JAKARTA, DISWAY.ID - Pelestarian lingkungan pesisir menjadi salah satu langkah penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus mendukung kehidupan masyarakat yang bergantung pada sumber daya laut. Salah satu ekosistem yang memiliki peran besar dalam menjaga kawasan pesisir adalah hutan mangrove.
Keberadaan mangrove tidak hanya berfungsi sebagai kawasan hijau di wilayah peralihan antara daratan dan lautan. Vegetasi ini juga menjadi pelindung alami pantai dari energi gelombang, membantu menahan sedimentasi, serta menyediakan habitat bagi beragam jenis biota laut.
Di Bali, keberadaan ekosistem pesisir mempunyai hubungan erat dengan kehidupan masyarakat. Selain mendukung aktivitas perikanan, kawasan pantai dan lingkungan sekitarnya juga menjadi bagian penting dari sektor pariwisata.
Menyadari pentingnya menjaga keseimbangan tersebut, PT Triputra Agro Persada Tbk (TAP) menggelar kegiatan penanaman mangrove di kawasan Tanjung Benoa, Kabupaten Badung, Bali, pada 4–5 November 2026.
Kegiatan yang dilaksanakan melalui inisiatif TAP Untuk Negeri Sustainability Action ini melibatkan jajaran manajemen dan karyawan perusahaan. Penanaman bibit mangrove tersebut menjadi salah satu bentuk keterlibatan langsung TAP dalam mendukung pelestarian lingkungan dan rehabilitasi ekosistem pesisir.
Bagi perusahaan, mangrove bukan sekadar tanaman yang tumbuh di kawasan pantai. Keberadaannya mempunyai fungsi ekologis yang penting, mulai dari membantu mengurangi dampak gelombang, menjaga kestabilan sedimen, hingga menjadi tempat berkembangnya berbagai organisme.
Dalam jangka panjang, kelestarian hutan mangrove juga berkontribusi terhadap keberlangsungan ekosistem yang menopang kehidupan masyarakat di wilayah pesisir.
Vice President Director TAP, Budiarto Abadi, mengatakan bahwa menjaga lingkungan merupakan bentuk investasi jangka panjang. Manfaatnya mungkin tidak langsung dirasakan saat ini, tetapi diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat, alam, dan Indonesia pada masa mendatang.
Budiarto mengungkapkan, pihaknya memperoleh informasi bahwa pada 2019 banyak tanaman mangrove di kawasan tersebut mengalami kematian akibat permasalahan lingkungan.
Padahal, menurutnya, manfaat mangrove tidak terbatas pada fungsi perlindungan kawasan pesisir. Tanaman ini juga berpotensi diolah menjadi berbagai produk makanan dan minuman yang memiliki nilai guna bagi masyarakat.
"Kami mendapat informasi bahwa pada 2019 banyak tanaman mangrove di kawasan ini yang mati akibat permasalahan lingkungan. Padahal selain manfaat yang selama ini umum kita ketahui, mangrove ini bisa diolah menjadi berbagai bahan makanan dan minuman. Wawasan mengenai hal ini, perlu disebarkan lebih luas ke generasi muda. Karena itu, kami ingin ikut terlibat langsung dalam upaya rehabilitasinya," ujar Budiarto.
Ia menegaskan bahwa pelestarian lingkungan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Tidak hanya pemerintah dan masyarakat, dunia usaha serta karyawan juga mempunyai kesempatan untuk mengambil bagian dalam menjaga keberlanjutan alam.
"Sustainability is a movement, bahwa menjaga lingkungan membutuhkan kontribusi banyak pihak, termasuk dunia usaha, karyawan dan masyarakat. Harapannya, mangrove yang ditanam dapat tumbuh dengan baik dan memberikan manfaat bagi lingkungan, masyarakat sekitar, serta Indonesia di masa depan," lanjutnya.
Selain menjadi aksi nyata pelestarian lingkungan, kegiatan tersebut juga memberikan kesempatan kepada karyawan untuk mengenal lebih dekat fungsi dan proses pemulihan ekosistem mangrove.
Keterlibatan langsung di kawasan pesisir diharapkan dapat menumbuhkan pemahaman bahwa menjaga lingkungan tidak selalu harus dimulai melalui program berskala besar. Langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi bagian dari perubahan yang lebih luas.
- 1
- 2
- »





