HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Persoalan kartu merah yang diterima bek PSM Makassar, Mufli Hidayat, saat menghadapi Borneo FC berbuntut panjang.
Insiden yang terjadi pada pekan kesembilan Super League 2026/2027, Sabtu (7/11/2026), kini diwarnai saling klarifikasi antara Mufli dan pemain Borneo FC, Hugo Samir.
Mufli sebelumnya mengungkapkan bahwa dirinya melakukan tindakan tersebut setelah mendapat dugaan hinaan verbal yang menyerang keluarganya, termasuk menyinggung almarhum ayahnya.
Namun, Hugo Samir juga memberikan respons terkait insiden tersebut. Pemain berusia 21 tahun itu mengaku mengalami tandukan dan merasa menjadi sasaran berbagai serangan setelah kejadian di lapangan.
“Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Semalam saya mengalami tandukan dan hinaan, lalu sekarang saya menjadi sasaran berbagai serangan. Padahal, pemain yang bersangkutan juga mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di lapangan,” kata Hugo, sebagaimana dikutip dari CNN, Minggu (8/11/2026).
Hugo mengaku ingin tetap fokus menjalani karier sepak bolanya. Ia tidak ingin persoalan di luar lapangan mengganggu upayanya untuk berkembang sebagai pemain profesional.
“Saya mengakui bahwa saya memiliki masa lalu yang berat. Namun, sejak dua tahun lalu, saya hanya ingin fokus memperbaiki diri, berkembang, dan kembali menikmati bermain sepak bola,” ujarnya.
Ia juga menyinggung komentar-komentar yang menyerang dirinya, termasuk persoalan warna kulit dan statusnya sebagai anak mantan pelatih Timnas Indonesia, Jacksen F Tiago.
“Apa pun sebutan yang ditujukan kepada saya, termasuk soal warna kulit atau status saya sebagai anak Coach Jacksen, saya tidak ingin terpancing lagi. Saya hanya ingin bermain bola dan kembali mengejar cita-cita saya,” tambahnya.
Hugo memilih tidak memperpanjang persoalan tersebut. Ia mengaku mendapat nasihat dari kedua orang tuanya agar tetap tenang dan tidak terpancing membalas serangan.
“Biarlah kebenaran terungkap pada waktunya. Saya memilih untuk tidak berkomentar lebih jauh atau membalas serangan yang ditujukan kepada saya. Papa dan Mama menyarankan saya untuk tetap tenang, menjaga sikap, dan menyerahkan semuanya kepada Allah SWT. Terima kasih sudah mendengarkan saya,” ucapnya.
Klarifikasi Mufli Hidayat
Sebelumnya, Mufli Hidayat menyampaikan permohonan maaf kepada tim dan seluruh pendukung PSM Makassar atas kartu merah yang diterimanya.
Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, @yayat7jr, pemain asal Bone tersebut menjelaskan alasan dirinya kehilangan kendali hingga menanduk Hugo Samir.
Mufli mengaku mendapat hinaan verbal yang menyerang kehormatan keluarganya. Bahkan, ucapan yang diterimanya disebut turut menyinggung almarhum sang ayah.
“Saya mendapat hinaan verbal (verbal abuse) yang menyerang nama baik keluarga saya, dengan menyinggung almarhum bapak saya dengan kata-kata yang sangat tidak pantas,” ungkapnya.
Menurut Mufli, tindakan tersebut sudah melewati batas provokasi yang lazim terjadi dalam pertandingan sepak bola.
“Bagi saya, itu bukan lagi sekadar psywar atau provokasi dalam sepak bola. Tapi merupakan bentuk pelecehan terhadap keluarga dan melewati batas rasa hormat sebagai manusia dan pemain sepak bola profesional,” jelasnya.
Ia juga berharap penghinaan terhadap keluarga, terlebih kepada orang tua yang telah meninggal dunia, tidak dianggap sebagai hal lumrah dalam sepak bola.
“Sepak bola boleh keras, persaingan boleh panas, tetapi rasa hormat dan respek tetap harus dijaga dan dijunjung tinggi,” tutupnya.
Kronologi Kartu Merah Mufli Hidayat
Insiden tersebut terjadi ketika PSM Makassar bertandang ke markas Borneo FC di Stadion Segiri, Samarinda, Kalimantan Timur, pada pekan kesembilan Super League 2026/2027.
Mufli harus meninggalkan lapangan setelah wasit M Erfan Effendi mengeluarkan kartu merah pada menit ke-66.
Keputusan tersebut diambil setelah Mufli terlibat insiden dengan Hugo Samir. Dalam kejadian itu, Mufli terlihat menanduk pemain Borneo FC tersebut.
Wasit kemudian meninjau tayangan Video Assistant Referee (VAR) sebelum memastikan hukuman kartu merah.
Setelah diusir dari lapangan, Mufli tampak emosional di pinggir lapangan hingga harus ditenangkan sejumlah ofisial PSM Makassar.
General Manager PSM Makassar, Muhammad Nur Fajrin, juga terlihat berusaha menenangkan pemain kelahiran Bone tersebut.
Persoalan ini kemudian menjadi perhatian setelah Mufli mengungkapkan dugaan penghinaan terhadap keluarganya. Sementara itu, Hugo menyampaikan bahwa dirinya juga mengalami hinaan dan serangan setelah insiden tersebut.
Kedua pemain kini telah menyampaikan versi masing-masing. Namun, kronologi lengkap mengenai ucapan yang dipersoalkan dan pemicu insiden tersebut masih memerlukan klarifikasi lebih lanjut dari pihak-pihak terkait.





