JAKARTA — Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte menyentil negara-negara Eropa yang mengecam kesepakatan perdagangan bahan bakar solar antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin. Rutte mengingatkan bahwa Eropa sendiri masih mengeluarkan miliaran euro untuk membeli gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) dari Rusia, meskipun negara-negara Barat terus berupaya membatasi pendapatan Moskow akibat perang di Ukraina.
Rutte menyinggung pembelian LNG Rusia oleh Eropa yang mencapai sekitar €6 miliar (Rp121,58 triliun) selama enam bulan pertama 2026. Angka tersebut sejalan dengan laporan organisasi lingkungan Urgewald yang memperkirakan nilai impor LNG dari proyek Yamal Rusia oleh Uni Eropa mencapai €5,96 miliar (Rp120,77 triliun) sepanjang Januari hingga Juni 2026. Menurut Rutte, nilai perdagangan energi tersebut jauh lebih besar dibandingkan potensi pendapatan Rusia dari kesepakatan solar yang diumumkan Trump dan Putin pada Oktober lalu.
Baca Juga
Bukan Cuma S-400, Rusia Dikabarkan akan Pasok 90 Peluncur Rudal ke Iran
Iran Minta S-400 ke Putin, Rudal Rusia Jadi Momok Jet Siluman F-35 Amerika?
Penghijauan di Belanda Ubah Ubin Beton Jadi Tanaman
Dalam wawancara program televisi Belanda Pauw & De Wit, Kamis (5/11/2026), Rutte mengakui bahwa kesepakatan perdagangan solar antara Washington dan Moskow sempat menimbulkan kepanikan di kalangan sejumlah sekutu Eropa. Mantan perdana menteri Belanda itu bahkan mengaku dirinya sendiri sempat terkejut ketika mengetahui pengumuman kerja sama energi kedua negara.
"Saya juga sempat mengangkat alis," ujar Rutte, sebagaimana dilaporkan Bloomberg dan Brussels Signal, Jumat (6/11/2026).
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Namun, Rutte mengingatkan bahwa negara-negara Eropa masih menjalankan hubungan perdagangan energi dengan Rusia. Ia menilai kritik terhadap Washington perlu disertai pengakuan bahwa Eropa sendiri belum sepenuhnya menghentikan pembelian energi dari Moskow.
"Eropa juga bukan pihak yang suci," kata Rutte.
Pernyataan tersebut menjadi sorotan ketika realisasi kesepakatan Trump-Putin justru menghadapi hambatan hukum dan perdagangan. Associated Press melaporkan pada Kamis (5/11/2026) bahwa dua kapal tanker yang sebelumnya mencantumkan pelabuhan Amerika Serikat sebagai tujuan telah mengubah arah pelayaran. Hingga laporan terbaru Al Jazeera pada Sabtu (7/11/2026), belum ada pengiriman solar Rusia berdasarkan kesepakatan baru tersebut yang terkonfirmasi tiba di Amerika.
Eropa Habiskan Lebih dari Rp120 Triliun untuk Gas Rusia
Besarnya pembelian LNG Rusia yang disinggung Rutte didukung laporan organisasi lingkungan asal Jerman, Urgewald, yang diterbitkan pada 13 Juli 2026. Berdasarkan analisis data pengiriman komoditas dari perusahaan intelijen pasar Kpler, negara-negara Uni Eropa menerima LNG dari proyek Yamal di kawasan Arktik Rusia dengan estimasi nilai perdagangan €5,96 miliar atau setara Rp120,77 triliun selama enam bulan pertama 2026.
Angka tersebut merupakan perkiraan nilai bruto perdagangan berdasarkan data pengiriman dan harga pasar, bukan laporan pembayaran final yang telah diaudit terhadap setiap perusahaan. Urgewald mencatat sebanyak 136 pengiriman LNG dari Yamal tiba di pelabuhan-pelabuhan Uni Eropa sepanjang Januari hingga Juni 2026. Total volumenya mencapai 9,97 juta ton, meningkat sekitar 16 persen dibandingkan 8,57 juta ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Selama periode tersebut, Uni Eropa menerima lebih dari 97 persen dari total 140 pengiriman LNG proyek Yamal yang tercatat secara global. Sebaliknya, China hanya menerima empat pengiriman dengan volume sekitar 282 ribu ton. Data itu memperlihatkan bahwa pasar Eropa masih memiliki peranan besar dalam kelangsungan perdagangan LNG Rusia.
Prancis menjadi salah satu tujuan utama dengan 51 pengiriman LNG atau sekitar 3,74 juta ton. Belgia menerima 37 pengiriman dengan volume sekitar 2,70 juta ton, sedangkan Spanyol memperoleh 34 pengiriman atau sekitar 2,50 juta ton. Belanda dan Portugal juga tercatat sebagai negara penerima LNG dari proyek Yamal.
Data yang lebih mutakhir memperlihatkan bahwa nilai pembelian tersebut terus meningkat. Euronews pada 9 Oktober 2026 melaporkan perkiraan nilai impor LNG Uni Eropa dari proyek Yamal telah mencapai €7,88 miliar (Rp159,68 triliun) selama sembilan bulan pertama 2026.
Laporan yang mengutip data Urgewald tersebut mencatat sekitar 12,18 juta ton LNG Rusia telah tiba di pelabuhan-pelabuhan Eropa sepanjang Januari hingga September 2026. Volume itu meningkat sekitar 9,5 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa impor LNG Rusia oleh negara-negara Uni Eropa masih berlangsung dalam jumlah besar menjelang penerapan larangan menyeluruh pada 2027.
Dengan demikian, angka €6 miliar yang disinggung Rutte merupakan pembulatan nilai pembelian pada semester pertama 2026. Estimasi terbaru hingga September menunjukkan nilai perdagangan yang lebih besar. Namun, seluruh angka tersebut tidak dapat langsung disamakan dengan dana yang masuk ke anggaran militer Rusia karena nilai perdagangan bruto juga mencakup biaya produksi, distribusi, dan kegiatan komersial lainnya.