Jakarta, CNBC Indonesia - Membangun brand fashion sendiri tidak selalu harus dimulai dengan mencari penjahit, membeli bahan, hingga memproduksi pakaian dari nol. Di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, calon pengusaha bisa memulai bisnis dengan cara yang lebih sederhana, yakni mengambil produk jadi dari supplier lalu menjualnya kembali menggunakan merek sendiri.
Cara ini terlihat dari sejumlah lapak pakaian di Pusat Grosir Metro Tanah Abang (PGMTA). Beberapa supplier menawarkan pakaian yang belum memiliki merek sehingga pembeli bisa memasang label sesuai identitas bisnis yang ingin dibangun.
Calon pengusaha yang kebanyakan anak muda tinggal memilih model pakaian, menyiapkan label, lalu memasarkannya kembali. Ini juga yang membuat pedagang pakaian tanpa merek diserbu anak muda RI. Mereka membeli sejumlah potong pakaian dan nantinya akan diberi merek sendiri. Ini yang dinamakan bisnis clothing brand.
Salah satu penjaga toko, Rina menjelaskan, pembeli cukup memilih model pakaian yang tersedia. Produk kemudian dapat diberi label milik pembeli sebelum dipasarkan kembali.
"Jadi begini, white label itu produk yang sebenarnya sudah siap dijual dan diproduksi oleh kami supplier, tapi produknya masih polos atau belum dikasih merek. Jadi, kakak sebagai pembeli bisa pasang labelnya sendiri, terus buat packaging sendiri. Setelah itu, produknya bisa dijual lagi pakai nama brand kakak-nya," ujar Rina saat ditemui di lokasi, Minggu (8/11/2026).
Dengan skema tersebut, calon pemilik brand tidak perlu memikirkan proses produksi. Mereka bisa lebih dulu fokus menentukan konsep merek, memilih model pakaian, menyiapkan label dan kemasan, hingga mencari pasar.
Pilihan produknya pun cukup beragam, mulai dari atasan, kemeja, outer, hingga celana. Di salah satu lapak misalnya, kemeja ditawarkan dengan harga sekitar Rp87.000 hingga Rp115.000 per potong. Pembelian juga bisa dilakukan secara semi-grosir sehingga tidak harus langsung mengambil stok dalam jumlah besar.
Sementara itu, salah satu supplier di PGMTA menawarkan skema harga bertingkat berdasarkan jumlah pembelian. Untuk pembelian 4-12 potong, harga yang berlaku merupakan harga normal. Jika mengambil 13-60 potong, pembeli bisa mendapat potongan Rp7.000 per potong. Adapun pembelian 61 potong atau lebih memperoleh potongan Rp12.000 per potong.
Adapun urusan pemasangan label juga bisa dibantu oleh supplier. Namun, ada ketentuan jumlah pembelian yang menentukan biaya pemasangannya. Untuk pembelian di bawah 120 potong, pembeli dikenakan biaya tambahan Rp2.000 per potong.
"Kalau misal di bawah 120 pasti kena biaya Rp2.000 per potong," ujar Veni, salah satu penjaga toko.
Sementara itu, pemasangan label tidak dikenakan biaya jika jumlah pembelian sudah lebih dari 120 potong.
"Iya, di atas 120 potong di kita free, gratis dipasangi label merek kakak-nya," kata dia.
Veni mengatakan, pembelian sekitar empat seri atau 16 potong pakaian dari tokonya membutuhkan modal sekitar Rp1,5 juta. Dengan begitu, calon pengusaha bisa menyesuaikan jumlah stok dengan kemampuan modal dan kebutuhan bisnis.
Skema ini juga memberi ruang bagi pelaku usaha untuk mencoba pasar lebih dulu sebelum memperbesar jumlah stok. Setelah mengetahui model yang diminati konsumen, pembelian dapat ditingkatkan sesuai permintaan.
Dengan begitu, membangun brand fashion tidak harus langsung dimulai dengan investasi besar untuk fasilitas produksi. Tanah Abang menawarkan alternatif bagi calon pengusaha yang ingin punya merek sendiri, tetapi belum siap mengelola proses pembuatan pakaian dari awal.
(wur)




