Persalinan normal masih kerap menyisakan luka akibat robekan pada jalan lahir. Dampak luka tersebut tak langsung berhenti setelah luka tersebut sembuh. Pada sebagian ibu, cedera itu bisa menimbulkan gangguan kesehatan yang berlangsung dalam jangka panjang.
Robekan pada jalan lahir ini patut menjadi perhatian. Mengutip hasil studi yang dilakukan di lima bidan praktik swasta di Daerah Istimewa Yogyakarta pada 2014-2016, sebanyak 75,3 persen dari 1.595 persalinan vaginal atau persalinan normal yang mengalami robekan perineum.
Dari seluruh kasus itu, sekitar 1,9 persen di antaranya mengalami robekan perineum derajat tiga. Studi berjudul “Robekan Perineum pada Persalinan Vaginal di Bidan Praktek Swasta (BPS) Daerah Istimewa Yogyakarta Indonesia Tahun 2014-2016” tersebut terbit dalam Jurnal Kesehatan Reproduksi Volume 3 Nomor 3 Tahun 2016.
Perineum merupakan jaringan yang berada di antara lubang vagina dan anus. Bagian tersebut memiliki fungsi yang penting untuk menopang organ panggul dan membantu menjaga fungsi saluran kemih serta pencernaan.
Robekan yang terjadi pada bagian tersebut dapat menimbulkan berbagai masalah jangka panjang. Hal itu mulai dari nyeri dan gangguan pemulihan, cedera yang menyebabkan ibu sulit menahan kencing, kesulitan buang air besar, hingga penurunan organ panggul.
Staf pengajar di Divisi Uroginekologi Departemen Obstetri dan Ginekologi, Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada-Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr Sardjito, Yogyakarta, Muhammad Nurhadi Rahman, mengutarakan hal itu, saat dihubungi di Jakarta, pada Minggu (8/11/2026).
Menurut Nurhadi, perhatian terhadap kesehatan ibu jangan hanya berhenti pada keberhasilan melahirkan bayi, melainkan kesehatan dan kualitas hidup ibu pascamelahirkan. Karena itu berbagai upaya mesti dilakukan untuk mencegah komplikasi dan risiko saat persalinan maupun pascapersalinan.
Sejumlah upaya bisa dilakukan sejak masa kehamilan hingga persalinan demi mengurangi risiko robekan perineum. Upaya itu bertujuan membantu menjaga kelenturan jaringan di sekitar perineum serta mempersiapkan otot dasar panggul menghadapi proses persalinan, antara lain melalui penggunaan alat khusus untuk melatih otot dasar panggul selama kehamilan.
Ketertarikan Nurhadi untuk mengembangkan alat persiapan persalinan bermula pada tahun 2016. Saat itu ia berencana meneliti Epi-No, alat persiapan persalinan yang dikembangkan di luar negeri.
Namun rencana pengadaan alat tersebut terkendala karena produsen tidak mendukung skema penggunaan yang diajukan untuk penelitian. Dari pengalaman itu, muncul pemikiran dari Nurhadi untuk mengembangkan alat serupa di dalam negeri.
“ Saya kemudian berpikir, mengapa kita tidak mengembangkan alat sendiri dengan memanfaatkan kemampuan riset dan jejaring industri yang ada di Indonesia?” ujarnya.
Gagasan itu mendapat dukungan dari promotor dan kopromotor dalam studi doktoral yang dilakukan Nurhadi pada 2017. Dalam pengembangan alat itu, Nurhadi juga mendapat dukungan dari industri, yakni PT Swayasa Prakarsa. Kerja sama itu bertujuan agar hasil riset tak berhenti pada purwarupa, melainkan bisa dikembangkan sampai pada tahap hilirisasi.
Mengapa kita tidak mengembangkan alat sendiri dengan memanfaatkan kemampuan riset dan jejaring industri yang ada di Indonesia?
