AS, Rusia, China Berlomba Bangun Reaktor Nuklir di Bulan, untuk Apa?

cnbcindonesia.com
6 jam lalu
Cover Berita
Foto: Sebuah pesawat terbang melintas di depan bulan, dengan cahaya merah yang disebabkan oleh partikel asap yang terbawa di atmosfer atas dari kebakaran hutan Amerika Utara, sehari sebelum bulan purnama super, seperti yang terlihat dari Parliament Hill di London, Inggris, 18 Agustus 2024. (REUTERS/Toby Melville)

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS), Rusia, dan China kini tengah berlomba untuk membangun reaktor nuklir di bulan. Ketiga negara adidaya tersebut berambisi menaklukkan luar angkasa meski para ilmuwan telah memperingatkan tingginya risiko kecelakaan radioaktif.

Mengutip Al Jazeera, Minggu (8/11/2026), badan antariksa AS (NASA) berencana membangun reaktor nuklir di bulan pada akhir tahun 2030. Sementara itu, Rusia dan China menargetkan proyek pangkalan yang dioperasikan nuklir tersebut pada tahun 2036.

Baca: Netanyahu Tamat, Orang Ini Jadi Perdana Menteri Baru Israel

Reaktor itu sangat dibutuhkan untuk menggerakkan alat penambangan air beku yang terperangkap di dalam kawah bulan. Para ilmuwan meyakini es tersebut dapat memasok air minum, udara, dan bahan bakar roket bagi pangkalan masa depan.


Lunar Reactor 1 milik NASA dirancang seberat kurang dari 6.000 kg untuk menghasilkan listrik mandiri sebesar 20 kilowatt. Di sisi lain, reaktor Selena milik Rusia diproyeksikan jauh lebih ringan di kisaran 1.100 hingga 1.300 kg demi pendaratan yang lebih mulus.

AS sejatinya telah menghabiskan dana fantastis sebesar US$ 20 miliar (Rp 360 triliun) untuk program nuklir luar angkasa selama 70 tahun terakhir. Sayangnya, mereka belum pernah berhasil meluncurkan reaktor ke luar angkasa sejak kegagalan eksperimen singkat selama 43 hari pada 1965 silam.

Langkah pemanfaatan nuklir ini sebelumnya hanya pernah sukses dilakukan oleh Uni Soviet pada akhir 1960-an hingga 1980-an. Mereka meluncurkan lebih dari 30 reaktor fisi nuklir berbobot ringan ke orbit bumi untuk menggerakkan satelit mata-mata selama era Perang Dingin.

Tenaga nuklir kembali dilirik secara serius lantaran panel surya dinilai tidak akan efisien dan terbatas di bulan. Direktur Nuclear Futures Institute Bangor University Simon Middleburgh menilai tenaga nuklir merupakan pilihan yang paling logis saat ini.

"Pilihan yang jelas, (namun) harus digunakan secara bertanggung jawab," tuturnya.

"Tantangan terbesarnya bukanlah teknologi nuklir sama sekali, melainkan regulasi peluncuran, ketersediaan platform peluncuran itu sendiri, serta pendaratan dan penyiapan sistem," pungkas Middleburgh.

Persaingan geopolitik ini memanas usai Presiden AS Donald Trump resmi memerintahkan NASA pada Desember 2025 untuk segera membangun reaktor tersebut. Menteri Transportasi AS Sean Duffy pada Agustus lalu juga secara terang-terangan mengakui tingginya tensi persaingan itu.

"Berlomba menuju bulan, dalam perlombaan dengan China," paparnya.

Para analis telah memperingatkan risiko mematikan apabila reaktor yang menyala jatuh kembali ke bumi layaknya insiden satelit Kosmos 954 pada 1978. Meski demikian, Middleburgh meyakini bahwa kontaminasi radioaktif hanya akan bersifat sangat lokal apabila kecelakaan terjadi di bulan.

Secara hukum, Traktat Luar Angkasa 1967 memang melarang negara mana pun untuk mengklaim bulan meski tidak melarang penggunaan nuklir. Ilmuwan Senior Planetary Science Institute Norbert Schorghofer membenarkan adanya hak eksplorasi tersebut bagi negara-negara penandatangan traktat.

Baca: Kejutan! Trump Tawari Bos UFC Jadi Pejabat Penting Gedung Putih

"Memiliki hak untuk menambang permukaan bulan selama itu untuk tujuan damai," ucapnya.

Negara yang reaktornya paling cepat mencapai lokasi es beku dapat secara sepihak mengklaim berdirinya "zona aman". Hal itu dipastikan akan mengunci akses negara lain karena tidak ada satupun pihak yang berani memasuki area radioaktif pihak lawan.


(tps/wur)
Saksikan video di bawah ini:
Video: Lindungi Nasabah Emas, Pemerintah Tetapkan Standardisasi Emas

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Polisi Temukan 3 Jasad di Rumah Pelaku Penembakan di Polandia, Diduga Anggota Keluarganya
• 9 jam laluviva.co.id
thumb
GAC Pilih Indonesia Jadi Negara Pertama di Luar China untuk Pasarkan AION i60, Ini Alasannya
• 20 jam lalutvonenews.com
thumb
Bantai Valencia 3-0, Mbappe Cetak Gol Lagi! Real Madrid Perpanjang Catatan 8 Kemenangan Beruntun
• 13 jam laluharianfajar
thumb
Pimpin Langsung Defile Kontingen Wajo, Andi Rosman Kobarkan Semangat Juang Atlet di Porprov Sulsel XVIII
• 10 jam laluharianfajar
thumb
Pemprov DKI Targetkan PAM JAYA IPO pada 2027, Persiapan Sudah Capai 93 Persen
• 32 menit lalupantau.com
Berhasil disimpan.