Pertemuan antara Paus Leo XIV dan musisi legendaris Bob Dylan menjadi perhatian publik. Keduanya bertemu dalam sebuah kesempatan yang mempertemukan dua sosok dari dunia berbeda, yakni pemimpin Gereja Katolik dan penyanyi sekaligus penulis lagu berpengaruh asal Amerika Serikat.
Pertemuan tersebut tidak hanya menarik karena mempertemukan dua tokoh ternama, tetapi juga karena musik dan spiritualitas memiliki keterkaitan dalam menyampaikan pesan kemanusiaan. Bob Dylan selama ini dikenal melalui karya-karyanya yang kerap mengangkat persoalan sosial, keadilan, kebebasan, dan perdamaian.
Pertemuan tersebut berlangsung di Istana Apostolik Vatikan pada Rabu (4/11/2026). Dalam pertemuan singkat itu, Paus Leo XIV memberikan sebuah rosario kepada Dylan. Sebagai balasan, musisi berusia 85 tahun tersebut menghadiahkan buku autobiografinya berjudul Chronicles: Volume One kepada Paus.
Dylan hadir mengenakan jaket hitam dan penutup kepala berwarna hitam. Ia didampingi dua pejabat Vatikan, yakni Pastor Antonio Spadaro dan Andrea Monda, editor surat kabar Vatikan, L'Osservatore Romano.
Pertemuan ini memiliki latar belakang menarik karena Paus Leo XIV sebelumnya pernah mengutip karya Bob Dylan dalam sebuah buku yang diterbitkan pada Juli 2026. Buku berjudul Disarmed and Disarming: Peace Is a Gift tersebut membahas pentingnya perdamaian dan penolakan terhadap perlombaan senjata.
Lagu yang dikutip Paus berjudul Go Away You Bomb, sebuah karya protes yang ditulis Dylan pada 1963 ketika Perang Dingin berlangsung. Lagu tersebut berisi kritik terhadap ancaman senjata nuklir dan bahaya yang ditimbulkan oleh perlombaan persenjataan. Menariknya, lagu itu tidak pernah direkam atau dirilis secara resmi dalam album Dylan. Naskah aslinya baru ditemukan pada 2013.
Baca Juga: Paus Leo XIV Cetak Sejarah, Jadi Paus Pertama yang Ikut Memilih dalam Pemilu Amerika Serikat
Pertemuan dengan Paus Leo XIV bukan pengalaman pertama Bob Dylan berhadapan langsung dengan pemimpin Gereja Katolik. Pada 1997, ia pernah tampil di hadapan Paus Yohanes Paulus II dalam Kongres Ekaristi Nasional ke-23 di Bologna, Italia.
Dalam kesempatan tersebut, Dylan membawakan tiga lagu populernya, termasuk Blowin' in the Wind dan Knockin' on Heaven's Door. Penampilannya disaksikan sekitar 300.000 orang, sebagian besar merupakan kaum muda.
Paus Yohanes Paulus II bahkan mengutip lirik Blowin' in the Wind dalam pidatonya. Ia kemudian memberikan interpretasi religius terhadap pertanyaan dalam lagu tersebut dengan menyampaikan bahwa jalan kehidupan manusia adalah jalan Yesus Kristus.
Bob Dylan sendiri merupakan salah satu musisi paling berpengaruh di dunia. Ia dikenal melalui lagu-lagu yang mengangkat isu sosial, hak asasi manusia, perang, dan perdamaian. Pada 2016, Dylan menerima Hadiah Nobel Sastra atas kontribusinya dalam menciptakan ekspresi puitis baru melalui tradisi lagu Amerika.
Selain dikenal sebagai musisi, Dylan juga memiliki perjalanan spiritual yang menarik. Ia dibesarkan dalam keluarga Yahudi dan kemudian mengalami perubahan keyakinan pada akhir 1970-an. Pada periode tersebut, ia merilis sejumlah album yang banyak memuat tema keagamaan dan spiritualitas.
Pertemuan dengan Paus Leo XIV kembali memperlihatkan hubungan antara musik, iman, dan pesan perdamaian. Keduanya memiliki latar belakang berbeda, tetapi dipertemukan oleh perhatian terhadap nilai kemanusiaan dan kritik terhadap ancaman perang serta senjata nuklir.





