bertepatan dengan pengumuman pengunduran dirinya setelah 44 tahun berkarier di surat kabar Haaretz, yang dikutip Aljazeera, Sabtu (7/11/2026).
Baca Juga
5 Cara yang Ditempuh Orang-Orang Munafik untuk Membenci dan Memusuhi Sesama Muslim
Inilah Alasan Mengapa Rasulullah SAW Sangat Berwasiat: Lakukan Semaumu Jika Putus Urat Malumu!
Masih Ingat Wasiat Rasulullah SAW Melihat Orang yang Hidup di Bawah Kita? Ternyata Ini Rahasianya
Ketika hasil jajak pendapat awal diumumkan pada pukul 22.00, Strassler dihadapkan pada kenyataan pahit.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu ternyata berhasil meraih kursi parlemen lebih banyak dibandingkan Gadi Eisenkot, pemimpin blok oposisi yang mengusung perubahan.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Strassler mengaku sangat heran dengan kemenangan tersebut. Menurutnya, Netanyahu seharusnya tidak memperoleh satu kursi pun dalam pemilu itu dan semestinya pulang dengan tangan kosong. Sebab, ia menilai, Netanyahu telah menimbulkan kerusakan yang sangat besar bagi Israel.
Penulis secara langsung dan sepenuhnya membebankan tanggung jawab kepada Netanyahu atas pendanaan gerakan perlawanan Islam Hamas dan tragedi pembantaian pada 7 Oktober.
Ia juga menyalahkan Netanyahu karena telah menyeret Israel ke dalam rangkaian perang yang berkepanjangan, sepenuhnya menelantarkan para sandera, serta gagal total menetralkan ancaman nuklir Iran.
Semua itu, menurutnya, pada akhirnya telah mengubah Israel menjadi negara yang terkucil di panggung internasional.
Strassler menjelaskan bahwa keunggulan Netanyahu dalam pemilu terjadi karena blok perubahan tidak mampu menarik pemilih Partai Likud.