PT Air Minum Jaya (PAM JAYA) menargetkan pelaksanaan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) pada 2027. Target tersebut tetap dipertahankan meski pasar modal Indonesia tengah mendapat sorotan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Direktur Utama PAM JAYA Arief Nasrudin mengatakan, perkembangan pasar saham tetap menjadi pertimbangan perusahaan, tetapi tidak mengubah rencana IPO yang telah disiapkan.
Sebagaimana diketahui, MSCI tengah menyoroti sejumlah persoalan di pasar modal Indonesia, terutama terkait transparansi struktur kepemilikan saham dan keakuratan data saham beredar di publik atau free float. MSCI juga mengusulkan reklasifikasi status pasar saham Indonesia dari kategori Emerging Market menjadi Standalone Market.
Menanggapi perkembangan tersebut, Arief menyebut PAM JAYA tetap memantau kondisi pasar modal sebagai bagian dari langkah mitigasi sebelum melaksanakan aksi korporasi.
"Enggak, kalau kita melihatnya secara global, ya. Saat ini kita enggak terlibat juga dalam konteks eh dampak atas eh MSCI gitu ya, tetapi ya sekali lagi MSCI dan apapun itu ada itu bagian dari capital market yang saat ini terjadi," kata Arief di Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, Minggu (8/11/2026).
Dia menambahkan, kondisi pasar modal tetap menjadi salah satu faktor yang harus diperhitungkan oleh perusahaan sebelum melakukan IPO. Evaluasi tersebut diperlukan agar pelaksanaan aksi korporasi dapat berjalan dengan mempertimbangkan risiko yang ada.
"Iya pastinya sama, karena memang apapun itu eh kita tetap harus melihat eh market, ya, capital market saat ini. Jadi bagian dari mitigasinya harus kita tetap lakukan. Apapun perusahaan memang mau IPO pasti dia akan melakukan untuk me-review itu," tuturnya.
Di sisi lain, Arief mengungkapkan bahwa persiapan IPO PAM JAYA saat ini telah mencapai 93%. Perusahaan masih menyelesaikan sejumlah persyaratan internal dan eksternal sebelum melanjutkan ke tahapan berikutnya.
Salah satu proses tersebut yaitu persetujuan DPRD DKI Jakarta. Arief menjelaskan, regulasi berupa peraturan daerah (Perda) yang menjadi landasan rencana IPO tersebut telah rampung serta menunggu persetujuan DPRD melalui rapat paripurna.
"Persiapan kami sudah mungkin kalau di-scoring-kan sudah angka 93%. Jadi saat ini kami memang masih terus eh ingin menyelesaikan beberapa hal internal dan eksternal, salah satunya adalah persetujuan dari DPRD Provinsi DKI Jakarta," ujarnya.
Setelah persetujuan DPRD diperoleh, PAM JAYA akan melanjutkan penyelesaian laporan keuangan tahun buku 2026 yang akan diaudit sebagai bagian dari persyaratan menuju IPO.
Baca Juga: Dirut PAM JAYA Soal Rencana IPO 2027: Persiapan Sudah 93 Persen
Baca Juga: Diteriaki Galian PAM JAYA Saat Lari, Begini Kata Pramono Anung
"Jadi kalau itu sudah kami dapatkan, kami tinggal menyelesaikan laporan audit, gitu ya, untuk buku kami di 2026 ini, setelahnya insyaallah semuanya sudah jalan," jelasnya.
Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan rencana IPO PAM JAYA dan Bank Jakarta tetap dilanjutkan meskipun kondisi pasar saham belum kondusif. Pemprov DKI memilih menunggu momentum yang tepat agar kedua badan usaha milik daerah (BUMD) tersebut dapat melantai di bursa.
Pramono juga memastikan Pemprov DKI Jakarta tetap menjadi pemegang saham mayoritas setelah kedua perusahaan tersebut melakukan IPO. Dengan demikian, keterlibatan investor publik nantinya tidak akan menghilangkan kendali pemerintah daerah terhadap kedua BUMD tersebut.





