Pasca Pelepasliaran, Merak Hijau Mulai Tunjukkan Geliat Adaptasi

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS - Pasca pelepasliaran, tujuh merak hijau (Pavo muticus) hasil konservasi Jagat Satwa Nusantara mulai beradaptasi dengan berbagai perilaku alami yang muncul di alam liar. Kendati demikian, pemantauan berkelanjutan terus dilakukan pada masing-masing individu guna memastikan keberhasilan adaptasi.

Peneliti ahli madya di Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sekaligus pakar Ornitologi, Tri Haryoko, menyampaikan, tak ada ketentuan pasti mengenai lama waktu merak untuk dapat beradaptasi secara penuh di alam liar. Kemampuan adaptasi setiap individu merak akan cenderung berbeda-beda.

”Jika pengenalan lingkungan alami terlalu singkat, proses adaptasinya akan lebih lama. Sebaliknya merak akan lebih cepat beradaptasi ketika kondisi habitat alami sudah lebih dulu dikenalkan,” ujarnya ketika diwawancarai dari Jakarta, pada Minggu (8/11/2026).

Baca JugaTekan Ancaman Kepunahan, 7 Merak Hijau Dikirim Ke Ujung Kulon

Selain itu, menurut Haryoko, terdapat dua tahap penting yang menandai keberhasilan adaptasi merak di habitat asli. Pertama, merak mampu bertahan hidup dengan cara aktif mencari pakan alami, mengenal dan menghindari predator.

Kedua, merak mampu berkembang biak secara alami di alam liar. Merak biasanya melakukan vokalisasi untuk saling menarik perhatian. ”Ketika merak sudah mampu mengundang lawan jenisnya dan berbaur dengan komunitas, itu berarti dia melalui satu tahap menuju reproduksi,” ucapnya.

Sebelumnya, pada Selasa (3/11/2026) pagi, di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, tujuh merak hijau hasil konservasi Jagat Satwa Nusantara (JSN) diberangkatkan menuju Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Banten. Kegiatan tersebut dilakukan untuk menghubungkan keberhasilan pengembangbiakan satwa di lembaga konservasi dengan upaya pelestarian dan peningkatan populasi di habitat aslinya.

Adapun tujuh ekor merak hijau tersebut terdiri dari dua ekor jantan dan lima ekor betina. Tujuh merak itu lahir dan dibesarkan oleh lembaga konservasi JSN dalam habitat buatan di Taman Burung, TMII. Saat sudah berusia 6-12 bulan, konservasi tujuh ekor merak berlanjut pada tahap pelepasliaran.

Baca JugaKonservasi Badak, Harapan dari Way Kambas hingga Ujung Kulon

Berdasarkan catatan pemantauan lembaga konservasi Jagat Satwa Nusantara (JSN), pada Kamis (5/11/2026), di Pulau Handaleum, Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Banten, ditemukan perkembangan perilaku alami dari merak hijau. Setelah dilepasliarkan, merak hijau memulai proses adaptasi dengan perubahan perilaku konsumsi.

Merak mulai mengonsumsi pucuk daun beringin sebagai pakan alami. Selain itu spesies tersebut mulai aktif mencari dan memakan semut hingga mengeluarkan suara atau bunyi khas untuk saling berkomunikasi.

Jika pengenalan lingkungan alami terlalu singkat, proses adaptasinya akan lebih lama. Sebaliknya merak akan lebih cepat beradaptasi ketika kondisi habitat alami sudah lebih dulu dikenalkan.

Tim pengamat lembaga konservasi JSN, melalui siaran pers tertulis, pada Jumat (6/11/2026), menyampaikan, pentingnya catatan awal itu pada mekanisme konservasi lanjutan. Berbagai perilaku alami yang ditunjukkan merak di fase awal akan menjadi catatan penting terkait respons satwa terhadap habitat alaminya.

Proses panjang

Pelepasliaran merak hijau dilakukan setelah melalui beberapa tahap persiapan seperti rehabilitasi dan habituasi. Menurut Direktur Operasional JSN Muhammad Fardhan Khan, rehabilitas ketat dilakukan selama satu bulan sebelum satwa diberangkatkan ke TNUK.

Proses rehabilitasi itu dilakukan dengan menempatkan merak hijau pada kondisi lingkungan minim interaksi dengan manusia. ”Ada satu zona dalam penangkaran kami yang jauh dari jangkauan manusia,” ujarnya ketika diwawancarai, pada Selasa (3/11/2026).

Pada zona itu, Fardhan menjelaskan ada beberapa satwa lain seperti biawak dan anak ular yang dapat menjadi predator bagi merak hijau. Namun keberadaan predator itu menjadi salah satu cara bagi timnya mengamati respons merak saat berhadapan dengan predator di alam liar.

”Perilaku yang tampak seperti ketika melihat biawak, mereka sudah langsung menjauh,” ucapnya.

Baca JugaDua Jam Bersama Banteng dan Merak di Sabana Sadengan

Setelah tahap rehabilitasi, merak hijau yang kini berada di Taman Nasional Ujung Kulon kemudian menjalankan tahap habituasi. Masa habituasi berlangsung selama tiga hari yang meliputi proses pengenalan kondisi lingkungan baru, vegetasi, sumber pakan alami, dan karakteristik habitat.

Keberlanjutan

Lembaga konservasi JSN, bermitra dengan sejumlah pihak, khususnya Balai Taman Nasional Ujung Kulon, berencana melaksanakan pemantauan berkelanjutan selama proses adaptasi merak hijau. Pemantauan terus dilakukan mulai dari kondisi fisik hingga perilaku merak.

” Keberhasilan adaptasi memerlukan pemantauan secara berkelanjutan terkait dengan perilaku, kemampuan memperoleh pakan, kondisi fisik, dan keberadaan masing-masing individu,” demikian keterangan tertulis tim JSN.

Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Wilayah I Balai Taman Nasional Ujung Kulon Dedi Juherdi menyampaikan pelepasliaran merak hijau tidak hanya berkontribusi pada peningkatan populasi.

Upaya tersebut diharapkan dapat menjadikan Pulau Handaleum sebagai lokasi wisata edukasi dan konservasi berbasis perlindungan satwa dan habitat. ”Harapannya satwa ini dapat beradaptasi dan berkembang biak secara alami di sini,” ujarnya.

Selain pemantauan, evaluasi terhadap tujuh merak hijau akan dilakukan. Langkah tersebut guna mengetahui perkembangan masing-masing satwa sekaligus menghasilkan data pendukung pengembangan program konservasi.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bawa Sangkur, 3 Begal Babak Belur Diamuk Massa di Depok
• 8 jam laludetik.com
thumb
Profil Widi Prasetijono Eks Ajudan Jokowi, Dituntut 10 Tahun Penjara Dugaan Korupsi Lahan
• 3 jam laludisway.id
thumb
Inovasi untuk Melatih Otot Panggul Ibu Hamil dalam Mempersiapkan Persalinan
• 6 jam lalukompas.id
thumb
Bayan Resources Pastikan Penjualan Saham ke Haji Isam Tanpa Tekanan
• 8 jam lalutvonenews.com
thumb
Aksi Rakyat Bela Indonesia, Jimly Ajak Masjid Berani Jadi Suara Penyeimbang Kekuasaan
• 9 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.