Dalam proses pengembangan, ia turut dibantu apoteker Bondan Ardiningtyas dan tim PT Swayasa Prakarsa. Dari kolaborasi antara peneliti dan industri tersebut, lahir inovasi teknologi untuk melatih dan mengencangkan jaringan perineum yang disebut Divabirth.
Inovsi tersebut merupakan alat dilator vagina buatan Indonesia untuk membantu persiapan persalinan dengan cara melatih otot dasar panggul dan otot perineum. Tujuannya yakni membantu mempersiapkan jaringan tersebut menghadapi peregangan selama proses persalinan normal.
Alat ini terdiri dari balon berbahan silikon yang terhubung dengan pompa tangan, selang, pengukur tekanan, dan katup pelepas udara. Cara kerjanya yakni dengan memasukkan sebagian balon ke dalam vagina, lalu dikembangkan secara perlahan sesuai batas kenyamanan pengguna.
Latihan dengan alat ini juga melatih kontraksi dan relaksasi otot dasar panggul. Dengan bantuan balon, ibu hamil yang menggunakan alat ini diharapkan lebih mudah mengenali kapan otot mengencang maupun mengendur.
“Prinsipnya adalah memberikan peregangan bertahap, bukan memaksa jaringan melebar. Jadi, persiapan dasar panggul tidak hanya berbicara tentang kekuatan otot, tetapi juga kemampuan untuk berelaksasi ketika diperlukan,” ucap Nurhadi.
Sejumlah metode konvensional sebenarnya sudah tersedia untuk membantu mengurangi risiko trauma perineum, seperti pijat perineum, senam kegel, dan latihan otot dasar selama kehamilan.
Pijat perineum dilakukan dengan cara menggunakan jari untuk memberikan tekanan dan peregangan pada jaringan di sekitar bagian bawah lubang vagina. Senam kegel dilakukan dengan berfokus pada latihan mengencangkan dan melemaskan otot dasar panggul.
Sementara alatalat dilator vagina buatan Indonesia ini menawarkan pendekatan berbeda dengan menggunakan balon yang dapat dikembangkan secara bertahap. Alat ini dilengkapi pengukur tekanan sehingga proses pengembangan balon bisa dipantau secara latihan.
Dengan mekanisme tersebut, pengguna dapat mencatat perkembangan diameter balon yang dicapai di setiap sesi. Catatan tersebut dapat menjadi bahan evaluasi selama latihan dan konsultasi dengan tenaga kesehatan.
Divabirth merupakan produk yang dikembangkan sebagai produk dalam negeri. Produk tersebut menjadi alternatif dari penggunaan alat dilator vagina yang lebih terjangkau dibandingkan produk serupa lain yang diimpor dari luar negeri.
Meski demikian, Nurhadi menegaskan bahwa perbedaan mekanisme dan rancangan tersebut tidak serta-merta membuktikan bahwa alat Divabirth lebih efektif dibandingkan cara konvensional, seperti pijat perineum.
“Penelitian saya belum menghasilkan bukti perbandingan langsung yang mendukung kesimpulan tersebut. Hal yang dapat disampaikan saat ini yakni perbedaan pendekatan dan potensi kepraktisannya, bukan keunggulan hasil klinis,” tuturnya.
Nurhadi mengatakan, produk inovasi tersebut mulai dikembangkan dalam bentuk purwarupa pada Februari hingga Juni 2021. Selanjutnya pengembangan dilakukan bersama PT Swayasa Prakarsa dan PT Sugih Instrumendo Abadi untuk pemilihan bahan, penyempurnaan komponen, persiapan proses produksi, dan pengendalian mutu.
Alat tersebut kemudian diuji antara lain dengan uji visual, uji fisik, ketahanan komponen, dan uji endotoksin. Proses produksi mengacu pada cara pembuatan alat kesehatan yang baik sesuai standar dari Kementerian Kesehatan. Saat ini produk inovasi itu telah mendapat izin edar dengan nomor AKD 21102320002.
Produk inovasi itu bisa digunakan sejak usia kehamilan memasuki 35 minggu. Latihan dengan alat ini dilakukan sekitar 20 menit dalam satu sesi dengan frekuensi maksimal dua kali sehari.
