HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR – Pameran bertajuk Architecture Blueprint Istana Kekaraengan Marusu digelar di Rumata’ Art Space, Kota Makassar, pada 5–7 November 2026. Pameran ini menjadi upaya memperkenalkan kembali jejak arsitektur Istana Balla Lompoa Karaeng Marusu sebagai warisan sejarah sekaligus identitas budaya masyarakat Marusu.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Dana Indonesiana yang diinisiasi Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Mengusung tema “Jejak Arsitektur Marusu: Ruang, Identitas, dan Memori Istana Raja”, pameran ini mengeksplorasi nilai historis dan arsitektural istana yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal raja, tetapi juga menjadi representasi kekuasaan, identitas budaya, dan kehidupan sosial masyarakat pada masanya.
Melalui dokumentasi visual, gambar arsitektur (blueprint), rekonstruksi, fotografi, dan interpretasi ruang, pengunjung diajak menelusuri perkembangan arsitektur Istana Karaeng Marusu dari masa lalu hingga konteks kekinian.
Pameran ini juga menghadirkan instalasi interior yang merekonstruksi salah satu ruang penting di dalam istana, yakni ruang Tomarilallang. Ruang tersebut memiliki nilai historis dan sakral karena menjadi tempat pertemuan raja dengan para petinggi istana untuk bermusyawarah serta menyelenggarakan berbagai kegiatan adat kerajaan.
Melalui instalasi tersebut, pengunjung dapat merasakan gambaran suasana interior istana sekaligus memahami fungsi, karakter, dan nilai filosofis ruang dalam kehidupan Kerajaan Marusu.
Selain pameran, rangkaian kegiatan juga diisi dialog budaya bertema “Relevansi Rumah Adat Bugis-Makassar di Zaman Now: Identitas Budaya atau Sekadar Artefak Kuno?”.
Dialog ini menjadi ruang diskusi untuk membahas keberadaan dan tantangan pelestarian rumah adat Bugis-Makassar, termasuk relevansinya dalam kehidupan masyarakat modern. Pembahasan diarahkan pada bagaimana arsitektur tradisional tetap dapat menjadi bagian dari identitas dan kehidupan budaya masyarakat, bukan sekadar peninggalan masa lalu.
Dua narasumber dihadirkan dalam dialog tersebut, yakni Hendri Saputra, S.T., M.T., Dosen Program Studi Desain Interior ISBI Sulawesi Selatan sekaligus Sekretaris Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII) Sulawesi Selatan, serta Dr. AS Zulkarnain, S.T., M.T., Dosen Arsitektur UIN Alauddin Makassar sekaligus Kabid Pengkajian dan Pelestarian Arsitektur IAI Sulawesi Selatan.
Diskusi dipandu Nurul Inayah, S.T., M.Ds., Dosen Program Studi Desain Interior ISBI Sulawesi Selatan.
Melalui pameran dan dialog budaya ini, warisan arsitektur Istana Karaeng Marusu diharapkan tidak berhenti sebagai peninggalan sejarah yang dikenang. Lebih dari itu, dokumentasi dan rekonstruksi arsitekturnya diharapkan menjadi sumber pengetahuan, inspirasi, serta penguatan identitas budaya yang dapat diwariskan kepada generasi mendatang. (*)