Sebelum digunakan, pengguna perlu memastikan balin dalam keadaan kempis. Balon kemudian diberikan pelumas berbahan dasar air agar lebih mudah dimasukkan ke dalam vagina. Pelumas ini juga berguna untuk mengurangi risiko kerusakan pada komponen silikon.
Setelah balon dimasukkan ke dalam vagina, pengguna dapat melakukan kontraksi otot dasar panggul selama sekitar 10 detik. Selanjutnya, otot dilemaskan selama 10 detik untuk merasakan perubahan pada posisi balon.
Latihan ini dilakukan berulang dalam siklus lima menit. Pengguna juga dapat melakukan latihan mengejan secara bertahap saat balon dikembangkan. Proses ini menyerupai proses keluarnya kepala bayi saat persalinan.
Diameter balon saat dikembangkan bisa mencapai 8-10 sentimeter. Pada setiap proses, pengguna dianjurkan untuk mencatat diameter yang dicapai, frekuensi penggunaan, serta kesulitan dan keluhan selama latihan.
Nurhadi menyampaikan, prinsip penggunaannya adalah bertahap dan tetap nyaman. Balon dikembangkan secara perlahan, disertai latihan kontraksi dan relaksasi otot dasar panggul. Pengguna tidak diminta mengejar ukuran tertentu dengan mengabaikan rasa tidak nyaman.
“Sebelum memulai, ibu perlu berkonsultasi dengan dokter atau bidan untuk memastikan kondisi kehamilannya sesuai dan memperoleh penjelasan penggunaan yang benar,” katanya.
Ia menambahkan, tidak semua ibu hamil dianjurkan menggunakan Divabirth. Penggunaan butuh pemantauan lebih ketat pada ibu hamil yang mengalami alergi terhadap bahan alat.
Selain itu, perhatian dibutuhkan pada ibu yang mengalami plasenta previa atau letak plasenta yang menutupi jalan lahir, posisi janin bukan presentasi kepala, infeksi atau peradangan pada organ kelamin, serta luka maupun perdarahan pada vagina.
Pertimbangan pun perlu ditekankan pada ibu dengan sejumlah kondisi lain, seperti ketuban pecah dini, kehamilan kembar, kelainan panggul, serta riwayat operasi vagina atau perineum.
Kondisi tersebut belum diikutsertakan dalam penelitian. Penggunaan harus mempertimbangan kondisi ibu dan kehamilannya. Penilaian dari tenaga profesional mesti dilakukan terlebih dahulu sebelum menggunakan alat ini.
Nurhadi berharap penelitian lanjutan dapat menjawab berbagai pertanyaan yang belum terpecahkan. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menilai keamanan, kenyamanan, kemudahan penggunaan, serta manfaat klinis alat pada ibu hamil.
“Harapan saya, Divabirth dapat berkembang menjadi inovasi yang bukan hanya tersedia, tetapi juga memiliki bukti manfaat yang semakin kuat untuk mendukung kesehatan ibu,” kata Nurhadi.
Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam siaran pers menyebutkan, pencegahan komplikasi dan risiko persalinan harus diperkuat sebagai salah satu upaya untuk mengurangi angka kematian ibu di Indonesia. Pemerintah menargetkan penurunan AKI secara agresif mencapai 40 per 100.000 kelahiran hidup dalam lima tahun ke depan.
“ Kita tidak hanya menargetkan penurunan, tetapi penurunan yang agresif. Dari 140, dalam lima tahun ke depan kita harus bisa mencapai 40. Kita harus berani menetapkan target ambisius dan bekerja lebih keras, lebih cerdas, serta lebih tepat,” ujarnya.
Saat ini angka kematian ibu di Indonesia masih berada pada 140 per 100.000 kelahiran hidup, lebih tinggi dibandingkan Thailand dan Malaysia. Preeklamsia dan eklamsia menjadi penyebab kematian ibu terbesar kedua, dengan kontribusi sekitar 25 persen dari total kasus.





